Orang-Orang Pesantren

 

Oleh: Dr Ilham Kadir, MA., Alumni Pondok Pesantren Darul Huffadh, Tuju-Tuju Bone


Kalau diikuti teori W.J.S Purwadarnita dalam kamusnya, maka arti santri dan santeri ialah orang yang menuntut pelajaran islam dengan pergi berguru ke tempat yang jauh seperti pesantren dan sebagainya. Tetapi kalau diikuti pengertian umum, maka santri ialah mereka yang mempelajari agama islam, baik yang pergi ke tempat yang jauh maupun dekat dengan niat hendak mengamalkan ilmunya, dan hendak menyebarluaskannya. Hasil dari ilmu yang dituntut itu dengan sendirinya mempengaruhi perilaku sehari-harinya. Karena yakin akan kebenaran gurunya. Mereka meniru laku dan perbuatan gurunya. Ilmu yang diperoleh dari mereka, artinya dari gurunya, dijadikan dasar pola membentuk sikap mental dan watak mereka dalam hidup. Semua ini lantaran dilandasi oleh suatu niat suci dalam hatinya bahwa ilmu-ilmunya memang diyakini kebenarannya serta akan di praktikkan dalam amal sehari-hari. Oleh sebab itu, barang siapa yang mempelajari Islam sekadar untuk diketahui, baik karena tidak meyakini kebenarannya, maupun untuk tujuan yang merugikan Islam dan umatnya, maka ia tidak layak disebut santri. Demikian definisi pesantren yang ditulis oleh KH. Saefuddin Zuhir, Guruku Orang-orang Pesantren, Yogyakarta: 2001.

 

Ayah dari mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin itu juga menerangkan tentang seseorang yang layak disebut santri secara utuh. Ia melanjutkan tulisannya,

 

Prof.Dr.Ch.Snouck Hurgronje (1857-1936) adalah seorang Kristen yang menjadi penasihat pemerintah Hindia Belanda mengenai soal-soal agama Islam. Walaupun pengetahuannya tentang Islam sangat banyak, ia tak bisa disebut seorang santri ketika bertahun-tahun sedang mempelajari agama Islam. Ia pernah menjabat guru besar tentang Islamologi pada Universitas Leiden. Celakanya, ia pernah menyamar di Makkah sebagai dokter mata dan tukang potret dengan memakai nama samaran Abdul Ghafur, karena tugasnya untuk melumpuhkan kekuatan umat Islam Indonesia berhubungan perlawanan umat ini terhadap kekuasaan Belanda di mana-mana, dan khususnya ketika belanda sangat kewalahan mengahadapi perang aceh, Diponegoro, hingga Iman bonjol. Maka kita sangat keberatan kalau professor Belanda ini dogolongkan seorang santri. Dia pun tentunya tidak sudi disebut santri.

 

Maka jaelaslah—Lanjut Saifuddin Zuhri—bahwa santri adalah mereka yang belajara ilmu-ilmu agama Islam dengan niat untuk mengamalkan ilmu yang mereka yakini kebenarannya 100% itu. Bahkan hendak menyebarluaskan ilmunya itu untuk tujuan membela dan memperkembangkan Islam. Selama mereka belajar, tugas dan perhatian mereka cumalah belajar dan belajar tentang segala seluk-beluk agama Islam dengan segala ilmunya. Hal itu sesuai dengan pesan dan nasehat orang tua mereka, agar mereka cuma belajar tentang ilmu Islam. Bagaimana tentang penghidupan mereka kelak dikemudian hari? Pada umumnya tidaklah mereka pikirkan benar. Karena apa? Karena orang tua mereka masing-masing telah menyiapkan di kampungnya barang sebidang sawah atau ladang, atau perusahaan orangtuanya yang telah menanti kelak untuk diurus sebagai bekal hidup manakala mereka telah selesai belajar. Mereka memusatkan cita-citanya untuk kelak menjadi kiai atau ustadz seperti gurunya, sedang lapangan kerja baginya telah tersedia. Mereka akan menjadi orang masyarakat yang terjun ke tengah-tengah umat. Hampir tidak ada yang terlintas dalam angan-angannya agar kelak menjadi pegawai negeri apalagi pegawai pemerintah jajahan. 

 

Saifuddin Zuhri juga banyak bercerita tentang ilmu apa yang harus dipelajari bagi seroang santri, ia pun menulis. “Mau tak mau mestilah belajar nahwu-sharaf kalau mau bisa baca kitab gundul. Berbeda dengan Al-Qur’an semua orang bisa baca, asal sudah menguasai alphabet atau abjad Arab dengan segala karakternya. Itupun masih harus belajar tajwid dan qiraat. Lain halnya untuk bisa membaca kitab gundul, mestilah belajar nahwu-shafaf agar tahu fungsi akhiran dan permulaan kalimat, dan bagaimana mesti dibaca. Ini baru pasal bisa membaca, belum pasal mengertinya, artinya, mengerti apa yang dibaca, maknanya dan artinya. Harus belajar bahasa Arab. Belajar bahasa asing memang susah, memerlukan ketekunan. Selain otak harus dicuci, mulutpun harus diajar bagaimana mengucapkannya.”

 

Selain itu, ia menarasikan bahwa pada zamannya setiap pesantren punya kiai yang memiliki spesifikasi keilmuan tertentu, sambil menyebut nama kiainya yang bernama Kiai Khalimi. Ia pun menulis, “Kiai Khalimi terkenal sebagai kiai spesialis nahwu-sharaf. Di pesantrennya, belajar bukan hanya anak-anak sekampungku, tetapi juga dari lain-lain daerah. Kami senang belajar di Pesantren Kiai Khalimi ini. waktu malam hari setelah pulang dari madrasah. Ilmu nahwu dan sharaf memang menjemukan, memerlukan pemikiran yang serius. Tapi menarik hati. Banyak hal-hal yang baru dari kajian ini. Anak-anak tingkat pemulaan memakai pedoman Kitab Ajrumiyah, lalu bersambung Imrithi dan lebih tinggi lagi Alfiyah, ini dia sudah golongan jempolan, membaca kitab gundul sudah ndlendeng saja, meluncur seperti sepeda tanpa rem.

 

K.H. Saifuddin Zuhri adalah seorang guru besar,  lahir di Kota Kawedanan Sokaraja, 1 Oktober 1919, meninggal 25 Maret 1986 pada umur 66 tahun. Merupakan  Menteri Agama Republik Indonesia pada Kabinet Kerja III, Kabinet Kerja IV, Kabinet Dwikora I, Kabinet Dwikora II, dan Kabinet Ampera I (1962-1967).  Pada usia 35 tahun K.H. Saifuddin Zuhri menjabat Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merangkap Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat dan anggota Parlemen Sementara. Presiden Soekarno mengangkatnya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI pada usia 39 tahun, lalu mengangkatnya menjadi Menteri Agama ketika berusia 43 tahun.

 

Terlalu banyak yang sangat penting untuk dinarasikan dari buku karya ulama besar, politisi, aktivis, dan penulis produktif itu, KH. Saifuddin Zuhri. Namun yang terpenting bahwa santri selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia, sejak dahulu hingga sekarang. Hari santri mengingatkan kita betapa besar perjungan orang-orang pesantren, baik dalam melawan penjajah dan mempertahankan NKRI maupun dalam mengisi kemerdekaan. Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2020. Santri sehat negara kuat!

 

Dimuat TRIBUN TIMUR, 23 OKTOBER 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Islamisasi di Sulawesi Selatan; Peran Ulama dan Raja-Raja