Zakat Melalui Pendekatan Kultural

 

Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA.*

Sebut saja namanya Ibu Hajjah, berprofesi sebagai pedagang dan suaminya sebagai petani. Ia memiliki pengalaman hidup yang menarik untuk dijadikan referensi, khususnya dalam teori sharing mechanism atau saling berbagi antar sesama, baik melalui zakat maupun infak dan sedekah.

 

Suatu ketika, ketika saya masih menjabat sebagai Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Enrekang, Ibu Hajjah masuk di ruangan saya. "Ustad, saya mau bayar zakat, bagaimana caranya," tanyanya. Zakat apa? Tanya saya. Saya habis panen jagung, setelah saya jual, hasilnya ada 30 juta, lalu saya potong ongkos operasional, total bersih saya terima 20 juta, jadi berapa zakatnya? Terang Ibu Hajjah.

 

Kalau pertanian sejenis ini, zakatnya 5 persen, jadi kalau sudah dijual jagungnya, zakatnya cukup bayar saja dengan uang, totalnya satu juta rupiah. Lalu saya doakan, "Ajrakallahu fima a'thaeta wa baaraka fimaa abqaeta, Semoga Allah memberikan pahala terhadap zakat yang Ibu keluarkan, dan memberkati yang tersisa,". Setelah itu, saya tambahkan, "Insya Allah ke depan penan Ibu Hajjah akan semakin berhasil dan penuh berkah, dikarenakan zakat yang Ibu keluarkan, Amin!".

 

Tidak lama setelah prosesi ritual zakat di atas berlalu, Ibu Hajjah dan suaminya kembali menanam jagung dengan jumlah yang banyak, dengan harapan hasil penennya juga banyak, dan keuntungan tentu lebih banyak. Cerita ini berlangsung tahun 2019. Kala itu kemarau panjang melanda Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan dan lebih khusus Enrekang. Masyarakat yang menanam jagung di atas bulan Mei hampir pasti jagungnya kekeringan. Itu yang terjadi di Enrekang, semua petani jagung mengeluh karena hujan tidak turun dan tanaman mengering, kecuali tanaman bawang dan sayuran yang skalanya tidak banyak dan menggunakan pengairan sistem pompa, tetapi tidak dengan jagung, selain lokasinya luas juga tidak menggunakan sistem pengairan dengan pompa, umumnya mengharap hujan dan air parit.

 

Bagaimana nasib Ibu Hajjah? Nah, ini yang menarik. Para petani menanam bibit yang sama, menggunakan pupuk yang sama dengan racun yang sama pula. Pemisah antara kebunnya dan petani lain pun hanya pematang bukan pagar. Intinya tata cara bercocok  tanan jagung Ibu Hajjah dengan suaminya sama persis dengan para petani jagung lainnya, tidak ada yang khusus apalagi istimewa.

 

Anehnya, jagung para petani yang lain di sekeliling lahan Ibu Hajjah semua gagal panen karena kemarau panjang, mengering. Tetapi tidak dengan lahan Ibu Hajjah, jagungnya tetap tumbuh baik walau tidak sebaik panen sebelumnya. Dan ia pun tetap panen dan tidak mengalami kerugian, bahkan tetap untung. Setelah panen, dan menjual hasil panennya, ia kembali ke Baznas untuk berzakat.

 

Alhamdulillah, terima kasih banyak Ustad, saya sudah panen kembali dan ingin berzakat lagi, katanya. "Memang kenapa Ibu bersyukur dan ingin berzakat," tanya saya. Begini ceritanya Ustad. Saya sebenarnya ini banyak yang iri, dikiranya punya ilmu macam-macam, ini karena teman-teman petani yang bertetangga dengan kebun jagung saya, mereka gagal panen, jagung yang mereka tanam kering semua, sementara saya alhamdulillah bisa panen dengan baik. Saya tidak punya ilmu apa-apa kecuali bertani dan hasilnya saya keluarkan zakatnya. Itu saja rahasia saya, terang Ibu Hajjah.

 

Itulah yang dimaksud dalam sebuah hadis, Hashshinu amwaalakum biz-zakaah, wa dawuu mardhakum bis-shadaqah, was-taqbaluu amwajal bala'i bid-du'a. Bentengi harta kalian [kerugian dan malapetaka] dengan zakat, obati sakit di antara kalian dengan sedekah, dan tolak bala' dengan doa. Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi.

