Pendidikan Era Disrupsi

 

Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA.*

Tahun baru tiba, para orang tua yang anaknya akan masuk tahun ajaran baru atau masuk perguruan tinggi tahun ini mulai membuat strategi dan kebijakan agar ekonomi rumah tangga tetap stabil dan anak-anak yang akan lanjut sekolah berjalan mulus. Sebagai bahan referensi dalam membuat keputusan yang tepat, jangan sampai pendidikan justru memiskinkan. Lalu, kemana anak sebaiknya sekolah? Dan bagaimana mereoreintasi tujuan pendidikan?

 

Gadis berparas ayu itu merupakan seorang sarjana ilmu pemerintahan, jebolan universitas negeri bergengsi di Makassar, setiap hari ikut membantu meringankan pekerjaan orang tuanya di pasar dengan berjualan aneka makanan dan minuman. Gadis itu yatim, ayahnya meninggal dunia ketika masih duduk di bangku SLTA. Sementara ibunya, tidak memiliki penghasilan lain selain menjual makanan dan minuman di emperan pasar. Serupa tapi tidak sama, seorang gadis yang kuliah di jurusan keperawatan, dengan biaya yang cukup mahal, selain itu, anak tersebut hanya dibiayai oleh ibunya, sebab ayahnya merantau dan tidak pernah peduli akan kelangsungan pendidikan anaknya, bahkan kembali menikah di rantau. Setelah jadi perawat ia malah alih profesi jadi reseller online, sebab menjadi perawat di rumah sakit negeri honornya tidak cukup menutupi biaya hidup. Padahal orang tua mereka rela menderita dari kemiskinan demi pendidikan anaknya.

 

Kasus lain, seorang ibu bolak-balik ke Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) untuk mengurus bantuan usaha. Setelah diverifikasi dan diselidiki, ibu itu pernah jaya, dengan memiliki belasan ekor sapi perah, di kampungnya kala itu dia termasuk peternak sukses . Tapi setelah suaminya wafat, dan anaknya kuliah di pelayaran, satu persatu sapinya dijual untuk menutupi biaya pendidikan anaknya. Selesai pendidikan, sapinya habis, dan sumber penghasilan hilang, di saat yang sama anaknya telah lulus dan ingin membantu orang tuanya beternak sapi perah sebab lowongan kerja di dunia pelayaran ternyata tidak semudah bayangannya.

 

Seorang teman yang punya tiga anak bersamaan masuk sekolah, yang pertama masuk kuliah di universitas ternama di Jawa, kedua dan ketiga masuk sekolah berasrama (boarding school) dengan biaya masing-masing di atas 10 juta. Dengan penghasilan yang pas-pasan, tentu sangat terbebani, tapi karena semangat ingin menyekolahkan anak-anaknya begitu tinggi, sehingga setiap berbicara masalah problematika pembiayaan pendidikan anaknya ia tutup dengan kata-kata, "Insya Allah setiap anak ada rezekinya."

 

Kisah lain, seorang santri yang merupakan yunior saya di Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-tuju, setelah menyelesaikan sekolah tingkat Aliah, ia terpengaruh dengan ajakan teman-temannya untuk masuk kuliah kebidanan, sebab banyak lowongan kerja di sana, karena setiap saat perempuan-perempuan Indonesia tak pernah berhenti melahirkan. Ia pun ikut, dan selesai selama tiga tahun. Setelah diwisuda ia melihat bahwa persaingan antar bidan ketat, dan kalau jadi honorer, bekerja delapan jam sehari dan digaji dengan upah 600 ribu rupiah perbulan dan dibayar pertiga bulan. Melihat fenomena itu, ia banting stir, kembali kuliah di jurusan pendidikan agama Islam, dan selesai tepat waktu, lalu kini menjadi guru di sekolah unggulan dengan gaji di atas UMR.

