Gurutta Sanusi Baco, Ulama Kharismatik


 

Oleh: Dr Ilham Kadir, MA., Ketua INFOKOM MUI Enrekang; Dosen UNIMEN

Pertemuan pertama saya dengan Anregurutta Haji Sanusi Baco (1937-2021) pada tahun 1997, kala itu ia diundang untuk membawakan ceramah Isra’ Mi’raj di beberapa masjid yang ada di Kecamatan Lappa Riaja (Lapri), Kabupaten Bone. Beliau dihadirkan oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Lapri yang dijabat oleh Drs. H. Muhammadiyah rahimahullah, ayah dari teman saya, Dr. Muhaemin Muhammadiyah yang kini menjabat Wakil Rektor IAIN Palopo.

 

Pembawaannya kalem, tidak banyak bicara, selalu tampil rapi dengan celana dan kemeja lengan panjang, serta songkok nasional setinggi 12 centi. Suaranya datar, tidak menggebu-gebu, artikulasi katanya sangat jelas, padat makna, begitu penilaian saya terhadap Gurutta Sanusi ketika berbicara di depan khalayak ramai. Ketika berbincang-bincang santai pun demikian, selalu penuh makna. Tidak perlu bertanya kedua kalinya untuk memahami apa yang telah ia sampaikan, semuanya jelas, walau disampaikan dengan nada pelan dan santai. Tak jarang ia menyampaikan guyonan yang katanya, ia belajar dari Gus Dur di Kapal Laut sewaktu sama-sama berangkat ke Al-Azhar Mesir.

 

Karena saat itu adalah momen isra’ mi’raj, maka tema-tema yang dibawakan pun tidak jauh dari masalah shalat lima waktu, dikombinasikan dengan berbagai macam persoalan agama. Saya menilai bahwa materi-materi yang dibawakan Gurutta di beberapa tempat kala itu banyak yang berulang-ulang. Tapi anehnya, setiap naik mimbar selalu menarik perhatian, materi inti memang sama, tapi bumbu-bumbu dan pengayaan materi itu yang selalu baru. Dan ada saja informasi segar bahkan guyonan yang sulit menahan tawa. Ceramah-ceramahnya penuh dengan metafora agar mudah dipahami, kadang pula menggunakan bahasa Bugis jika para pendengar dari orang-orang Bugis.

 

Ketika membawakan materi, tidak ada satu pun yang tidak memahami materi atau isi ceramahnya. Hingga kini, tertanan dalam benak saya, bahwa seorang dai tidak mesti menyampaikan banyak materi kepada umat, karena selain tempat berceramah tidak sama, juga jamaah kadang tidak bisa mencerna jika terlalu banyak yang disampaikan oleh penceramah. “Materinya itu-itu saja selalu diulang, tapi selau saja menarik, sederhana dan padat makna”, begitu Muhaimin yang kala itu masih mahasiswa Fakultas Tarbiyah STAIN Watampone, sama dengan saya.

 

Stamina Gurutta juga luar biasa, dengan medan yang cukup jauh, kadang dalam sehari harus mengisi tempat ceramah lebih dari tiga masjid, di tempat yang berjauhan. Semangatnya untuk mencerahkan umat patut jadi contoh para dai milenial saat ini.

 

Belasan tahun kemudian, tepatnya 2011-2014 saya makin sering berinteraksi langsung dengan Gurutta. Tidak banyak berubah, kecuali raut mukanya yang berbicara bahwa dirinya makin menua, tapi semangat berbagi ilmu, cara berbicara, dan pembawaannya, masih seperti sewaktu pertama ketemu. Kala itu, saya ditugaskan oleh Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi (INFOKOM) Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Dr. H. Waspada Santing untuk melakukan wawancara kepada Gurutta H. Sanusi Baco, untuk keperluan MUI. Hasil wawancara tersebut nantinya dimanfaatkan untuk menulis biografi ulama-ulama di Sulawesi Selatan, atau untuk keperluan penulisan auto-biografi.

