Pemimpin Harus Membaca

 

 

Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA., Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kab. Enrekang.

 

Berdasarkan riset dari World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity (2016), Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Dalam situs Kementrian Informasi dan Komunikasi (Kemenkominfo) memaparkan riset UNESCO yang menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Kita mulai dengan meneropong prosentase masyarakat muslim di Indonesia yang secara populasi berada di atas 80 persen. Itu artinya, yang malas membaca adalah umat Islam Indonesia. Uraian ini penting, sebab membaca dalam ajaran agama Islam merupakan bagian dari syariat yang berdimensi teologis. Tidak ada agama yang ada atau pernah ada di bumi ini yang dorongan untuk membaca begitu penting melebihi Islam. Bahkan wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad adalah perintah membaca. Surah al-'alaq [96], yang memerintahkan Nabi Muhammad dan umatnya untuk membaca sangat terang benderang dan tidak butuh interpretasi. Iqra' atau Bacalah! Demikian bunyi ayat pertama Surah Al-'Alaq sekaligus sebagai wahyu perdana dalam al-Qur'an.

Walaupun pada tahap selanjutnya dapat dikaji bahwa membaca bisa bertingkat-tingkat, sesuai tahapan dan kondisi siapa membaca dan apa yang dibaca. Bagi anak-anak pemula tentu yang dibaca adalah abjad selevel buku "iqra'", untuk tingkat selanjutnya, anak-anak membaca buku-buku sederhana seperti buku cerita, dan berbagai materi pelajaran yang telah ditentukan sekolah dan akan diadakan ujian pada waktu-waktu tertentu untuk menilai sejauh mana pemahaman dari bahan bacaan yang telah dibaca oleh para murid.

Pada level tertentu, biasa kita sebut tingkatan mahasiswa, maka para pelajar sudah diajari membaca dengan kritis dan membutuhkan analisis, bukan saja membaca dan memahami tapi sudah diharuskan mengkaji lebih jauh, bahkan menyanggah tulisan-tulisan jika ada pendapat yang tidak tepat, atau mengapresiasi jika dinilai sebuah tulisan atau buku memberikan manfaat. Proses membaca, menganalisa, dan mengkaji sebuah tulisan disebut sebagai penelitian. Kata penelitian sendiri berasal dari akar 'teliti' artinya, para peneliti adalah golongan yang membaca, menganalisa, dan mengkaji tulisan dengan sangat teliti.

Pembaca sekaligus peneliti inilah yang mendapatkan predikat sebagai intelektual, dan pada tahap tertentu, dalam Islam jika mereka telah memenuhi syarat-syarat tertentu para peneliti akan dimasukkan dalam golongan ulama. Pada level ulama, ilmu yang didapat dari membaca, lalu dianalisa, dan diteliti hasilnya akan dinikmati oleh umat. Maka, makin bagus referensi dan kajian ulamanya, materi yang disajikan tentu makin berkualitas pula pengetahuan umat Islam.

Dalam dunia akademis juga demikian. Hasil penelitian yang berkualitas dapat menjadi referensi pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang hasil dari kebijakan tersebut manfaatnya juga akan kembali kepada masyarakat. Artinya, budaya ilmu yang didahului dengan membaca semacam lingkaran, makin berkualitas bahan bacaan makin berkulitas pula para pembaca, lalu hasil bacaan itu akan melahirkan manfaat kepada masyarakat sendiri.

Di sinilah pentingnya pemimpin yang memiliki budaya baca. Sebab pemimpin yang rajin membaca akan memiliki banyak referensi dalam memilih, memilah, dan menentukan kebijakan. Dan pemimpin yang malas membaca hanya melahirkan keraguan dan kebingungan sebab akan bersandar pada pendapat orang lain yang sering kali bersifat pragmatis.

Dalam buku klasik "Taj al-Salatin" karya ini sudah ditulis sejak tahun 1603 M. Mengandung 24 fasal. Pada fasal kelima terlihat penekanan pengetahuan bagi seorang pemimpin. Bahwa syarat pertama seorang pemimpin adalah akil baligh atau mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, yang hak dan batil. Syarat selanjutnya, seorang pemimpin harus berilmu, jika tidak, maka ia harus bersahabat dengan orang-orang yang berilmu. Jika tidak memiliki sahabat yang berilmu, maka seorang pemimpin harus membaca karya-karya para ilmuan, namun jika tidak mampu membaca atau tidak sempat membaca maka harus menyediakan ajudan atau pengawal yang membacakan buku-buku para ulama atau ilmuan. Terlihat jelas, bahwa pemimpin harus berilmu dan tidak boleh tenggelam dalam kebodohan, (Wan Daud, Budaya Ilmu dan Gagasan 1Malaysia: Membina Negara Maju dan Bahagia, BTN Jabatan Perdana Menteri, Kualalumpur, 2011:41).

