Serius Beribadah di Bulan Ramadhan

 

 “Demi Allah. Seandainya dikatakan pada Penghuni kubur, Berharaplah. Maka, sungguh mereka akan berharap bertemu kembali dengan Ramadhan walau hanya sehari”.~Ibnul Jauzi.

 

***

 

Dengan Bulan Ramadhan, amal sedikit menjadi banyak, amal ringan menjadi berat, amal sepele menjadi berbobot, dan amal kecil bernilai besar.

Maka, sangat merugi jika Ramadhan datang namun tidak dijadikan sarana untuk menimbung pahala sebanyak-banyaknya melalui amal-amal utama yang Allah sediakan untuk dilakukan, dan akan berlipat jika direalisasikan dalam Bulan Ramadhan.

Selain menunaikan ibadah inti Ramadhan berupa puasa, maka harus bersungguh-sungguh dalam beribadah sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat, serta orang-orang saleh dari generasi awal hingga sekarang.

Ketika Ramadhan tiba, Nabi serius dan fokus beribadah, dan lebih kencang lagi keseriusan itu di malam-malam akhir ramadhan, atau sepuluh malam terakhir. Berdasar dari hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah dan Ali bin Abi Thalib bahwa “Nabi, apabila memasuki sepuluh terakhir Ramadhan, ia mengencangkan ikat pinggangnya [menghindari hubungan suami-istri], menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. Kesungguhan ini melebihi malam-malam sebelumnya”.

Kunci keseriusan beribadah adalah merasa tidak terbebani, dikerjakan dengan panggilan iman dan kesadaran lahir batin. Bahkan Nabi menjadikan ibadah sebagai tambatan hati ‘qurrata a’yun’. Nabi sendiri menegaskan, “Pelipur laraku adalah shalat. Waju’ilat qurrata ‘ainuy fis-shalah”. Demikian pula, ketika memerintahkan Bilal untuk azan agar Nabi terhibur, “Qum ya Bilal, fa’arihna bis-shalah. Bilal, berdirilah, kumandangkan azan dan hibur kami dengan shalat!”.

Untuk menjaga semangat ibadah, serta menghindari futur atau putus asa, maka harus disiasati dengan bersungguh-sungguh. Kesungguhan dibuktikan dengan amal, seperti orang yang lari mengejar pahala dan ampunan. Inilah yang dimaksud firman Allah, Fafirruw ilallah, (Az-Dzariat[51]: 50). Juga diperkuat hadis qudsi, Aku Allah, berada dalam persangkaan hamba-Ku. Jika kalian mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat sehasta, jika Kalian mendekat sehasta, maka Aku akan mendekat sedepa, jika Kalian datang berjalan, maka Aku berlari mendatangi Kalian, (Riwayat Muslim, 6902). Maka, harus berlomba-lomba untuk mendapatkan keutamaan dan karunia Allah, wafi dzalika falyatanafasil mutanafisun, (QS. Al-Muthaffifin[83]:26).

Segenap kesungguhan harus ditutup dengan doa, sebagai tanda dan bukti bahwa Allah yang Maha Menilai, tempat asal dan kembali segala sesuatu. Doa yang dipanjatkan oleh Khalifah Umar adalah salah satu yang terbaik.

“Allahummaj’al ‘amaly kullahu shalihan. Waj’alhu liwajhika khalisan. Wa laa taj’al li’ahadin fiyhi syai’an.”

Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku yang shaleh. Jadikanlah amalku semuanya ikhlas hanya untuk-Mu semata. Dan janganlah Engkau palingkan niat beramalku untuk yang lain selain-Mu.

