Pelajaran dari Petta Cinnong

 

Oleh: Ilham Kadir, Alumni MQWH Tuju-Tuju 1993.

Masyarakat Bugis, pada zaman dahulu, khususnya di zaman kekuasaan para raja, strata sosial dibagi menjadi beberapa tingkat, yang tertinggi adalah anakarung atau keturunan para raja, lalu to panrita atau ulama, seterusnya to acca atau cendekiawan, to warani atau ksatria, lalu to sugi atau para orang kaya [saudagar], lalu to maradeka, atau orang merdeka, dan terakhir adalah ata' atau hamba sahaya.

Para anakarung, setelah Indonesia merdeka, dan kerajaan dilebur dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, para anakarung tetap memiliki posisi dan tempat di tengah masyarakat. Demikian adanya, karena mereka dikenal dengan adab yang tinggi, diperkuat dengan tetap memegang status quo di tengah masyarakat, disebabkan karena pendidikan yang tinggi sehingga jabatan-jabatan tertentu masih dipegang oleh keturunan anakarung. Walau seiring bergulirnya waktu, banyak anakarung kalah populer dan kalah saing oleh orang-orang biasa yang berhasil dalam pendidikan sehingga menjadi panrita, to acca, dan to sugi.

Para anakarung ini, umumnya memiliki tanda dengan namanua didahului 'Andi', selain itu, biasanya memiliki nama panggilan atau 'laqab'. Misalnya, Andi Siti Nurhasanah. Ini nama aslinya, setelah dewasa atau umumnya setelah nikah, dibuatkan nama panggilan, maka disebutlah ia dengan nama populer "Petta Cinnong". Begitulah orang Bugis memperlakukan keturunan anakarung, dengan menempatkan mereka di tempat yang mulia dan terhormat.

Perlu dicatat, di Bone dan sekitarnya, banyak anakarung, banyak petta, dan lebih banyak lagi 'puang'. Kata 'puang' biasa digunakan kata ganti untuk 'petta', tapi kadang juga 'puang' dipakai untuk menghotmati siapa pun itu.

Apa yang istimewa dengan "Petta Cinnong?" Tentu banyak, salah satunya, wanita ini menggabungkan dua kemuliaan, sebagai anakarung dan sebagai panrita. Ia keturunan raja sekaligus seorang ulama, jadi menghimpun dua kemuliaan.

***

Ketika saya masuk jadi santri di Pesantren Majelisul Qurra' Wal- Huffadz Tuju-Tuju Kajuara, Bone, saat itu baru tamat Sekolah Dasar. Karena di kampung kami dari keluarga miskin sehingga saya kekurangan gizi, dan pertimbuhan saya jadi kerdil, berat dan tinggi badan saya hampir sama dengan anak saya yang baru TK saat ini.

Sebenarnya, nama saya di Kampung "Iwan" tapi ketika penulisan ijazah orang tua saya menggantinya dengan "Ilham", mungkin ia dapat ilham untuk nama saya. Sesampai di Tuju-Tuju, Petta Cinnong meringkas dengan menyebut "Ile". Huruf "e" dibaca sama dengan mengeja kata "emas".

Kala itu, Petta Cinnong yang merupakan istri (nyai) dari Anregurutta H Lanre Said. Ia menjadi ibu dari santri-santri seperti kami ini, memasak, mengasuh, mengajar, menjadi muhafizh, bahkan sampai mencucikan pakaian para santri. Sosok ibu bagi kami, tidak pernah saya saksikan ia istirahat, misalnya tertidur. Demikian adanya, sebab kami tidur sebelum ia tidur, lalu jam 04.00 pagi, ia sudah bangun lebih dulu, dan membangunkan kami.