Tentang pentingnya ilmu bagi pemimpin dapat dilihat dari salah satu hadis Nabi.  "Ada tiga jenis qadhi: pertama, orang yang mengetahui kebenaran lalu memutuskan perkara dengan benar, maka ia masuk surga. Kedua, orang yang mengetahui kebenaran, tapi tidak memutuskan perkara dengan benar, maka ia masuk neraka. Ketiga, orang yang tidak mengetahui kebenaran, lalu menghukum dengan tanpa ilmu, maka ia masuk neraka,". (Diriwayatkan, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah).

Memang, hadis di atas menyebut "al-qadhi" yang biasa diterjemahkan dengan penegak hukum lebih khusus jaksa, pengacara, atau pengadilan. Hadis ini juga sangat relevan ditujukan kepada para wakil rakyat yang duduk di Kantor DPR RI Senayang hingga DPR tingkat daerah. Mereka harus menjadi contoh kongkrit dalam menghidupkan budaya ilmu lewat membaca. Sebab, mereka adalah pembuat undang-undang, dan tidak mungkin sebuah undang-undang berkualitas bisa terwujud jika para legislatornya malas membaca, tidak tau mengkaji, dan tidak paham menganalisa permasalahan di tengah masyarakat. Mereka harus membaca buku-buku bermutu dari hasil penelitian para ilmuan lalu membaca secara kontekstual keadaan masyarakat. Dari sana, muncul rumusan masalah masyarakat, lalu diperuncing dengan pembatasan masalah, dan pada akhirnya mengurai masalah yang ada di tengah masyarakat untuk dipecahkan lewat peraturan. Jika para wakil rakyat berpikir sistematis dalam menyelesaikan masalah rakyat dan berkolaborasi dengan eksekutif dan yudikatif dalam membangun bangsa berdasar pada ilmu pengetahuan yang bersumber dari bacaan berkualitas, saya yakin, bangsa ini akan jauh lebih hebat.

Jelas bahwa tujuan hadis di atas ditujukan kepada para pemimpin secara umum sebagaimana yang ditegaskan oleh Nuruddin Ar-Raniri (wafat 1658 M) dalam kitabnya, "Bustan As-Salathin". Bahwa tidak boleh menjadi pemimpin bodoh karena akan berakibat buruk bukan saja pada dirinya sendiri tapi juga sangat merugikan orang lain terutama rakyat. Pemimpin bodoh sangat mungkin menjerumuskan rakyat ke jurang kebinasaan. Celaka dunia akhirat. Jika saja pemimpinnya tidak mau membaca, maka sudah waktunya dibacakan talqin.

Minat baca juga menjadi tolok ukur penyebaran hoaks di era informasi ini. Faktanya, menurut Kemkominfo, ada 1.387 hoaks beredar sejak masa pandemi bermula 2019. Ini pasti berhubungan dengan minat baca yang rendah, analisis dan kajian minim, dan sangat tidak teliti dalam mengakses dan mengolah informasi, yang pada akhirnya menjadi ladang penyebaran hoaks. Mereka ini sesungguhnya yang disebut sumbu pendek, cerewet di medsos tapi yang dibahas hal-hal yang remeh-temeh alias tidak bermanfaat. Indonesia mengutus dua kota paling cerewet di dunia (twitter), Jakarta dan Bandung, namun tidak memberikan manfaat pada dunia sebab obrolannya tidak dilandasi dengan ilmu pengetahuan berbasis bacaan, kajian, analisis, dan penelitian. Semuanya hanya bersifat praduga dan sangkaan.

Solusi jitunya, para pemimpin dan segenap pemangku kebijakan harus turun tangan, bersama masyarakat, saling menyadarkan satu sama lain untuk menghidupkan budaya baca, menganalisa, mengkaji dengan teliti pada sumber bacaan. Apa yang kita baca hari ini, akan berpengaruh dengan karya kita hari esok. Negara-negara yang menjadi penguasa dunia hari ini adalah hasil dari litetrasi puluhan tahun lalu. Siapa membaca ia akan mengetahui, siapa menulis namanya akan abadi, demikian kata pepatah Jerman.  Wallahu A'lam!

 

Enrekang, 17 Juni 2021. Dimuat TRIBUN TIMUR, 18 Juni 2021.

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Gurutta, Anreguru, Panrita