Bulan Sedekah

Jika ditelusuri dari sisi bahasa, sedekah berasal dari akar kata "shidq" bermakna jujur. Secara istilah, berdasarkan undang-undang adalah harta atau non harta selain zakat yang dikeluarkan oleh perorangan atau lembaga untuk kemaslahatan umum. Zakat, infak, dan sedekah adalah tiga kata yang sering kali digunakan oleh Al-Qur'an dengan makna yang sama berupa harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim setelah memenuhi syarat menurut pandangan syariat.

Ketiga termninologi tersebut biasa juga digabung menjadi satu, "infak wajib adalah zakat, infak sunnah adalah sedekah; sedekah wajib adalah zakat, sedekah sunnah adalah infak". Ketika mendefinisikan makna sedekah, Ibnul Jauzy berkata, Setiap orang harus memahami kemuliaan waktu hidupnya, tidak boleh menyia-nyiakan waktunya walau hanya sedetik untuk tidak mendekatkan diri pada Allah dengan mempersembahkan yang terbaik kepada Allah, dan yang paling mulia dari perkataan dan perbuatan adalah sedekah, karena sedekah mampu meredam murka Allah. Sedekah juga adalah pembuktian iman seorang yang mengaku beriman (burhanun 'alal imaan).

Ramadhan tidak hanya identik dengan puasa dan tarawih, tapi juga tidak boleh dipisahkan dengan sedekah, baik itu sedekah wajib, terikat dan sedekah sunnah. Bulan ini dimana rezeki umat Islam ditambahkan (yuzaadu rizqul mu'min fihi). Berbagai sarana sedekah Allah sediakan dengan pahala tanpa batas. Dalam Kitab Targhib wa Tarhib oleh Imam Mundziry, (2: 349-350, no. 1753) disebutkan bahwa salah satu jenis sedekah yang pahalanya besar adalah "Barang siapa memberi makan buka puasa pada orang lain, maka pahalanya sama dengan memerdekan seorang budak,".

Sebagai catatan, salah seorang sahabat bernama Salman Al-Farisi, merupakan salah seorang budak dari kaum Yahudi yang menetap di Madinah. Yahudi itu hanya bersedia membebaskan Salman jika ia memperoleh 300 pohon kurma subur yang telah ditanam di tanahnya, dan emas murni seberat 40 uqiyah, 1 uqiyah setara 7,4 dinar, dan 1 dinar dihargai empat juta. Itulah didapat oleh orang yang menyediakan buka puasa.

Namun, para sabat protes kepada Nabi, Wahai Rasulullah, tidak semua kami ini punya harta untuk menyediakan makan buka puasa. Nabi bersabda, Allah memberi pahala seperti di atas bagi yang menyediakan buka puasa walau hanya seteguk susu, atau sebutir kurma, atau segelas air putih. Namun barang siapa yang menyediakan buka puasa sampai orang kenyang, maka ia berhak mendapat ampunan dari dosa-dosanya. Selain itu, di hari kiamat akan mendapat fasilitas minum di telagaku yang tidak akan merasakan haus sampai masuk surga. Ia juga akan mendapat pahala tambahan seperti orang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang berpuasa itu.

Masih dalam kitab yang sama, Imam Al-Mundziry menulis, Ibu Syaqid menuturkan, Aku pernah mendengar Imam Ibnu Mubarak (118-181 H), Tokoh Hadits asal Khurasan, Ia bertanya kepada seorang laki-laki yang terluka parah di dengkulnya, penyakit itu ia telah derita selama tujuh tahun, dia sudah berobat kemana-mana, ia mendatangi berbagai macam dokter tapi hasilnya nihil. Orang itu pun datang ke Ibnu Mubarak, lalu disarankan kepadanya: Pergilah gali sumur di tempat singgahnya para Ibnu Sabil [musafir]. Jika mata airnya telah keluar, cucilah borokmu itu dengan air sumur tersebut. Orang itu melakukan arahan Ibnu Mubarak, dengan izin Allah sembuh seperti sediakala.

Bulan ini, juga waktu yang tepat untuk menunaikan sedekah wajib atau zakat, terutama zakat harta. Bahkan Imam Al-Mawardi (364-450 H), Hakim Agung masa pemerintahan Al-Qa'im Biamrillah, mengatakan, Zakat adalah al-mawaridul ummah, sumber pendanaan atau kas umat juga menjadi empat penopang yang menjembatani solidaritas sosial, antara yang kaya dan miskin, antara yang alim dan jahil, antara ulama dan umara, antara pejabat dan rakyat.