 

Bulan Al-Qur’an

Salah satu amal andalan para orang-orang shaleh pendahulu kita, khususnya di Bulan Puasa adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an. Imam Al-Aswad, ulama tabi’in menghkatamkan bacaan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap dua malam atau 15 juz permalam, sedang di luar Ramadhan beliau rutin khatam dalam enam malam atau lima juz permalam. Demikian pula Imam Qatadah (w. 118 H), merupakan ulama tafsir dan hadits, rutin menamatkan bacaan Al-Qur’an setiap tujuh malam di luar bulan Ramadhan, dan jika Ramadhan tiba, dia menamatkan bacaannya setiap tiga malam (10 juz permalam), dan pada sepuluh malam terakhir ia mengkhatamkan bacaannya setiap malam. Imam Syafi’i (w.204 H). Menamatkan bacaan Al-Qur’an dua kali dalam sehari semalam. Atau sekali dalam 12 jam. Berkata Salamah bin Kuhail, Dahulu dikatan bahwa bulan Sya’ban adalah bulnnya para pembaca Al-Qur’an,”. Juga diriwayatkan dari ‘Amr bin Qais Al-Mul’i bahwa jika bulan Sya”ban telah masuk, maka ia menutup tokonya dan meluangkan waktu untuk fokus membaca Al-Qur’an [sampai selesai Ramadhn].

Jika Sya’ban adalah “syahrul-qurra'” bulannya para pembaca Qur’an maka Ramadhan dikenal dengan sebutan “Syahrul Qur”an” atau “Unzila fihil-Qur’an”, Bulan Al-Qur’an atau bulan dimana Al-Qur’an diturunkan. Dan para ulama di atas layak menjadi pemantik semangat bagi kita yang bukan ulama, jika mereka saja yang jauh lebih sempurna ibadah dan ilmunya begitu bersungguh-sungguh dalam berlomba mengejar keutamaan Ramadhan, maka kita semestinya harus malu dan berusaha lebih serius. Tidak ada kata terlambat, waktu yang berputar kencang harus diisi dengan memperbanyak amal shaleh, terutama membaca dan belajar Al-Qur’an.

Keutamaan belajar Al-Qur’an, baik ulama, ustadz maupun yang masih awam, dapat disimak dari hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Muslim nomor 27699. “Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid untuk membaca Al-Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka kepada para malaikat yang berada si sisi-Nya.”

Akan lebih baik lagi, jika seorang muslim, memiliki semangat belajar Al-Quran di bulan Ramadhan ini, lalu bersungguh-sungguh dalam mengajarkannya kepada orang lain. Baik untuk para pemula, atau yang telah mampu membaca mushaf tapi belum lancar, atau pun yang terus menerus belajar Al-Qur’an tanpa henti dan mengajar orang lain. Mereka ini yang masuk dalam kategori hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, 4639. “Khaerukum man ta’allama al-qur’an wa allamahu. Yang terbaik di antara kalian adalah belajar Al-Qur’an dan mengajarkan pada orang lain”.

Wajib bagi umat Nabi Muhammad mengambil bagian dalam ibadah besar ini. Dan Ramadhan ini adalah saatnya, bagi yang belum bisa baca Al-Qur’an maka mulai sekarang belajarlah. Dan bagi yang mampu mengajar, wajibkan diri untuk mengajar mengaji walau hanya satu orang, yang terdekat dengan kita, seperti suami, istri atau anak. Dan bagi yang belum bisa mengambil bagian dari itu, maka dorong anak-anak untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an, atau bantu lembaga-lembaga pendidikan yang di dalamnya diajarkan kalam ilahi.

Mari mengejar keutamaan Ramadhan sekencang mungkin sebagaimana Nabi melakukan kebaikan melebihi kencangnya hembusan angin, sebagaimana dituliskan dalam Kitab Shahih Muslim nomor 6975. Kaana rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajwadu bil-khaeri min ar-riih al-mursalah. Bahwa Nabi lebih semangat berbuat kebaikan melebihi hembusan angin. Wallahu A’lam!

Penuls: Dr.  Ilham Kadir, MA., adalah Imam Masjid Nurut-Tijarah, Enrekang.

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Gurutta, Anreguru, Panrita