Pelacuran dan Tahun Baru Hijriah

  

Oleh: Dr. Ilham Kadir,*

 Dalam menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 kali ini, salah satu tema berita yang menjadi sorotan adalah prostitusi berbasis digital yang melibatkan mucikari, artis ibu kota, dan pelanggan yang kejadiannya di salah satu hotel berbintang di Lampung. Hingga kini, sedikitnya sudah tiga mucikari yang telah ditangkap, ada pun Sang Artis, masih bebas karena berbagai alasan, demikian pula pengguna jasa pelacuran, belum diungkap sama sekali. Melihat fenomena ini, tentu bukan sebuah kebetulan, dan bukan pula tidak disengaja, ini adalah fenomena ‘gunung es’ dunia pelacuran di era digital.

Seorang mucikari bisa ‘menjual anak asuhnya’ jauh lebih mudah di era digital ini, sebab Si Mucikari tidak lagi berurusan secara konvensional kepada para pelacur dan pelanggan, transaksi serba onlie, kecuali ‘pelayanan khusus untuk pelanggan’. Anak asuh pun makin bervariasi, dari kasta terendah hingga kalangan artis ibu kota yang tiap saat muncul di televisi dan berbagai media, dengan wajah dan lekuk tubuh nyaris sempurna.

Pelacuran merupakan bisnis tertua yang dikenal manusia sejak zaman dulu. Bahkan hingga kini, bisnis haram ini kian mengalami kemajuan seiring dengan berkembangnya teknologi, terutama di abad informasi ini. Salah satunya dengan media internet yang makin digandrungi berbagai kalangan, membuat pelacuran menjadi makin mudah didapatkan. Pelacuran jura menjadi profesi tertua yang selalu ada di setiap zaman, dan selalu saja ada oknum-oknum yang rela menghambakan diri pada hawa nafsu. Penyebabnya tentu beragam, motif ekonomi hanyalah salah satunya, namun bukan satu-satunya sebagaimana yang kerap menjadi alasan para pelacur di Indlnesia. Sebab jika itu benar, tentu saja di negara-negara maju yang memiliki banyak lapangan kerja, sudah tidak memiliki pelacur, nyatanya justru di negara maju, termasuk Eropa, atau yang terdekat, seperti Singapura, pelacuran kian marak dan semakin menggila.

Faktanya, pelacuran telah terjadi hampir di seluruh bangsa dan negara yang tak kenal setting ruang dan waktu. Misalnya, pada zaman India kuno, pelacur kelas bawahan disebut ‘Kumbhadasi.’ Dalam masyarakat itu, kaum wanita dari golongan rendah diberi dua pilihan, yaitu menikah atau menjadi ‘pelacur. Ada pun Yunani Kuno, pelacur jalanan disebut ‘Pornoi.’ Masyarakat Yunani Kuno telah mengenal ‘Pelacuran kuil’ sebuah institusi purba tempat para pelacur meyumbangkan uang hasil kerja untuk kuil Aphrodite demi mendapatkan anugerah dari para dewi. Bahkan mereka diberi gelar ‘Hierodouli.’

Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud dalam "Budaya Ilmu Satu; Penjelasan, 2007", menulis bahwa Filsuf Yuani seperti Socrates walaupun meletakkan ilmu sebagai keutamaan tertinggi (arere) dan seluruh kejahatan berasal dari kebodohan. Bagi mereka, tanpa ilmu yang hakiki, perbuatan baik adalah mustahil: dengan ilmu yang benar, perbuatan baik menjadi sebuah keniscayaan. Namun konsep ilmu orang Yunani tidak jitu dan holistik. Contohnya, walaupun pada tahap teori mereka mengaitkan ilmu dengan akhlak, seperti yang disebutkan di atas, namun dari segi praktiknya terdapat distorsi. Will Durant, mengulas masalah ini dengan berkata bahwa orang Atena pada abad kelima sebelum Masehi bukan merupakan contoh akhlak yang baik. Bahkan pembangunan akal mereka telah memberi peluang luas bagi mereka, serta menjadikan mereka hampir tidak bermoral.

