Mengkavling Sunnah

Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA.*

 

Sepasang suami istri kerja di bank konvensional yang dinaungi oleh Perusahan Negara atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Keduanya mendapat gaji cukup tinggi, melebihi kebutuhan sandang, papan, dan pangan mereka. Dengan penghasilan tinggi mereka menyisihkan sebagian penghasilan untuk infak, dan sedekah, terutama kepada para kerabat. Khusus untuk orang tua, mereka menyediakan khusus biaya untuk menutupi seluruh kebutuhan, sebagai bagian dari berbakti pada orang tua. Dalam Islam dikenal dengan "birrul-waalidain". 

 

Tidak lama kemudian, semua berubah. Suami-istri itu, berhenti bekerja di bank milik BUMN, berawal dari ceramah yang ia dengarkan dari para ustad-ustad sunnah, bahwa bekerja di bank hukumnya haram, dan semua gaji dari bank juga dihukum haram, dan seluruh harta yang dibeli lalu digunakan dari gajinya semuanya haram. Karena itu, mereka berdua sepakat undur diri dari pekerjaannya, tanpa ada pertimbangan lain, pokoknya ingin bekerja di tempat pekerjaan "sunnah".

 

Karena berhenti tanpa perencanaan yang matang, akhirnya keluarga sunnah tersebut mengalami masalah besar dalam ekonomi keluarga. Usaha barunya benar-benar sunnah, menjual minyak wangi dan pakaian sunnah. Namun penghasilannya belum bisa dikategorikan sunnah. Jika dulu, sewaktu masih di bank BUMN mereka rutin berkunjung ke orang tua sambil menyisihkan sebagian hartanya. Ketika telah menjadi warga 'sunnah' tidak pernah lagi jumpa orang tua, apalagi memberikan infak dan sedekahnya. Sehingga, saudara lain berkata, Surga mana yang kalian cari? Bukankah berbakti pada orang tua ada jalan tol menuju surga, dan sunnah yang agung?

 

Kisah lain, seorang kerabat yang disambar dakwah sunnah. Ketika bertemu dengan saya, luar biasa semangatnya menyebut kata 'sunnah', dalam durasi lima menit berbicara, ia menyebut kata 'sunnah' lebih dari tiga puluh kali. Mulai dari ustad sunnah, sekolah sunnah, pakaian sunnah, pekerjaan sunnah, masjid sunnah, buku-buku sunnah, rumah sunnah, lingkungan sunnah, anak sunnah, dan berbagai sunnah lainnya yang sepertinya baru pertama kali saya mendengarnya. Dunia ini hanya ada sunnah dan sunnah, selain itu tidak ada yang sunnah.

 

Anehnya, tidak berapa lama kemudian, ia lalu berbicara masalah kondisi ekonomi dan bermaksud meminjam uang. Sebelumnya sudah biasa meminjam, dan tidak pernah dibayar. Keluarga lain juga memberi informasi yang sama, selalu meminjam dan tidak pernah dibayar. Kami lalu bertanya, sunnah apa sebenarnya yang diperjuangkan? Bukankan membayar utang adalah wajib bukan sunnah?

 

Tentu kedua kisah ini hanya kasuistik, banyak juga yang hijrah dengan perencanaan yang matang, punya strategi dalam membangun ekonomi keluarga yang jitu mampu berkembang lebih baik dari sebelumnya.

 

Kasus konyol lainnya. Seorang pemuda yang rutin ikut pengajian sunnah lewat radio, yutube, dan halaqah-halaqah dengan pemateri dari ustad-ustad sunnah. Keluar dari pengajian mereka tetiba jadi alim dan serba sunnah, gemar menyalahkan golongan selain dari komunitasnya. Keluarlah kata-kata yang sangat tidak mendidik, seperti, Ustad kami lebih hebat dari Imam Syafi'i, Imam Al-Gazali merusak umat karena karya 'Ihya Ulumuddin', di dalalamnya banyak hadis palsu, berorganisasi hukumnya haram karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi, demokrasi itu thaghut, haram ikut memilih legislatif, kepala daerah hingga presiden, dan statemen serupa yang selalu menimbulkan gejolak dalam internal umat, termasuk statemen yang menyatakan bahwa berdemo itu laksana perkumpulan isi kebun binatang, pada tahap tertentu ada ustad sunnah yang memfatwakan bahwa halal menumpahkan darah para pendemo.

