Hikmah dan Tata Cara I’tikaf

 


Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA*

Salah satu fasilitas penambah kualitas umur yang disediakan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad adalah adanya “Lailatul Qadar”, yang senilai dengan 1000 bulan atau 83 tahun 4 bulan. Nabi pun memerintahkan umatnya agar mengejar dengan sekuat tenaga waktu-waktu yang diperkirakan terjadi Lailatul Qadar atau malam ketetapan itu. Sabdanya, Faltamisuu fil-asyril awaakhir, Jaga dengan serius pada sepuluh terakhir setiap Ramadhan, (Sahih Bukhari: 6991).

Bahkan Nabi sendiri, sebagaimana dinarasikan Aisyah menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan dengan cara, aeqazha ahlahu, membangunkan keluarganya, wa syadda mi’dzarahu mengencangkan ikat pinggangnya atau tidak lagi melakukan hubungan intim pada istrinya, (Sahih Bukhari: 2024). Dalil-dalil dari Nabi ini menjadi petunjuk untuk umatnya agar serius memburu Lailatul Qadar. Dan tidak disangsikan lagi jika i’tikaf adalah jalan tol untuk meraih Lailatul-Qadar sebagaimana dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi sendiri.

Secara bahasa i’tikaf berarti ‘berdiam’, secara istilah, i’tikaf adalah ‘berdiam di masjid dengan jangka masa tertentu untuk melakukan ibadah-ibadah fardhu dan sunnah sebagai bentuk ketaatan yang bertujuan untuk meraih ridha Allah’.

Tujuan utama i’tikaf adalah menetap di masjid untuk tujuan ketaatan (luzuumul-masjid litha’atillaah); melakukan paket amal secara khusus (iqaamatul amal makshuus); mendekatkan diri pada Allah dengan serangkaian amal saleh (at-taqarrub ilallaah wa’amalun shaaleh).

Sedangkan jenis-jenis i’tikaf ada dua: I’tikaf tammatan, yaitu i’tikaf penuh di sepuluh akhir bulan Ramadhan, biasa disebut i’tikaf labistan atau i’tikaf penuh; I’tikaf Qasharan atau juziyan, yaitu beberapa hari tertentu atau waktu tertentu yang ia mampu lakukan atau i’tikaf sebentar (lahzhatan).

Menurut mazhab Hanafiyah, mereka melakukan i’tikaf di sepuluh hari penuh, sedangkan Malikiyah boleh sehari semalam, sedangkan Syafi’iyah boleh sebentar saja yang penting didahului dengan niat ketika hendak masuk masjid. Misalnya dengan berniat, Nawaetul i’tikaf fii haadzal masjid lillahi ta’ala, Aku berniat untuk i’tikaf di masjid ini karena Allah. Seberapa lama di dalam masjid, maka sudah dihitung sebagai i’tikaf, walau hanya tiga menit.

Ketika mengomentari masalah i’tikaf, Syekh bin Baz berkata, “Yang benar, i’tikaf itu tidak ada aturan baku waktunya, boleh penuh boleh juga tidak penuh. Jika seseorang masuk masjid dan berniat untuk i’tikaf sesaat atau beberapa saat, maka itu juga i’tikaf,” (Said Ali bin Wahaf Al-Qahthani, As-Shiyam fil Islam fi Dhau’il Kitab was-Sunnah, Riyadh, 2010: 461).

Terkait tempat i’tikaf, Imam Nawi berkata, “I’tikaf itu sah dilakukan di setiap masjid dan tidak boleh dikhususkan di masjid manapun juga kecuali dengan dalil. Dan dalam hal ini tidak ada dalil yang jelas mengkhususkannya.”. Berkata Imam Ibnu Hazm, I’tikaf itu sah dan boleh dilakukan di setiap masjid, baik masjid yang diadakan shalat Jumat atau tidak.

