Fikih Qurban

 

Oleh: Dr Ilham Kadir, MA.*

Qurban merupakan salah satu jenis ibadah yang belum dipahami secara komprehensif sebagian besar masyarakat muslim Indonesia. Sebagaimana judulnya, tulisan singkat  ini akan memberikan pemahaman yang utuh terkait makna qurban secara bahasa dan istilah, tata cara berqurban sebagaimana dicontohkan Rasulullah,  hukum qurban, bacaan yang dibaca ketika menyembelih, waktu berqurban, jenis hewan yang bisa dan layak diqurbankan, dan hikmah di balik syariat qurban.

Secara etimologi, kata 'qurban' berakar dari kata, 'qaruba-yaqrubu-qurbanan' yang bermakna, hampir, dekat atau mendekat. Kata lain yang semakna dengan qurban adalah dlahiyah atau udlhiyah yang berarti hewan qurban. Ada pula kata, nahr atau an-nahr yang memiliki makna menyembelih hewan qurban, dan terakhir adalah kata al-budn, atau hewan yang telah sampai umurnya untuk diqurbankan. 

Dikatakan hari raya qurban, idul adha, yaumun-nahr, karena pada hari itu umat Islam menyembelih hewan qurban. Inilah yang dijelaskan secara istilah menurut Sayid Sabiq dalam "Fiqhus Sunnah" bahwa "Al-Udlhiyah adalah nama binatang yang disembelih baik unta, sapi, kambing pada hari ke-10 bulan Dzulhijjah dan hari-hari tasyriq yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah, (Fiqhussunnah, II/197).  Menurut MT PPM yang merujuk kepada pendapat Wahbah Zuhaily dalam Al-Fiqhul Islamy wa Adillatuhu, Qurban adalah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah dalam waktu tertentu pula, atau hewan yang disembelih untuk mendekatkan diri pada Allah pada hari nahr, (MT TPM, Tuntunan Idain dan Qurban, 2021).

Secara hukum, para ulama berbeda pendapat, apakah ibadah qurban wajib atau sunnah muakkadah (yang sangat dianjurkan). Terlepas dari kedua pendapat tersebut, yang pasti bahwa ibadah qurban diperintahkan dalam al-Qur'an. "Inna a'thaenaka al-kautsar, fashalli lirabbika wan-har. Sesungguhnya kami telah memberimu nikmat yang banyak, maka shalatlah kepada Rabbmu, dan berqurbanlah! (QS. Al-Kautsar: 1-2). Ayat ini diperkuat dengan hadis yang bersumber dari Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Ibn Madjah, "Man Wajada sa'ah walam yudhahi fala yaqrabanna mushallaana. Siapa yang mampu berqurban lalu ia tidak menunaikan, maka jangan sekali-kali mendekati masjid kami!".  

Muhammad Ibn Ismail Al-Kahlany dalam kitab "Subulussam" yang merupakan syarah dari kitab "Bulughul-Maram", menerangkan hadis perintah berqurban di atas, katanya, "Ulama telah berdalil dari hadis ini untuk menentukan hukum wajib berqurban bagi yang mampu, karena Rasulullah melarang mendekati tempat shalatnya menunjukkan bahwa yang tidak berqurban padahal ia mampu melakukan  telah meninggalkan kewajiban. Seakan-akan Rasulullah bersabda, 'Tidaklah berfaedah shalat yang dilakukan, karena meninggalkan kewajiban berqurban!'. Dan hadis Nabi, Wajib bagi penghuni rumah berqurban dalam setiap tahun'."

Imam Malik, Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa hukum berqurban adalah sunnah muakkadah (ditekankan),  berdasarkan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, "Apabila telah masuk hari ke-10 di Bulan Dzul Hijjah,  dan salah seorang dari kalian ingin berqurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya".

Karena setiap ibadah mengandung hikmah, maka hikmah disyariatkannya berqurban antara lain: Sebagai ungkapan syukur kepada Allah yang telah memberikan ni’mat yang banyak kepada kita;  Bagi orang yang beriman dapat mengambil pelajaran dari keluarga nabi Ibrahim atas kesabaran nabi Ibrahim dan putranya Ismail ketika keduanya menjalankan perintah Allah. Mereka berdua lebih mengutamakan ketaatan kepada Allah dan mencintai-Nya dari mencintai dirinya dan anaknya; Sebagai realisasi ketaqwaan seseorang kepada Allah dengan pembuktian nyata, sebab qurban yang menjadi bagian dari ibadah sedekah adalah bukti nyata sebuah ketulusan dan keikhlasan.

Bahkan Nabi sendiri menyampaikan lewat lisannya tentang keutamaan dan hikmah berqurban, sabdanya, "Tidak ada amalan yang dilakukan oleh manusia pada hari penyembelihan [Idul Adha] yang lebih dicintai oleh Allah selain daripada mengucurkan darah hewan qurban karena sesungguhnya, hewan qurban itu  akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi. Maka, bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban!” (HR. At-Tirmidzi). 