'Amr bin Murrah Al-Juhani meriwayatkan, Seorang sahabat dari suku Qudha'ah mendatangi Nabi, ia berkata, Aku sudah bersaksi bahwa tiada Ilah berhak disembah kecuali Allah, Engkau adalah utusan Allah, aku tunaikan shalat fardhu, puasa Ramadhan, dan aku membayar zakat. Nabi menjawab, Siapa yang mati dalam suasana seperti itu, maka ia termasuk para shiddiqin [orang-orang benar], dan syuhada [orang yang mati syahid]. (Ibnu Hibban, Shahih Targhib, 745). Jabir bin 'Abdullah menarasikan bahwa suatu ketika ada orang datang bertanya pada Nabi. Wahai Rasulullah, Bagaimana menurutmu jika seorang telah menunaikan zakat? Nabi menjawab, Siapa saja yang menunaikan zakat hartanya, maka hilanglah dari dirinya keburukan hartanya, (Thabrani, Shahih Targhib, 470).

Ramadhan adalah bulan penuh kelipatan, Nabi bersabda bahwa "siapa yang melakukan satu kewajiban di bulan ini maka nilai dan pahalanya sama dengan 70 kali melakukan di bulan lain, Man adda fihii fariidhatan kaana kaman adda sab'ina fariidah". Maka Ramadhan adalah tempat terbaik untuk menunaikan ibadah harta, baik zakat, infak, maupun sedekah. Bagi yang belum membayar zakat hartanya, tunaikanlah sekarang, dan bagi yang belum jatuh tempo boleh dipercepat pada bulan ini kecuali ASN yang telah dipotong gajinya untuk zakat, mereka telah merdeka.

Selain zakat harta, ada juga kewajiban menunaikan zakat jiwa atau zakat fitrah. Zakat ini memiliki banyak istilah, biasa disebut zakat Ramadhan, zakatus-shaum, zakatun-nafsi dan shadaqatul-fithri yang intinya adalah mengeluarkan sebagian harta berupa makanan pokok sejak awal bulan Ramadhan hingga jelang shalat Idul Fithri. Ada pun takarannya adalah satu sha' atau sekitar 2,7 kg atau 3,5 liter beras jika diuangkan tergantung kualitas berasnya. Mulai dari yang terendah sekira 25 ribu hingga tertinggi 35 ribu.

Zakat jiwa juga menjadi bagian dari puasa Ramadhan dan memiliki tiga tujuan pokok yaitu: menjadi penghapus dosa-dosa bagi prilaku sia-sia orang berpuasa, utamanya perkataan yang tidak senonoh dan perbuatan sia-sia; menyediakan makanan dan pakaian bagi orang-orang miskin supaya turut ikut bergembira pada hari lebaran; dan pembuktian rasa syukur kepada Allah ta'ala atas nikmat yang telah dikaruniakan pada kita semua.

Terlalu banyak kebaikan dari ibadah zakat, infak dan sedekah. Antara lain, menjadi terapi kesembuhan, mengobati penyakit hati, solusi keberkahan umur, magnet penarik rezeki berupa pekerjaan dan tempat tinggal, menjadi tolak bala' dari gangguan tangan jahil dan murka Allah, menjadi penghalang dari su'ul khaatimah, memperlancar sakratul-maut hingga memanjangkan umur dan menjadi tameng dari jilatan api neraka.

Begitu dahsyatnya pahala sedekah, sampai pada tahap, jika ada orang sedang sekarat atau nyawanya di ubun-ubun lalu ditanya, Andaikata kamu masih diberi waktu kembali kedunia, apa yang akan engkau perbuat? "'Sekiranya engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah agar aku termasuk orang-orang shaleh!", (QS. Al-Munadiqun[63]:10).

Ramadhan waktu terbaik bersedekah, jangan lewatkan peluang emas ini, Tunaikan zakat, dan rutinkan berinfak dan atau bersedekah baik dalam keadaan senang maupun susah, lapang atau sempit. Wallahu A'lam!

Enrekang, 22/4/2021. Dimuat TRIBUN TIMUR, 23/4/2021

Oleh: Dr Ilham Kadir, MA., Dewan Pembina Ikatan Alumni Beasiswa BAZNAS RI; Dosen UNIMEN

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Islamisasi di Sulawesi Selatan; Peran Ulama dan Raja-Raja