Tahun Kesedihan: Refleksi 2020

 

Secara bahasa ‘tahun kesedihan’ dikenal dengan istilah ’amul huzn’. Peristiwa ini terjadi pada tahun kesepuluh kenabian. 

 

Dikatakan tahun kesedihan sebab ada dua peristiwa duka lara yang melanda Nabi Muhammad, yang pertama adalah kematian kakeknya dari pihak ayah, Abu Thalib, dan yang kedua adalah kematian istrinya yang menemaninya selama 25 tahun, Khadijah.

Kematian kedua tokoh sentral pendukung dakwah Rasulullah relatif berdekatan, walau para sejarawan berbeda pendapat, siapa yang meninggal lebih dulu, Abu Thalib atau Hadijah. Ada yang berpendapat bahwa Abu Thalib meninggal di Bulan Rajab, dan Hadijah di Bulan Ramadhan. Pendapat lain, Hadijah wafat 10 Ramadhan, dan Abu Thalib menyusul tiga puluh lima hari kemudian. Yang jelas, keduanya wafat ditahun kesepuluh kenabian, makanya disebut ‘tahun kesedihan’, tidak perlu dipermasalahkan, siapa di antara keduanya lebih awal tutup usia.

Abu Thalib adalah pemimpin kabilah Banu Hasyim, ia menjadi pengasuh Nabi Muhammad setelah Abdul Muthalib wafat—kakek dari pihak ibunya. Karena Abu Thalib merupakan tokoh penting di Makkah, maka dakwah Muhammad yang ditentang oleh pembesar Quraisy Makkah, seperti pamannya yang lain, Abu Jahal misalnya, relatif lebih aman. Sebab konsensus para tetua adalah jaminan dari kabilah tertentu tidak boleh diganggu gugat, dan konsensus tersebut berlaku secara tradisional. Para propogandis yang selalu menebar berita hoax bahwa Nabi seorang radikal dan penyihir terus digaungkan, dan pada tahap tertentu, Nabi dituduh teroris, dan harus dihabisi, tapi semua itu sirna, sebab ada Abu Thalib sebagai jaminan akan keberadaan Muhammad dan dakwahnya.

Hadijah juga demikian, wanita yang berprofesi sebagai entrepreneur, saudagar kaya raya, janda cantik, berkedudukan tinggi, padanya semua kebaikan yang diharapkan dari seorang wanita terhimpun. Sampai-sampai Aisyah ‘cemburu’ sebab Nabi terlalu sering menyebut-nyebut Hadijah di depannya. “Seakan-akan tidak ada wanita selain Hadijah yang ada di dunia ini. Kaannahu lam yakun fid-dunya imra’atun illa Hadijah! “.

Di lain waktu, Rasulullah menyandingkan Hadijah dengan wanita-wanita hebat dalam sejarah peradaban manusia. Sabdanya kepada Anas, “Cukuplah bagimu wanita di dunia ini: Maryam putri Imran, Hadijah binti Khuwailid, Fatimah putri Muhammad, dan Asiyah istri Fir’aun”.

Corona Datang

Tahun 2020 menjadi babak baru dalam peradaban modern umat manusia. Peradaban yang menjadikan sains terapan sebagai ukuran keberhasilan, siapa yang menguasai sanis, itulah yang menguasai dunia. Dari sains sehingga berbagai teknologi muncul, dan hampir setiap sisi dalam hidup kita dipermudah dengan teknologi. Mesin-mesin dihasilkan oleh mesin, manusia cukup menjadi pengontrol dan supervisor.

Pertanian, pertambangan, transportasi, komunikasi, pendidikan, hingga segenap kerja-kerja ibu rumah tangga di sumur, kasur, dan di dapur mampu dipermudah dengan teknologi. Untuk melahirkan anak, sepasang suami istri tidak melulu harus memperoduksi di atas kasur, tapi bisa menggunakan teknologi bayi tabung.

Dalam ranah kesehatan pun teknologi pengobatan dan beragam metodenya terus berkembang pesat, hampir tiap hari para ilmuan menemukan obat-obatan dengan berbagai varian dan jenis untuk menyembuhkan penyakit yang juga terus berkembang, walau sering pula, menyembuhkan satu penyakit namun mengundang penyakit lain.