Sebenarnya ada waktu istirahat, antara zuhur dan asar. Tapi saat itu orang-orang kampung, atau anak-anak yang tinggal di sekitar pondok datang mengaji. Ia mengajar dengan berbahasa Bugis, semacam tahajji begini: Alefu riase'na A, Alefu riawana I, Alefu dapena U. Bahasa Indonesia-Arabnya begini: Alif Fathah A, Alif Kasrah I, Alif Dhammah U. Biasanya anak-anak ini kalau mengaji dengan suara keras, sehingga kami para santri terganggu untuk istirahat.

Petta Cinnong seorang ustazah yang hafal Al-Qur'an dengan mutqin 30 juz. Karena itu kami menyetor hafalan dengan beliau, kami sebut 'mangngolo' atau menyetor hafalan setiap bakda subuh, kadang juga mengulang (takrir) bakda Isya.

Waktu itu, ada lima kelompok "mangngolo", para guru dari Pondok Modern Gontor menyeror hafalan sama Anregurutta Lanre Said, para santri-santri yang sudah mapan bacaannya mengolo' sama Petta Cinnong, dan yang pemula akan dihadapi oleh Ust. Ahmad, Ust. Rahman, dan Ust. Sudirman. Saya sendiri kadang sama Petta Cinnong, kadang juga sama Ust. Ahmad dan Ust. Rahman.

Sehabis mangngolo dipagi hari, Petta Cinnong juga belajar di Kulliatul Muallim Al-Islamiyah (KMI) kelasnya disebut Fashlul Khas, kelas khusus, mereka ada beberapa orang, dan selesai belajar selama 4 tahun. Walaupun sebenarnya bahasa Arabnya sudah cukup mapan, cuma semangat belajarnya yang sangat tinggi.

Akhirnya Petta Cinnong menguasai Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Balaghah, Ilmu Alqur'an, Tafsir, Musthalah Hadits, Hadits, Ushul Fiqh, Fiqh, Ilmu Tauhid, hingga Ilmu Mawarits. Ia juga menguasai ilmu-ilmu lontara, ilmu tradisional masyarakat Bugis.

Petta Cinnong, sesuai namanya, "cinnong" bening, dan "hasanah" baik. Merupakan wanita terbaik yang pernah saya temukan. Kebaikan-kebaikan yang seharusnya ada pada diri setiap wanita, terhimpun pada dirinya. Saya adalah orang yang bertuah karena pernah diasuh dan diajar oleh beliau. Menganggap saya sebagai anak, tanpa membedakan dengan yang lainnya. Beberapa kali ia menghukum saya.

Suatu ketika, di siang hari. Saya mengganggu krabatnya yang juga mondok di usianya masih kelas 3 SD, namanya Dzul Qarnain Muhbar (sekarang sudah jadi doktor) asal Sinjai. Karena Dzul menangis cukup kuat lalu melapor ke Petta Cinnong, maka saya pun dihukum. Disuruh duduk, selonjorkan kaki, lalu "plak", rotan itu mengenai telapak kaki saya. Begitu ia menghukum anak-anak yang usil, seperti saya.

Keikhlasan, kedermawanan, keuletan, kesabaran, ketabahan, terhimpun pada diri Petta Cinnong. Orang-orang datang bertemu dirinya, setiap hari, dan semuanya membawa mutiara dari diri wanita penuh keberkahan ini.

Suaranya yang lembut, kata-katanya selalu bermakna, dan tidak pernah terdengar keluh kesah dari mulutnya. Ia selalu mengeluarkan nasihat-nasihat yang kelak jadi bekal kehidupan para santrinya. Karena itulah, kami semua selalu merindukan sosok Petta Cinnong. Kepergiannya untuk selamanya, pada 1 Desember 2020 mengingatkan kami tentang kebaikan-kebaikan yang ia semai pada kami, dan kini ia sedang memanen hasilnya. Selamat Jalan Puang, Ajak Kami Bersamamu di Surga Allah!

Cemba-Enrekang, 5 Desember 2020.

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Islamisasi di Sulawesi Selatan; Peran Ulama dan Raja-Raja