Menggali Makna dibalik Peristiwa

 

Oleh: Dr. Ilham Kadir, Tim BTB Baznas Enrekang

Tahun 2021 tiba, disambut dengan suasana pandemii covid-19. Jika biasanya setiap tahun baru tiba, para muda-mudi riuh rendah menyambut dengan sukacita, ada yang membakar petasan, konser musik, namun ada pula yang melakukan pengajian, zikir bersama hingga muhasabah. Tapi semua itu tidak dapat dilaksanakan karena korban pademi terus berguguran. Dan hingga saat ini tanda-tanda jika corona akan sirna dari bumi Indonesia belum juga muncul, bahkan trennya semakin melonjak ditandai dengan banyaknya rumah sakit yang tidak mampu lagi menampung pasien karena penuh. Tidak sedikit orang yang jengah bahkan bosan mendengar kata 'pandemi covid', termasuk saya. Namun tetap harus waspada dan saling mengingatkan agar jangan sampai tertular, dan itulah antara tujuan tulisan ini.

Januari 2021 datang. Kita masih mengharap-harap cemas, apakah tahun ini lebih baik dari tahun lalu, atau sebaliknya, tahun ini lebih buruk, atau minimal sama. Dalam suasana galau, tetiba kita dihentakkan dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Airlines SJ 184, peristiwa ini diperkirakan hanya butuh waktu 20 detik, pesawat nahas itu terhempas dari ketinggian 10.000 kaki di Kepulauan Seribu. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 9 Januari. Musibah ini menewaskan 49 penumpang dan 12 kru pesawat termasuk pilot dan copilot.

Keesokan harinya (10/1), bencana longsor di Desa Cihanjuang, Cimanggung, Kabupaten Sumedang menewaskan 40 orang. Seluruh korban ditemukan setelah operasi yang dilakukan tim SAR gabungan selama 10 hari. Belum kering air mata akibat pesawat jatuh dan sebagian korban longsor masih tertimbun, datang pula banjir di Kalimantan Selatan (12-13/1). Sebanyak 1.358 sekolah di 13 kabupaten/kota yang terdampak banjir mengalami kerusakan, belum lagi kita berhitung tempat tinggal, rumah ibadah, tempat usaha, hingga mata pencaharian lainnya. Sebanyak 21 warga tewas, masih ada yang hanyut dan belum ditemukan. Jumlah warga yang terdampak banjir sebanyak 483.324 orang, 60.957 diantaranya masih mengungsi.

Ini adalah banjir terdahsyat di Kalsel dalam satu abad terakhir. Para pengamat menilai bahwa banjir kali ini karena pengaruh ekologi, banyaknya lahan perkebunan dibuka dengan cara membabat hutan secara sporadis yang selama ini sebagai penyerap air, tambang batu bara beroperasi tanpa jedah, bumi dikeruk hingga ke dasar perut, atau karena gas dan minyaknya disesot tanpa ampun, selain tidak adanya reboisasi. Tapi Presiden Indonesia yang merupakan alumni Fakultas Kehutanan UGM berkata, Banjir terjadi di Kalsel karena curah hujan tinggi. Tentu saya tidak sepenuhnya sependapat!

Entah dosa apa yang diperbut oleh para hulubalang negeri ini sehingga musibah seperti mata rantai, berantai antara satu dengan lainnya, tak terputus. Belum lagi kering kalimantan dari genangan air banjir, tetiba Mamuju dan Majene dihentak gempa berskala 6.3 magnitudo (15/1) sebelum itu (14/1) telah terjadi gempa berkekuatan 5.9 magnitudo. Hingga saat ini, BMKG Makassar mencatat 42 kali gempa bumi telah mengguncang Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat. Gempa terakhir terjadi pada 20 Januari 2021 pukul 13.10 waktu setempat dengan kekuatan magnitudo 2,8. Korban meninggal akibat gempa sebanyak 91 jiwa, hilang tiga orang, luka berat 253 orang, luka ringan 679 orang, dan luka sedang 240 orang. Selain itu, diinformasikan bahwa warga yang mengungsi terdapat sejumlah 9.910 jiwa. Pengungsi tersebar di beberapa titik pengungsian dengan rincian Kabupaten Mamuju teridentifkasi sementara lima titik seperti di Jalu, Stadion Mamuju, Gerbang Kota Mamuju, Tapalang, Kantor Bupati, dan Terminal Simbuang Mamuju. Sementara di Kabupaten Majene ada dua titik teridentifikasi yaitu di SPN Malunda dan Desa Sulet Malunda.