Para lelaki, termasuk golongan cendekiawan, melakukan hubungan seks yang bebas, termasuk seks sesama jenis (homo dan lesbi). Demonsthenes, seorang ahli filsafat, mengabadikan prilaku mereka yang pintar tapi tidak bermoral, “Kami memiliki rumah bordir kelas tinggi [coutesans] untuk bersenang-senang, gundik untuk kesehatan tubuh tiap hari, dan istri untuk melahirkan keturunan yang halal, dan untuk menjadi penjaga rumah terpercaya”.

Setali tiga uang dengan Romawi, pelacur dikatakan sebagai penjahat dan pengganggu anak-anak. Selain diharuskan berpakaian tertentu untuk membedakan mereka dengan golongan bangsawan. Di Asysyiria, ditetapkan hukuman bagi pelacur membuka tutup kepalanya sebagai pembeda dengan golongan lain. Pada zaman Babilonia, dikenal nama ‘Kizrete.’ Mereka disanjung sebagai golongan terhormat. Cerita-cerita tentang pelacur terhormat ini turut mewarnai kisah rakyat Mesir Kuno. Di Jepang, pelacur justru ditempatkan di tempat terhormat yang terkenal dengan istilah ‘Geisha.’ Bahkan salah satu istri Bung Karno adalah wanita geisha.

Di Italia, tercatat nama Veronica Franco yang sukses membangun tempat pelacuran pada tahun 1577 Masehi. Di China lain lagi, pelacuran sengaja ditempatkan di rumah-rumah khusus. Pelacur dari golongan bawah diberi gelar ‘Wa She.’ Barulah pada dinasti Han, pelacur golongan ini ditempatkan bersama anggota kelompok pejahat, tahanan perang, dan budak. Adapun pada masa Perang Dunia II, sekira 600 ribu wanita menjadi pelacur sebagai usaha sampingan mereka. Hasilnya, penyakit kelamin kian menyebar dan menular dikalangan tentara AS di Eropa setelah Perang Dunia II. Karena pada saat itu rumah pelacuran menjadi sumber penyakit infeksi kelamin dan mala petaka.

Tercatat sekira enam persen tentara AS mengidap penyakit kelamin berbahaya akibat berhubungan dengan pelacur professional, 80 persen akibat berhubungan dengan pelacur amatir, dan 14 persen disebabkan oleh istri mereka. Akibat banyaknya penyakit ini, para tentara tak mampu maju ke medan tempur, sehingga memaksa petugas medis ketentaraan AS melakukan operasi ke rumah-rumah pelacuran itu.

Dalam syariat Islam, pelacuran dengan model apa pun tidak dibenarkan sebab ia menjadi sarana untuk melakukan hubungan intim tanpa diikat dengan pernikahan. Oleh sebab itu, Islam menutup rapat-rapat pintu perzinahan dengan membuka lebar-lebar pintu pernikahan termasuk dibolehkan menikahi lebih dari satu istri jika memang sanggup (poligami), tapi tidak sebaliknya (poliandri). Momentum tahun baru Islam 1442 Hijriah dan HUT RI ke-75 ini harus dijadikan titik awal bagi bangsa Indonesia untuk meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan beralih pada kesalehan: dari dunia hitam berkubang dosa dan nista menuju terangnya cahaya iman, itulah hijrah hakiki zaman ini. Selamat Tahun Baru, 1 Muharram 1442 Hijriah!

Enrekang, 20 Agustus 2020. Dimuat TRIBUN TIMUR, 21 Agustus 2020.

*Ketua Pusat Publikasi dan HAKI Univ. Muhammadiyah Enrekang

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Ramadhan Bersama KH Lanre Said