Imam Abu Bakar Al-Jashshah berkata, “Ayat i’tikaf membolehkan di semua masjid berdasarkan keumuman lafaznya, karena itu, siapa saja mengkhusukan makna ayat (QS. 2:187) mereka harus menampilkan dalil, demikian pula yang mekhususkan bahwa hanya boleh i’tikaf di masjid-masjid jami’ tidak ada dalilnya, sebagaimana halnya pendapat yang mengkhususkan bahwa i’tikaf hanya boleh di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha. Namun pendapat yang mengkhususkan hanya di tiga masjid itu tidak ada dalil, maka gugurlah pendapat tersebut,”.

I’tikaf adalah ibadah sarat hikmah, berikut ini beberapa hikmah yang dapat dipetik:

Pertama. Lewat i’tikaf, orang dengan mudah dapat mendirikan shalat fardhu secara kontinyu dan berjama’ah, sedangn shalat jama’ah berlipat ganda dibanding sendirian;

Kedua. Dapat membantu untuk menegakkan shalat lebih khusyuk, penuh konsentrasi, sebab mereka yang berdiam di masjid telah memutuskan hubungan dengan dunia luar;

Ketiga. Lebih konsentrasi menjalankan ibadah sunnah dan semisanya, dengan memperbanyak zikir;

Keempat. Senantiasa mampu melaksanakan jamaah pada shaf pertama yang penuh kebaikan!

Kelima. Masuk dalam salah satu kategori yang akan mendapatkan naungan di Padang Makhsyar, saat itu mata hari hanya sejengkal dari kepala. Karena hakikatnya orang beri’tikaf adalah mereka yang hatinya terpaut di masjid (qalbuhu muallaq bil-masaajid);

Keenam. Dimudahkan untuk mendirikan salat malam, yang memiliki keutamaan tersendiri, saat itu, doa-doa besar potensinya untuk dikabulkan, khususnya disepertiga malam terakhir;

Ketujuh. Sarana untuk belajar hidup zuhud, hidup sederhana, sejenak meninggalkan hiruk-pikuk dunia, dan persiapan sebelum masuk kubur yang akan hidup sendirian sebab telah ditinggalkan dunia. Jika i’tikaf kita meninggalkan dunia, maka kematian adalah dunia meninggalkan kita;

Kedelapan. Dapat menjaga kesucian puasa dari lumuran dosa-dosa akibat bohong, mengumpat, menggosip, berkata kotor, dan perbuatan sia-sia lainnya. Juga menjaga pandangan mata dari segala macam dosa, pendengaran dari suara-suara melalaikan dan seterusnya.

Kesembilan. Dengan i’tikaf, jiwa akan dididik sabar untuk melakukan amal saleh dan menghindari amal salah;

Kesepuluh. Mencegah diri dalam melakukan kemaksiatan, dan menutup segala bentuk pintuk maksiat;

Kesebalas. Sarana dan momentum yang tepat untuk mengevaluasi diri, menghitung dosa, kelemahan diri, dan sebagai sarana mengobati jiwa yang sakit karena dunia;

Keduabelas. Sebagai jalan tol terbaik untuk bertemu Lailatul Qadar.

Dalam suasana sepuluh terakhir Ramadhan 1442 ini, sebagai penutup saya kutip dialog Aisyah dan Rasulullah. Bertanya Aisyah, Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu waktu turun Lailatul Qadar, apa yang seharusnya aku ucapkan? Nabi menjawab, Ucapkanlah, “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul-afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku,” (Sahih Sunan Trimidzi: 3:346). Imam Al-Baihaqi dalam kitab “Syu’abul Imaan” menyebut bahwa doa ini boleh diulang-ulang sampai tiga kali. Wallahu A’lam.

* Penulis adalah Imam Masjid Nuruttijarah, Pasar Sentral Enrekang, Sulsel

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Islamisasi di Sulawesi Selatan; Peran Ulama dan Raja-Raja