Infak dan Teori Butterfly Effect

 

Oleh: Dr Ilham Kadir, MA.*

Tersebutlah seorang meteorolog bernama Edward N Lorenz (1917-2008) yang pada ada tanggal 29 Desember 1972 berdiri dan berpidato di Pertemuan ke-139 The American Association for the Advancement of Science di Washington DC, Amerika Serikat. Lorenz mengemukakan pertanyaan penting, Apakah kepakan sayap kupu-kupu di Brazil mengakibatkan sebuah tornado di Texas? Dari sinilah teori dan istilah butterfly effect itu bermula. Prinsip utamanya adalah bahwa perilaku atmosfer tidak stabil sehubungan dengan gangguan amplitudo kecil, atau perubahan kecil dapat menimbulkan konsekuensi besar tersebut. Lalu apa hubungannya dengan infak? Ikuti saya!

 

Secara sederhana, sebagaimana yang tertuang dalam undang-undang (Nomor 23/2014), infak adalah harta yang dikeluarkan oleh lembaga atau perorangan untuk kemaslahatan umum. Jika menyebut infak maka tidak sempurna tanpa menggandeng syariat zakat dan sedekah. Ketignya: zakat, infak, sedekah kerap kali dimaknai sama dalam Al-Qur'an walau secara umum labih sering dimaknai berbeda berdasarkan asal-muasal penggunaannya secara umum. Ketiganya menyatu dalam tujuan, namun  berpisah secara bahasa. Secara makna memang kadang kembali menyatu, karena itu ada terminologi yang menyatakan, "Infak wajib adalah zakat, infak sunnah adalah sedekah, sedekah wajib adalah zakat, dan sedekah sunnah adalah infak!".

 

Kelebihan infak karena lebih longgar, tidak ada ketentuan yang mengikat seperti zakat. Selama uang itu halal dan atau diperoleh secara halal maka berinfak berapa pun nominalnya tidak ada masalah. Mulai dari jumlah terendah hingga yang terbanyak mengikut kemampuan. Karena itu syariat infak bisa digandengkan dengan teori 'butterfly effect' atau berbuat sedikit dengan hasil yang besar.

 

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dalam lima tahun terakhir, Indonesia semakin beranjak ke posisi tertinggi dalam World Giving Index. Kedermawanan warga Indonesia, yang disebut sebagai negara paling dermawan berdasarkan 3 komponen penilaian (helping stranger, donating money, volunteering time), didorong oleh kepedulian masyarakat khususnya melalui kesadaran berzakat dan berinfak dari  para donatur dan keaktifan para pegiat zakat di negeri ini.

 

Realita ini menunjukkan bahwa orang Indonesia, khususnya umat Islam telah menjadi contoh nyata bagi dunia dalam berbagai hal positif, termasuk keingin untuk berbagi antar sesama, saling meringankan beban tanpa melihat jumlah bantuan tetapi apa dan bagaimana supaya bisa membantu sesama.

 

Dari sini, para penggiat zakat, khususnya para amil, lebih khusus lagi amil Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang memang diberi mandat kepada negara untuk mengajak masyarakat luas agar berbagi lewat infak secara rutin dengan nominal kecil, misalnya seribu atau dua ribu rupiah perhari setiap rumah tangga yang hasilnya akan dikembalikan kepada masyarakat sekitar dimana infak itu terkumpul. Baik untuk menyediakan fasilitas umum agar tidak selalu tergantung kepada pemerintah, atau membantu warga sekitar yang sangat membutuhkan, baik itu berupa makanan pokok, kesehatan, pendidikan, hingga modal untuk berusaha agar bisa mandiri.

 

Teori 'butterfly effect' ini selaras dengan hadis Nabi sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim bersumber dari A'isyah, "Khaerul amali adwamuha wa in qalla', sebaik-baik perbuatan itu konsistensinya walau hanya sedikit." Artinya berbagi dengan uang receh namun konsisten itu merupakan sebuah kebaikan, tetapi jika mampu berbagi dengan jumlah yang banyak dan konsisten, maka tentu itu lebih utama. Pada prinsipnya, jangan pernah meremehkan kebaikan yang kita lakukan sekecil apa pun, karena bisa jadi itu mengandung nilai besar atau memiliki energi positif yang berdaya ledak besar, seperti kepakan kupu-kupu di Amazon mampu melahirkan badai tornado di Amerika.

 

Karena itu, Nabi memberikan pesan, melarang umatnya meremehkan kebaikan-kebaikan walau sekecil apa pun. Sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bersumber dari Abu Dzar, La tahqiranna minal ma'rufi sya'an walau an talqa akhaka biwajhin taliiqin. Jangan sekali-kali meremahkan sebuah kebaikan walau  hanya bertemu dengan saudaramu dengan muka berseri-seri.

 

Sekilas, hadis ini terlihat biasa saja. Banyak orang tidak menyadari, bahwa wajah yang berseri, senyum ikhlas kepada saudara lainnya adalah pemantik nilai positif pada orang lain, akan melahirkan inspirasi, semangat bekerja, dan tentu saja aura positif yang menjadikan hari-hari seseorang makin bermakna.

 

Kebaikan, sekecil apa pun, jika dilakukan dengan niat ikhlas, tidak saja bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, tapi akan menjadi ibadah di sisi Allah ta'ala. Berkata Abdullah Bin Mubarak, Rubba 'amalin shagiir tukatsiruhun-niah, wa rubba 'amalin kabiir tushaggiruhun-niah. Banyak perbuatan kecil tapi jadi besar karen niat, dan banyak amal perbuatan besar tapi nilainya kecil juga karena niat.

 

Mari menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan dan sekaligus menutup pintu-pintu keburukan dengan membiasakan diri berbuat kebaikan walau sekecil apa pun sambil dilandasi dengan niat ikhlas. Saya yakin dan percaya, rekan-rekan yang menjadi amil zakat, infak, dan sedekah adalah mereka yang berada di garda terdepan sebagai contoh dan teladan dalam berbagi, meringankan  beban sesama, mencerahkan sekitar, dan menjadi pemantik semangat dan inspirasi kebaikan orang-orang yang berada di sekitarnya. Wallahu A'lam!

 

Enrekang, 12 Juni 2021.

*Calon Pimpinan BAZNAS Enrekang Priode 2021-2026.

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Gurutta, Anreguru, Panrita