Dengan sains dan teknologi yang ada dalam genggaman manusia kerap muncul kesombongan hingga melupakan Tuhan Sang Pencipta. Seakan-akan semua bisa dikendalikan. Akhirnya, Allah menurunkan bencana corona virus disesase tahun 2019 atau “covid-19”, dari sini kesedihan bermula.

Sejatinya, corona datang pada akhir tahun 2019 di Wuhan Cina, lalu menyebar ke berbagai negara, termasuk di Eropa, lewat Italia, lalu berkembang ke Amerika, dan menyapu bersih Asia dan Afrika, termasuk Indonesia. Walau pada awalnya, ada kealpaan dalam mengatasinya.

Covid-19 menghantam Indonesia termasuk semua negara di dunia tanpa diduga kedahsyatannya. Hingga akhir tahun ini, bukannya menurun, tetapi malah bertambah. Hal itu dilihat dari jumlah kasus harian yang berada di atas 8.000 dua hari terakhir ini.

Awal-awal masuknya di Indonesia, Singapura malah sudah lockdown. Semua warganya yang ada di luar negeri harus kembali, atau tidak diizinkan masuk Singapura kecuali lewat karantina dua minggu. Wisatawan yang masuk pun harus segera meninggalkan Singapura. Negara ini mulai dikunci pada tanggal 23 Januari 2020.

Di Indonesia, korban terus berjatuhan. Terlebih lagi dengan ditemukannya varian baru corona di Inggris dengan tingkat penularannya lebih gesit 70 persen dari biasanya. Memang, belum dipastikan bahwa varian baru tersebut lebih ganas dari varian lama. Melihat keadaan demikian, semestinya setiap orang berupaya mengambil bagian dalam membantu pemerintah memutus mata rantai corona. Mulai dari jaga jarak, pakai masker, dan rajin cuci tangan. Bagi Muslim tentunya dianjurkan sering-sering berwudhu, selain bersih juga dapat pahala.

Tahun 2020 banyak agenda terbengkalai, berbagai sektor pilar ekonomi ambruk, banyak karyawan di PHK, pekerjaan hilang, dan penghasilan minus. Bahkan pertumbuhan ekonomi kita secara nasional minus di bawah lima persen, nilai tukar rupiah terhadap dolar anjlok. Rakyak dalam kesusahan. Beban hidup sudah berat, diperparah lagi dengan pengungkapan kasus korupsi bansos untuk warga terpapar Covid-19.

Cukuplah peristiwa demi peristiwa yang melanda dunia secara umum, dan Indonesia secara khusus menjadi pelajaran bagi kita semua. Berapa banyak nyawa melayang akibat corona yang tidak mengenal status.

Kesedihan ini jangan ditambah dengan berbagai kebijakan yang tidak menguntungkan rakyat, hentikan kegaduhan yang tidak berkesudahan, tegakkan keadilan dan kembalilah pada jalan yang benar.

Di balik kesedihan yang melanda, harapan tetap selalu ada, dan itulah potensi dan energi terbesar umat Islam. Metode ‘sharing mechanism’ atau saling berbagi tetap tumbuh. Dipelopori oleh pemerintah, berbagai jenis bantuan digelontorkan dengan harapan agar ekonomi rakyat tetap hidup dan dapur mengepul.

Begitu pula bagi umat Islam, lewat zakat, infak, dan sedekah, masyarakat luas telah merasakan manfaat saling berbagi lewat metode syariat zakat. Terlihat jelas, tren pertumbuhan zakat meningkat, selain kasadaran masyarakat semakin tinggi, juga karena ditopang lembaga pengelola zakat seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) terus memperlihatkan kinerja yang profesional, akuntabel dan amanah. Kerja-kerja amil dalam menyasar dan menyisir mustahik dimana pun berada harus diapresiasi.

Kita percaya, syariat zakat mampu menjadi solusi utama dalam menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi yang tidak berkesudahan. Pemerintah pusat hingga daerah seharusnya menjadikan BAZNAS sebagai patner dalam mewujudkan Indonesia adil dan makmur. Selamat Tahun Baru, 1 Januari 2021 Masehi. Wallahu A’lam!

 Oleh: Dr Ilham Kadir, MA, Pimpinan BAZNAS Enrekang; Dosen UNIMEN

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Islamisasi di Sulawesi Selatan; Peran Ulama dan Raja-Raja