Hadis ini sesuai dengan hadis yang melarang bagi yang ingin berqurban supaya tidak memotong rambut dan kuku, sebab hal-hal yang tidak bermanfaat dari hewan qurban berupa tanduk, bulu dan kuku di hari kiamat datang sebagai saksi, demikian pula pequrban yang dilarang memotong bulu atau rambut dan kukunya karena kelak di kemudian hari akan datang sebagai saksi. Sebab, kala itu, yang berbicara bukan lagi lisan melainkan para angggota badan, dan inilah hikmah larangan memotong kuku dan rambut bagi para pequrban.

Ada pun jenis hewan qurban, jika merujuk pada dalil dan ketentuan hanya ada tiga jenis hewan yakni: unta, sapi, dan kambing. Namun, kerbau bisa diqiyaskan dengan sapi, domba dan biri-biri diqiyaskan dengan kambing. Maka tidak sah qurban dengan kuda, rusa dan unggas.  Di antara dalil berqurban dengan kambing, Dari Anas bin Malik bahwa Nabi berqurban dengan dua ekor kambing kibas putih dan bertanduk [kaana yudhahhi bikabsyaeni amlahaeni, aqranaeni]. Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa ketika menyembelih Nabi membaca, "Bismillah wallahu akbar!". Dalil lain terkait disyariatkannya berqurban dengan unta dan sapi, bersumber dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, "Pada perjanjian Hudaibiyah kami bersama Nabi menyembelih seekor unta untuk tujuh orang, dan seekor sapi untuk tujuh orang, (HR. Muslim). Syekh Utsaimin ketika menerangkan hadis ini dalam kitab "Bulughul-Maram" berkata, "Hadis ini membolehkan patungan untuk berqurban, dengan batasan seekor sapi atau unta untuk masing-masing tujuh orang, dan pahala tidak dilihat dari besarnya hewan qurban". Sebagai keterangan tambahan, seorang kepala keluarga dapat mewakili diri dan keluarganya.

Sedangkan kondisi hewan yang diqurbankan harus terhindar dari cacat. Berdasarkan sabda Nabi, Empat hal yang tidak boleh dijadikan sembelihan qurban, buta yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya, dan tua [kurus] yang tidak memiliki sumsum pada tulannya, (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam Empat). Syaikh Al-Bassam menerangkan hadis ini, bahwa keempat ciri hewan di atas tidak sah dijadikan qurban, namun cacat-cacat selain itu, Rasulullah tidak menyebutnya. Hewan juling yang jelas sekali julingnya, maksudnya, yang matanya menjorok ke dalam. Jika matanya masih ada maka sah dijadikan hewan qurban meski tidak bisa melihat, jika juling saja yang jelas sekali julingnya tidak sah berarti yang buta lebih tidak sah. Juga tidak sah qurban dari hewan kurus yang tidak punya sumsum.

Karena setiap ibadah terikat dengan waktu, maka demikian pula syariat qurban telah ditetapkan waktunya yaitu sejak turunnya khatib Idul Adha dari mimbar yang disebut "yaumun-nahr" hingga tiga hari sesudahnya yang disebut "yaumut-tasyriq" atau hari tasyriq, jadi ada empat hari waktu untuk berqurban. 

Ada pun bacaan sebelum menyembelih hewan qurban adalah, Bismillahi allahumma taqabbal min [lalu membaca nama-nama pequrban]. Bisa juga membaca, Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma taqabbal min shabil qurban. Lalu menyembelih dengan pisau yang tajam. Sebagai catatan, tidak ada nash atau dalil yang memerintahkan bahwa hewan harus menghadap kiblat, ini hanya kebiasaan yang terpuji, namun tidak boleh menyeret-nyeret hewan yang telah diikat hanya karena harus menghadap kiblat sebelum disembelih.

Ada pun pembagian daging qurban harus diprioritaskan golongan kurang mampu. Dari Ali Bin Abi Thalib, berkata, Rasulullah menyuruhku mengurus qurbannya, agar aku membagikan dagingnya, kulitnya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak boleh memberi sedikitpun dari hewan qurban itu kepada penyembelihnya sebagai upah, (HR. Bukhari-Muslim). Pequrban boleh makan, menyimpan dan membagikan kepada siapa yang dikehendaki, dan diutamakan golongan fakir dan miskin. Dan pekerja dan penyembelih tidak boleh mengambil bagian dari hewan qurban sebagai upah, kecuali jika diberikan oleh pequrban sebagai hadiah.

Terakhir, perlu dipahami bahwa qurban adalah bagian dari infak dan atau sedekah, hanya saja diikat dengan syarat-syarat khusus sebagai bagian dari ujian Allah kepada hamba-Nya. Sahnya ibadah qurban sangat tergantung dari niat ikhlas serta mengikuti ketentuan syariat. Wallahu A'lam! 

 

Enrekang, 14 Juli 2021.

*Pimpinan BAZNAS Enrekang Priode 2021-2026.

~Dimuat Tribun Timur, 16 Juli 2021~

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Gurutta, Anreguru, Panrita