Pertemuan Terakhir dengan Petta Cinnong

 

Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA., Alumni MQWH Tuju-Tuju 1993.

"Sesungguhnya manusia itu menjadi buah bibir orang-orang yang ditinggal, maka jadilah kamu perbincangan yang baik bagi orang-orang setelahmu."

 

Komunikasi saya dengan Petta Cinnong selama ini terus terjalin, baik ketika merantau ke Malaysia sekitar tahun 1999-2005 maupun ketika ketika kembali ke Indonesia. Sewaktu mengajar di Sekolah Menengah Arab An-Nur, Benut Pontian, Johor, saya biasa mengirim surat padanya, mengabarkan keadaan dan kegiatan saya sebagai guru dan pengasuh di sekolah tersebut.

"Beliau [Petta Cinnong] sangat suka kalau ada santrinya yang mengabari kegiatannya, apalagi Antum bertahun-tahun diajar dengan beliau," kata Dr Muttaqin Said sewaktu berkunjung ke tempat saya di Johor.

Sewaktu kembali ke Indonesia dan merintis Pondok Pesantren Al-Qur'an Hidayatullah, Sememal, Tanjung Balai Karimun, saya biasa berkomunikasi via handphone dengan Petta Cinnong. Setelah mengetahui nomor handphone saya, beliau kerap lebih dulu menelpon saya bertanya kabar dan apa kegiatan.

Waktu bergulir, saya kembali ke Sulawesi Selatan. Hampir tiap tahun saya sempatkan mengikuti acara Tasyakkur di Pondok Pesantren Tuju-Tuju, Kajuara Bone, dan sepulang dari Tuju-Tuju saya selalu singgah silaturrahmi dengan Petta Cinnong.

Pada 23 November 2011, saya menikah di Enrekang, dan istri memang asli Enrekang Kota. Karena itu, jika ingin pulang ke rumah orang tua di Bonto Cani, saya melewati rute Enrekang, Sidrap, Soppeng, Lappariaja, Tanabatue, Masuk Camba-Maros dan Bonto Cani. Karena Tanabatue perbatasan dengan Palattae Kecamatan Kahu, maka, setiap saya pulang kampung, setiap itu pula singgah ke Palattae, silarurrahim sama Petta Cinnong.

Padata tahun 2020 ini, saya bertemu dengan Petta Cinnong sebanyak dua kali. Yang pertama pada awal Ramadhan 1441 Hijriah/24 April 2020 Masehi. Sewaktu ketemu, saya bawakan dua eksemplar buku fiksi yang saya tulis "Negeriku di Atas Wan: novel pemantik inspirasi".

"Novel ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya, dan terkhusus kepada Kita Puang, ini saya tulis, 'Lebih Khusus persembahan ini kepada Ustadzah Siti Nurhasanah Petta Cinnong', semoga bisa memberi inspirasi kepada anak-anak dan generasi muda, Puang!"

Sambil tersenyum ia menjawab, "Iye, Nak. Terima Kasih".

Lama juga kami berbicara, curhat, dan membahas tentang corona. Saya katakan padanya, "Alhamdulillah, saya perhatikan, anak-anak yang pernah nyantri di Tuju-Tuju dan pernah kita ajar, semuanya bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat luas."

"Itu juga yang dikatakan sama Ustadz Bachtiar Nasir pada saya, bahwa semoga apa yang pernah kita ajarkan kepada para santri-santri akan menjadi pemberat timbangan amal baik saya kelak," harap Petta Cinnong.

Setelah itu, ia bertanya terkait dengan keluarga saya: istri dan anak. Saya jawab sejujurnya dan apa adanya.

"Alhamdulillah anak-anak baik-baik, hanya saja istri saya sudah lama sakit, sejak akhir tahun 2019 sampai sekarang. Sudah ke berbagai dokter ahli, baik di Enrekang, Parepare maupun di Makassar, namun belum juga sembuh, sampai sekarang masih belum pulih seperti sedia kala."

Petta Cinnong kembali bertanya, "Kenapa begitu, Nak. Sakit apa itu?"

"Saya ceritakan bahwa sakitnya bukan saja medis, tapi non medis, sudah sering diruqyah, tetapi belum sembuh total. Intinya ada orang-orang yang berhati hasad pada kami, karena apa yang ia sampaikan ketika diruqyah, saya komparasi dengan fakta di lapangan, dan itu benar," begitu keterangan saya.

Siapa namanya istrimu, Nak? Tanya Petta Cinnong.

Setelah saya beritahu nama istri, ia pun mendoakan sejenak. Karena hari jelang siang, dan Bulan Ramadhan, maka saya berniat untuk pamit. Namun sebelum itu, dia menyampak--memukul ringan--paha saya, sambil berkata.

"Ini ada doa yang kita baca, insya Allah Allah akan memberikan pelajaran yang setimpal bagi orang-orang yang bermaksud jahat pada kita," katanya.

Petta Cinnong melafalkan doa itu, saya rekam, saya hafal, saya pahami, saya amalkan, dan alhdulillah memang manjur.

Pada tanyakkuran ke-45 Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-Tuju Bone, (7/8/2020). Walau masa corona dan dibatasi pertemuan dengan jumlah yang banyak. Saya sempatkan diri berkunjung ke Tuju-Tuju, walau sangat singkat. Sebelum Zuhur saya sudah pulang dan singgah ketemu Petta Cinnong.

Ketika saya masuk ke dalam rumah, terasa hening, tidak meriah seperti biasanya. Sebelumnya, setiap kali saya bertamu setiap itu pula Petta Cinnong dan kerabatnya yang dekat dengan beliau datang menyapa, apalagi mereka mengenal saya sejak di Tuju-Tuju 20 tahun lalu.

Tiba-tiba terdengar suara, "Ustadz Ilham, Petta Cinnong sakit, dia hanya bisa terbaring di tempat tidur, langsung masuk ke dalam saja, jenguk dia," kata kerabatnya.

Saya masuk kamarnya, melihat ia terbaring, sakit. Salah seorang ponakannya memberi aba-aba pada Petta Cinnong kalau saya datang.

"Puang, Ini Ustadz Ilham datang, dari Enrekang, ingin ketemu." Begitu kata ponakannya.

Saya sempat duduk sebentar di sisinya, memegang tangannya, menjabat, dan mencium tangannya. Saya tidak mampu menahan tangis, saya langsung teringat masa kanak-kanak saya, sewaktu nyantri di Tuju-Tuju, semua keperluan saya diurus oleh beliau, sampai saya kerap menginap dan tidur ditempat tidurnya.

Kali ini, saya menyaksikan bahwa beliau sakit parah, tangannya dingin, seakan-akan hanya tulang berbalut kulit. Informasi dari kerabatnya, bahwa Petta Cinnong sudah susah makan. Karena itu badannya makin kurus dan tenaganya makin hilang, dan lemas, selain faktor umur sudah uzdur.

Karena musim corona, dan saya adalah pendatang, sehingga tidak bisa tinggal berlama-lama. Hanya berharap agar Petta Cinnong bisa kembali sehat.

Takdir Allah berkata lain. Setiap orang apabila datang ajalnya maka tidak bisa dihindarkan. Maka tepat pada pukul, 03:40, hari Selasa 1 Desember 2020, Andi Siti Nurhasanah Petta Cinnong wafat. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.

Ya Allah ampunilah segala dosa dan kesalahannya, curahkan rahmat-Mu padanya, dan sempurnakanlah amal ibadahnya.

Enrekang, 3 Desember 2020.

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Gurutta, Anreguru, Panrita