 

Tapi anehnya, walau mereka mengharamkan organisasi tapi punya yayasan, mengharamkan demokrasi tapi jika pemimpin yang terpilih musuh agama harus turun memberontak, tidak menyetujui belajar dengan sistem modern tetapi ustad-ustadnya rata-rata punye gelar akademik, dari S1 hingga S3, melarang pengajian tarbiyah karena bid’ah lalu membuat istilah tarbiyah sunnah, dan berbagai keanehan lainnya. Intinya, selain golongan mereka, semua bukan sunnah dan ahli bid’ah. Karena itu, perlu pencerahan terkait makna sunnah dalam agama Islam secara komprehensif.

 

Pengertian Sunnah

Sunnah adalah jalan atau thariiqah, atau jalan, cara, perilaku, sama halnya perilaku itu baik maupun buruk. Berdasarkan sabda Nabi, Barangsiapa yang memberikan contoh kebiasaan baik dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, (HR. Muslim, no. 1017).

 

Adapun makna sunnah secara istilah, maka tergantung siapa yang memberikan definisi, istilah menurut ulama ahli hadits tidak sama menurut ulama ushul fiqih dan berbeda pula menurut ulama-ulama ahli fiqih. Sunnah secara istilah menurut ulama  hadits adalah, "Sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi, baik ucapan, perbuatan maupun ucapan dan perbuatan sahabat yang tidak diingkari oleh Rasulullah  (taqriir), atau sifat, baik sifat fisik maupun akhlak (karakter, perangai) atau perjalanan hidup beliau, baik sebelum menjadi Nabi atau setelah menjadi Nabi.

 

Definisi sunnah menurut ulama ushul fiqih adalah, apa yang tidak terdapat dalam Al-Quran namun diriwayatkan dari Rasululah, baik sunnah ini menjadi penjelasan bagi Al-Quran maupun tidak. (lihat, Al-Amidy, Ushuul Al-Ahkaam, 1/169). Sedangkan menurut  Ahli Fiqih adalah, Ungkapan untuk sesuatu yang hukumnya tidak wajib, misalnya: ini hukumnya sunnah, maka maksudnya bukan fardhu, bukan wajib, bukan haram dan bukan pula makruh. Akan tetapi makna sunnah menurut kebanyakan salaf (generasi awal) adalah lebih luas dari yang diungkapkan oleh ahli hadits, ushul dan para fuqaha'. Karena yang dimaksud dengan sunnah adalah segala sesuatu yang sesuai dengan Al-Quran, sunnah Rasulullah dan para sahabatnya, baik berkaitan dengan akidah maupun ibadah, sebagai kebalikan dari bid’ah.

 

Maka seseorang dikatakan di atas sunnah, apabila amalannya sesuai dengan Al-Quran dan sunnah Nabi. Dan seseorang dikatakan di atas bid’ah, apabila amalannya menyelisihi Al-Quran dan sunnah atau menyelisihi salah satu dari makna  sunnah dalam ucapan salaf mencakup sunnah dalam ibadah dan akidah. Sebagian dari kalangan ulama belakangan (khalaf) menghususkan sunnah untuk sesuatu yang berkaitan dengan masalah akidah, karena akidah adalah pokok agama, dimana orang yang menyelisihinya berada dalam bahaya besar.

 

Jelas, bahwa tindakan sebagian pendakwah dan jamaahnya yang merasa paling sunnah sesungguhnya tidak memahami hakikat sunnah dan seakan-akan telah mengkavling sunnah sehingga golongan di luar mereka adalah ahli bid'ah, padahal bisa jadi sebaliknya. Maka, jadilah umat pertengahan, mengambil sikap washathiyah, atau moderasi dalam beragama, menggabungkan pendapat ulama salaf yang tekstual dengan ulama khalaf yang kontekstual. Wallahu A'lam

 

* Peneliti MIUMI; Dosen Univesitas Muhammadiyah Enrekang

DIMUAT TRIBUN TIMUR, 26 MARET 2021

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Gurutta, Anreguru, Panrita