Wakaf Tunai

 

Oleh: Dr Ilham Kadir, MA. Anggota Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia; Dosen UMPAR

 

Potensi wakaf sangat besar di negara kita, potensi aset wakaf per tahun mencapai Rp 2.000 triliun dan potensi wakaf uang bisa menembus angka Rp 188 triliun, ujar Presiden Joko Widodo kala meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) dan meresmikan Brand Ekonomi Syariah di Istana Negara, Jakarta (25/1/2021). 

 

Presiden sangat memahami potensi umat Islam dalam memobilisasi dana wakaf, khususnya wakaf tunai berupa uang agar dimanfaatkan sesuai asas syariah dan kepentingan sosial kemasyarakatan. Karena wakaf adalah syariah, sama halnya dengan ibadah lainnya, seperti salat, zakat, puasa, haji hingga khilafah dan jihad, ia harus memenuhi syarat dan rukun-rukun tertentu. Sebelum menunaikan wakaf, maka pahami dulu dengan baik ilmunya. Mengambil teori Imam Bukhari, al-'ilm qablal qaul wal 'amal. Berilmu sebelum berkata dan berbuat. Amma ba'du!

 

Ditilik dari sudut pandang bahasa, wakaf sejatinya berasal dari bahasa Arab, yakni al-waqf berarti menahan (al-habs) berhenti (al-man'u). Ada pun secara istilah sesuai undang-undang nomor 41 tahun 2004 pasal 1 berbunyi, Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan sebagian benda miliknya, untuk dimanfaatkan selamanya atau dalam jangka tertentu sesuai kepentingannya guna keperluan ibadah dan atau kesejahteraan umum menurut syariah.

 

Wakaf adalah ibadah, maka harus jelas rukunnya, meliputi, wakif, nazhir, benda wakaf, ikrar wakaf, dan peruntukan benda wakaf. Wakif adalah pihak yang mewakafkan benda miliknya, sedangkan nazhir merupakan pihak yang menarima benda wakaf untuk dikelola dan dikembangkan sesuai peruntukannya, tugas utama nazhir adalah melakukan pengadministrasian harta wakaf, lalu mengelola dan mengembangkan benda wakaf sesuai dengan tujuan dan fungsi wakaf, selain itu ia harus mengawasi dan melindungi benda wakaf, serta melaporkan kepada Badan Wakaf Indonesia (BWI).  Benda wakaf adalah harta yang diwakafkan oleh wakif yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah. Ikrar wakaf merupakan pernyataan kehendak wakif yang diucapkan secara lisan kepada nazhir untuk mewakafkan benda miliknya. Ada pun syarat wakaf harus beragama Islam, dewasa, berakal sehat, dan tidak terlarang untuk melakukan perbuatan hukum. Tujuan utama wakaf adalah untuk mengekalkan manfaat benda wakaf sesuai dengan fungsinya. 

 

 

Sejarah Awal

 

 

Seorang guru besar asal Bangladesh, Prof. Dr Mannan. Disinyalir sebagai orang pertama yang menggagas wakaf tunai sebagai instrumen finansial (financial instrument), keuangan sosial dan perbankan sosial (social finance and voluntary sector banking). Wakaf tunai gagasan Mannan tersebut merupakan suatu produk baru dalam sejarah perekonomian Islam. 

 

Selama ini, instrumen finansial yang kita kenal dalam ilmu dan praktik ekonomi Islam umumnya berkisar pada murabahah untuk membiayai sektor perdagangan dan mudharabah atau musyarakah untuk pembiayaan investasi di bidang industri dan pertanian. Bahkan, bank juga tidak mau menerima tanah atau aset lain yang merupakan harta wakaf untuk jadi jaminan. Karena harta wakaf bukan hak milik, melainkan hak pakai terhadap manfaat harta wakaf itu.

 

Tentu saja, awal munculnya wakaf tunai yang digagas Prof Mannan sama persis pada awal munculnya gagasan zakat profesi yang dipelopori oleh Prof Yusuf Al-Qaradhawi, menuai polemik, ada yang setuju namun lebih banyak yang menolak, khususnya di kalangan para pakar dan praktisi ekonomi Islam sendiri. Wakaf tunai berlawanan dengan persepsi umat Islam secara tradisional sejak 14 abad lalu, bahwa wakaf itu berbentuk benda-benda tak bergerak. Sementara wakaf tunai bukan benda tidak bergerak seperti tanah, melainkan aset lancar. 