 

Kasus lain, beberapa anak yang putus sekolah karena masalah biaya. Mereka ini umumnya dari kampung, dan hanya selesai SMP. Karena jika hendak lanjut ke SMA butuh perjalanan jauh dari rumahnya. Ketika beranjak remaja, ia juga ingin punya skill untuk bisa mandiri. Ketika Baznas Enrekang buka program kerjasama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Makassar. Banyak yang daftar, lalu mereka ikut pelatihan selama tiga bulan, dan diwajibkan magang minimal sebulan. Selesai magang, sebagian kembali ke kampung membuka usaha bengkel dan berkembang, sebagian lainnya melamar ke perusahan tambang di Papua dan Kalimantan. Beberapa bulan kemudian ia yang dulunya mustahik atau menerima zakat, kini berubah menjadi muzakki, pendapatannya perbulan bahkan mencapai belasan juta.

 

Era Disrupsi

 

Disrupsi adalah sebuah era terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran yang secara fundamental yang mengubah semua sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru. Akibatnya pemain yang masih menggunakan cara dan sistem lama kalah bersaing. Sistem lama dimaksud dalam dunia pendidikan adalah paradigma lama. Orientasi orang tua dan para tenaga didik dalam mendidik peserta didik adalah untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja di kantor-kantor dan instansi-instansi pemerintahan.

 

Karena itu, orang tua yang dianggap berhasil jika anakanya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan kesuksesan itu dianggap lebih tinggi jika anaknya memegang jabatan tertentu. Akhirnya 'PNS Oriented' sampai saat ini belum bisa lepas dalam benak setiap guru dan orang tua. Akibatnya, mereka yang belum dapat kesempatan mendaftar atau lulus jadi PNS menghabiskan umurnya sebagai tenaga honorer dengan maksud dan tujuan, jika ada pengangkatan PNS ia akan terpilih. Gaya hidup mereka juga terlihat mewah, dengan seragam keki berwibawa, licin mengkilat dipadu gadget lebih canggih dari milik Bupati, seakan berada pada zona nyaman, sayangnya mereka masih disubsidi dari ibu bapak. Dan tidak sedikit guru, tenaga medis, pegawai kantor telah mengabdi sebagai honorer di atas 20 tahun, dan belum juga ada tanda-tanda akan berubah nasib menjadi PNS. Mereka telah menghabiskan waktunya untuk negara, tapi negara belum mampu membalas jasanya secara memadai.

 

Di lain pihak, generasi milenial yang paham akan situasi dan kondisi zaman, banyak yang tetiba berubah nasibnya. Di kampung, mereka yang cerdas membaca zaman memahami bahwa pertanian dan peternakan adalah kebutuhan primer setiap orang. Mereka pun bercocok tanam, ada yang menanam bawang, jahe dan lainnya. Di kampung saya, di Bontocani, ayah saya menanam 200 kg jahe, dan menghasilkan panen sebanyak dua ton, harga jahe per kilogram berada pada kisaran 25 ribu rupiah. Di Enrekang bahkan ada yang panen bawang puluhan ton dan meraup keuntungan hingga miliaran jika harga bersahabat. Demikian pula, di beberapa tempat di Enrekang, anak-anak muda memulai usaha beternak ayam, dan menghasilkan puluhan juta perbulan. Mereka sesungguhnya enterpreneur yang cerdas membaca zaman, walau tidak pernah duduk di bangku kuliah.

 

Jelas dan terang. Orang tua yang salah dalam memahami orientasi pendidikan akan dimiskikan oleh pendidikan, selesai sekolah tapi hampir tiada guna. Di lain pihak, mereka yang cerdas membaca zaman bisa berhasil dengan belajar mandiri dari pengalaman dan aneka informasi yang begitu lengkap di dunia maya. Era disrupsi tidak penting di mana Anda kuliah, dan jurusan apa yang Anda ambil? Tapi pertanyannya, Kompetensi apa yang Anda miliki? Makin banyak kompetensi, makin besar peluang bersaing secara terbuka, dan tentu peluang sukses berkarir terbuka lebar.

 

Saat ini, bukan lagi kita bertanya pada anak, Nak, nanti kalau kamu besar mau jadi apa? Dan anak menjawab, mau jadi presiden, menteri, dokter, tentara atau polisi? Tapi anak kita harus ditanya, Kalau besar mau buat apa, Nak? Maka ia akan menjawab, "Saya akan buat dunia tunduk pada saya!". Wallahu A'lam!

 *

Enrekang, 14 Januari 2021. Dimuat TRIBUN TIMUR, 15/01/2021.

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Gurutta, Anreguru, Panrita