 

Kisah lain, dari Pak Haji, berprofesi sebagai pedagang di Pasar Sentral Enrekang. Ia telah menunaikan kewajiban naik haji ke Baitullah sebanyak dua kali. Perjalanan yang kedua kalinya itu mendapat pelajaran dari rekan-rekannya. Kala itu, Baznas Enrekang mengeluarkan keputusan bahwa para calon jamaah haji diarahkan untuk membayar infak haji, sebisa mungkin 2,5 persen dari ongkos naik haji (ONH). Mayoritas calon jamaah haji mematuhi itu, namun tidak semuanya ada juga yang enggan berinfak dengan berbagai alasan, dan Baznas tidak punya hak untuk menindak karena perintah infak dalam hukum positif bukan bersifat mandatori, sebab hanya berupa anjuran. Setelah selesai prosesi ibadah haji, para jamaah pun pulang ke kampung dan keluarga mereka dengan harapan insya Allah semuanya membawa haji mabrur.

 

Suatu ketika, saya disapa oleh Pak Haji, "Ustad, ada yang mau saya sampaikan, sudah lama informasi ini ingin saya sampaikan tapi saya tidak mau kalau ada orang lain yang mendengar, tapi kalau Ustad yang sampaikan kepada khalayak ramai tidak apa-apa sebagai pelajaran bagi kami semua." Ia melanjutkan, "Jadi begini Ustad, saya perhatikan teman-teman yang tidak membayar infak haji sebelum berangkat ke Tanah Suci di sana mereka selalu mendapat kesusahan, banyak masalah yang sangat sulit untuk dilalui. Sebaliknya, kami yang sudah bayar infak haji di Baznas, selalu dipermudah oleh Allah, urusan apa saja selama menunaikan ibadah haji, semua mudah, terang, dan tidak pernah ada masalah yang berarti. Saya yakin bahwa semua itu atas izin Allah dan karena perantara sedekah itu. Tolong sampaikan ke masyarakat agar mereka bersedekah lewat Baznas sebelum naik ke Tanah Suci, insya Allah ibadah dan segala urusannya selama di sana akan dipermudah!"

 

Terlalu banyak kisah-kisah menarik untuk saya goreskan, tetapi dalam artikel pendek ini cukup memaparkan dua kisah nyata, agar menjadi pelajaran untuk kita semua, bahwa sejatinya berzakat, berinfak, dan bersedekah yang butuh adalah kita semua, manusia sediri, bukan Allah, bukan Baznas dan bukan saja para mustahik.

 

Benar adanya bahwa harta yang dikeluarkan untuk dibelanjakan di Jalan Allah akan mendatangkan keberkahan, kesucian, kebersihan pada harta, dan akan melipatgandakan jumlah harta sampai tidak terhingga. Keberadaan amil zakat pada prinsipnya menguntungkan para muzakki sendiri, sebab tidak perlu lagi datang mencari dan menyisir para mustahik. Selain zakatnya akan sampai pada tangan yang tepat, juga jangkauannya yang tidak terbatas. Orang Aceh yang berzakat di Baznas besar kemungkinan akan dinikmati oleh orang Papua dan begitulah seterusnya.  Dan salah satu tujuan inti dibentuknya Baznas adalah agar pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat, infak, dan sedekah lebih efektif dan efisien, penerima manfaatnya lebih luas cakupan dan jangkauannya, serta berkontribusi dalam mengurangi kemiskinan.

 

Membangun kepercayaan publik terhadap lembaga zakat harus dimulai dari akar rumput, sampai kesadaran masyarakat tumbuh, dan pada tahap tertentu mereka merasakan bahwa menegakkan ibadah zakat adalah kebutuhan para muzakki. Jika ini terjadi maka zakat akan sejajar dengan rukun Islam lainnya. Dari sini dapat dimengerti bahwa gerakan kampanye sadar zakat merupakan bagian penting dari usaha untuk mewujudkan semesta kebajikan zakat, dan inilah yang dimaksud dengan pendekatan kultural. Wallahu A'lam!

 

Enrekang, 23 Maret 2021

* Ketua Alumni Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) BAZNAS-DDII; Dosen UNIMEN

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Islamisasi di Sulawesi Selatan; Peran Ulama dan Raja-Raja