 

Menurut Mannan, wakaf tunai mendapat perhatian serius karena memiliki akar yang panjang dalam sejarah Islam, sebagai instrumen keuangan, wakaf tunai merupakan produk baru dalam sejarah perbankan Islam. Pemanfaatan wakaf tunai dapat dibedah menjadi dua: pengadaan barang privat (private good) dan barang sosial (social good). Maka, wakaf tunai akan membuka peluang terciptanya investasi di bidang keagamaan, pendidikan, dan pelayanan sosial. Tabungan dari golongan berpenghasilan tinggi dapat dimanfaatkan melalui penukaran sertifikat wakaf tunai.

 

Alhasil, gagasan Mannan diterima banyak kalangan termasuk di Indonesia. Diakomodirnya wakaf tunai dalam konsep wakaf sebagai hasil interpretasi 'radikal' yang mengubah definisi atau pengertian tentang wakaf. Gagasan baru ini dimungkinkan karena munculnya teori-teori dalam ilmu ekonomi. Dari sini pula, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang "Wakaf Uang", memutuskan: wakaf uang (cash wakaf/waqaf an-nuqud) adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai; termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga; wakaf uang hukumnya jawaz (boleh); wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syar'i; dan nilai pokok wakaf uang dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan, dan/atau diwariskan. Fatwa ini dikeluarkan di Jakarta 11 Mei 2002. Fatwa ini menjadi landasan keluarnya undang-undang wakaf nomor 41 tahun 2004.

 

Setidaknya ada empat manfaat utama dari wakaf tunai. Pertama, wakaf tunai jumlahnya bisa bervariasi sehingga seseorang yang memiliki dana terbatas bisa pula ikut menyumbangkan dana wakafnya tanpa harus menunggu menjadi kaya raya atau jadi tuan tanah (lord of the land). Kedua, dengan wakaf tunai, aset-aset wakaf berupa tanah kosong bisa mulai dimanfaatkan dengan membangun gedung untuk disewakan atau dibuat lahan pertanian (farming). Ketiga, dana wakaf juga bisa membantu sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam yang cash flow-nya kembang kempis. Keempat, umat Islam dapat lebih mandiri dalam mengembangkan dunia pendidikan tanpa harus selalu tergantung pada anggaran pendidikan negara yang semakin terbatas, apalagi dimasa krisis ekonomi akibat pandemi covid-19.

 

Sebagai upaya nyata agar wakaf tunai mampu diserap dan diaplikasikan di tengah masyarakat, maka perlu diperhatikan metode penghimpunan dana (fund rising), atau cara memobilisasi wakaf tunai. Maka, sertifikasi merupakan salah satu cara termudah, dengan menerbitkan sertifikat bernilai nominal yang berbeda-beda untuk target segmentasinya. Inilah inti dari keunggulan wakaf tunai dibandingkan wakaf harta tetap lainnya, karena besarannya dapat menyesuaikan kemampuan calon wakif. 

 

Pengelolaan dana yang telah dihimpun juga harus profesional dan merujuk pada syariat wakaf. Orientasi dalam mengelola dana wakaf adalah untuk memberikan hasil yang semaksimal mungkin (income generating orientation). Implikasinya dana-dana tersebut harus diinvestasikan pada usaha produktif yang terdapat banyak pilihan seperti investasi langsung di bidang produktif, investasi melalui deposito pada bank syariah, investasi penyertaan (equity investment) melalui perusahaan modal ventura dan investasi portopolio lainnya. Ketika memilih jenis investasi, harus diperhatikan potensi hasil dan resikonya, target hasil yang besar serta resiko yang rendah.

 

Distribusi hasil yang didapatkan dari wakaf tunai kepada para penerima manfaat, dalam sistem zakat disebut mustahik. Dalam melakukan pendistribusian harus diperhitungkan orientasinya, bisa berupa penyantunan (charity), pemberdayaan (empowerment), investasi sumber daya insani (human investmen) hingga investasi di bidang infrastruktur (infastructure investmen). Selain itu, hasil yang didapat dari wakaf tunai juga dialokasikan untuk meningkatkan kapasitas modal awal sebagai antisipasi penurunan nilai wakaf. Wallahu A'lam!

 

 

Dimuat Tribun Timur 19/2/2021

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Gurutta, Anreguru, Panrita