Apakah musibah awal tahun 2021 sampai di sini? Tidak. Pada tanggal 16 Januari, Gunung Semeru menyemburkan lava panas membara hingga radius 1,5 KM. Peristiwa ini membuat warga Lumajang sekitar Gunung Semeru waspada dan tentu korban materi tidak sedikit, kita bersyukur karena tidak ada korban jiwa. Dari Semeru kita bergeser ke Manado. Musibah banjir bandang dan longsor akibat hujan deras melanda sejumlah wilayah di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara pada Jumat (22/1). Badan SAR Nasional (Basarnas) Manado, mengatakan bahwa akibat banjir tersebut, 2 orang dilaporkan meninggal dunia, sedangkan 1 orang korban terseret arus deras masih dalam pencarian.

*Menggali Makna*

Salah satu prinsip manusia sekuler adalah menggusur keberadaan Tuhan dalam ruang publik. Ketika ada masalah mereka sibuk mengekuarkan teori-teori yang menurut mereka ilmiah dan tidak akan pernah melibatkan Tuhan. Peristiwa demi peristiwa berlalu tanpa makna, dan tanpa pelajaran dan tidak merasa bersalah. Cara memandang dunia worldview yang seperti ini sejatinya racun bagi akidah, sebab merusak sendi-sendi keimanan bahwa setiap peristiwa dipastikan ada campur tangan Sang Maha Pencipta.

Dalam diskursus dunia filsafat, kita kenal teori 'kausalitas' alias sebab dan akibat: ada sebab ada akibat. Sebab seorang wanita mengandung akibat melakukan 'kontak kelamin' dengan lelaki. Penyebab orang berilmu akibat dari belajar sungguh-sungguh, penyebab orang lain berbuat baik pada kita karena kita berbuat baik pada mereka. Demikian pula, penyebab alam bersahabat dengan kita sebab diperlakukan dengan baik, bahkan seekor hewan buas dan paling buas sekelas buaya, bisa tunduk pada manusia jika manusia memperlakukan ia dengan baik. Ketika manusia jahat sama alam, menjadikan alam sebagai pelacur, bahkan memperkosa dengan dengan biadab, maka suatu ketika, dengan kehendak Tuhan akan melakukan pembalasan. Inilah yang dimaksud dalam Firman Allah, "In ahsantum ahsantum liamfusikum, wa in asa'tum falaha. Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri", (QS. Al-Isra: 7).

Jelas dan pasti bahwa ada relasi dan korelasi yang kencang antara pemimpin, rakyat, alam, sikap, keimanan dengan rentetan musibah yang terjadi. Namun apakah kita tetap 'kepala batu' dengan tidak mau mengambil makna, pelajaran, dan i'tibar di seriap peristiwa yang terjadi di depan mata. Renungkanlah!

Untuk mempersingkat pembahasan, saya sodorkan petuah ulama dan pahlawan nasional Indonesia, sekaligus Pendiri Persyarikatan Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, berikut kutipannya, "Perhatikan alam dan bangsamu, jika di suatu bangsa yang beriman, mereka mengaku sebagai pemimpin yang baik, namun jika terjadi kerusakan akibat bencana alam yang berturut-turut itu bertanda rusak pemimpinmu. Jika rusak pemimpinmu maka rusaklah tatanan masyarakarmu, mereka saling mengfitnah, saling menghujat, saling mencela tak bisa terhindarkan, di saat itu Allah memberi peringatan bagi dengan musibah yang tiada henti".

Mamuju, 24 Januari 2021.

 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Pembaruan Pendidikan KH. Ahmad Dahlan

Islamisasi di Sulawesi Selatan; Peran Ulama dan Raja-Raja