 

Tugas itu pun saya jalankan, walau hanya sekali, namun durasi wawancara saya cukup lama, dan pembahasan pun cukup komprehensif. Ketika saya pulang ke Kamar Kontrakan, saya melakukan transkrip hasil wawancara. Karena kontrakan begitu sempit jadi, istri saya yang juga bersama dengan saya mendengar seluruh hasil wawancara dengan Gurutta, tapi dia tidak tahu-menahu siapa yang saya transkrip suaranya. Ia berkomentar, “Pasti yang berbicara ini orangnya pintar sekali, dia ulama besar!”.

 

Antara petikan materi wawancara saya ketika ‘menggali pemikiran keagamannya’ adalah menyikapi perbedaan, apa saja yang bisa berbeda dan apa yang tidak ketika menafsirkan Al-Qur’an. Sebagai contoh ketika menafsirkan firman Allah, Idza kuntum ila as-shalati fa-agsilu wujuhakum wa aediyakum ila al-marafiq wa-amskhu biru’usikum wa arjulakum ila al-ka’bain. Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki,” (QS. Al-Ma’idah [5]: 6).

 

Kata “Wa amsakhu biru’usikum..., [sapulah kepalamu...],  dalam pandangan Gurutta Sanusi Baco, para ulama tidak boleh berbeda pendapat tentang kewajiban membasuh kepala ketika berwudhu, dan semuanya telah sepakat akan itu dan tidak satupun ulama mengatakan kalau membasuh kepala hukumnya sunnah.  Namun boleh berbeda pendapat tentang kadar yang disapu pada bagian kepala ketika berwudhu, bisa semuanya, dan bisa pula hanya sebahagiannya. “Jidat, ubun-ubun, telinga, adalah bagian dari kepala”, tagas Gurutta.

 

Menurut Gurutta Sanusi Baco, dalam ilmu syariah, perbedaan pendapat terjadi karena beberapa sebab, dalam ayat Al-Qura’an memang terbagi dua, ada yang qath’i ad-dilalah, dan ada yang zhanni ad-dilalah. Yang pertama adalah semua ayat yang ada dalam al-Qur’an hanya mengandung satu makna, dalam hal ini ulama tidak boleh beda pendapat, tapi harus semuanya sama. Semua ayat yang berbicara tentang warisan misalnya, tidak boleh ada perbedaan pendapat karena ayat-ayat tersebut menggunakan angka-angka. Contoh firman Allah, Walakum nishfu ma taraka wazwajukum. Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, (QS. An-Nisa’ [4]: 12). Sesepuh NU itu, menegaskan, ulama tidak boleh beda pendapat dalam mengartikan kata ‘nishf’ yang beararti ‘setengah’ atau ‘seperdua’ [1/2], dan jika ada orang dikatakan ulama yang mengatakan bahwa ‘nishf’ adalah ‘seper tiga’ atau ‘seper empat’ maka pasti dia bukan ulama tapi orang jahil [bodoh], termasuk pula yang menyamakan pembagian waris antara laki-laki dan perempuan, yang telah ditetapkan oleh Allah perbedaanya, bahwa laki-laki dan perempuan adalah satu banding dua, bukan satu banding satu. Ada pun zhanni ad-dilalah sebagaimana contoh di atas tentang kadar kepala yang harus disapu ketika berwudhu.

 

Setiap yang bernyawa pasti berakhir dan pada akhirnya, kini, ulama kharismatik itu telah tiada. Anregurutta Haji Sanusi Baco telah menghembuskan nafas terakhirnya di Makassar 15 Mei 2021. Sebagai manusia tentu ada kekurangan dan kelebihan, karena itu yang terpenting adalah melupakan kekurangannya dan menyebut-nyebut kelebihannya, agar setelah kematiannya, amal-amal ibadahnya disempurnakan oleh Allah ta’ala.

 

Innama al-mar’u haditsun ba’dahu, fakun haditsan hasanan liman ba’daka. Sesungguhnya, seseorang itu selalu menjadi buah bibir setelah ia wafat. Maka, jadilah Kamu buah bibir yang baik setelah kematianmu. Kata bijak ini tersemat dalam diri Anregurutta Sanusi Baco rahimahullah. Seluruh masyarakat Sulawesi Selatan berbicara akan kebaikan Sang Ulama Kharismatik.  Wallahu A’lam!

 

Dimuat TIBUN TIMUR, 17 Mei 2021.

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Gurutta, Anreguru, Panrita