STIBA Ar-Raayah, dan Kampus Islami Masa Depan




Ilmu adalah denyut nadi dan napas kehidupan. Tanpa ilmu, manusia seperti binatang. Laulal-‘ilm lakana-nas kal baha’im, demikian kata orang bijak. Segala bentuk aktivitas tidak bisa dipisahkan dengan ilmu. Inilah yang disitir oleh Imam Bukhari, katanya, al-‘ilm qablal-qaul wal ‘amal. Berilmu sebelum berkata dan berbuat.

Dan, mungkin, ilmu yang paling remah dalam agama adalah mengetahui adab masuk kamar mandi (WC) dengan menggunakan kaki kiri, ketika keluar, menggunakan kaki kanan.

Lalu bagaimana cara mendapatkan ilmu? Tentu dengan belajar, menggunakan wasilah berupa alat dan sarana, ada guru, materi ajar, hingga metode. Antara satu dengan lainnya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. 

Pembahasan kali ini akan diperkerucut. Semacam studi kasus dalam artian yang lebih sempit. Dalam hal ini, saya angkat Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Ar-Raayah yang berlokasi di Kabupaten Sukabumi. Apa dan bagaimana istimewanya sekolah ini dibanding yang lain? Ikuti saya.


***

Secara pribadi, saya sudah berkunjung ke beberapa lembaga pendidikan tingkat tinggi, baik itu berupa sekolah tinggi, institut hingga universitas. Secara khusus, saya belum pernah menulis artikel yang membahas tentang sebuah perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Namun setelah berkunjung dan sekaligus menandatangani kerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Ar-Raayah Sukabumi (18/3/2019), maka saya pun tertarik untuk menulis tentang perguruan tinggi tersebut.
STIBA Ar-Raayah beralamat di Jl. Perintis Kemerdekaan RT 01/05, Kp. Cimenteng, Ds. Sukamulya, Kec. Cikembar, Sukamulya, Sukabumi, Jawa Barat 43157. Berdiri di atas lahan seluas 15 hektare. Berada di jalan poros Bogor-Pelabuhan Ratu.

Sekilas dari depan tidak ada yang istimewa, sebab berada dalam kawasan pedesaan yang di sampingnya kebanyakan kebun karet dan jati.
Begitu kita masuk gerbang, lalu menanjak kisaran 70 meter, mulailah bangunan demi bangunan terlihat. Sebelah kiri gerbang utama, terdapat hotel berlantai dua yang disediakan untuk para pengunjung sekaligus bagian dari unit usaha kampus.

Setelah itu bangunan satu dan lainnya berdiri berdekatan yang dipisah dengan jalan beraspal dan taman-taman yang asri nan sejuk, atau tumbuhan produktif seperti pohon kelapa, durian, pepaya, mangga, melinjo, dan banyak lagi.

Kampus Ar-Raayah adalah miniatur sebuah kota dengan peradaban ilmunya. Para pengelola adalah manusia visioner. Jika ingin belajar konsep sekolah yang mandiri dan terintegrasi, maka di sini tempatnya.

Kenapa saya katakan kampus islami? Istilah islami lebih kepada kata sifat yang disematkan kepada sebuah usaha dan perbuatan yang padanya menerapkan konsep-konsep agama Islam.

Dengan itu, bisa saja ada kepercayaan dari agama budaya yang dapat menerapkan konsep Islam dan terlihat islami. Seperti mereka yang anti sogok, mengamalkan kebersihan, menghormati sesama, adalah contoh nyata sebagai bagian dari syariat Islam.

Nah, kampus islami yang dimaksud dalam tulisan ini adalah lingkungan dimana Ar-Raayah berdiri dan menjalankan aktivitasnya sebagai lembaga pendidikan yang mencetak manusia baik (saleh), sebagaimana inti (core) dari tujuan pendidikan dalam agama Islam.

Islami sebab para mahasiswa hidup dengan rukun, beradab, bersih, asri, dan mandiri. Mereka hidup teratur di bawah bimbingan para mirabbi yang sekaligus dosen dan tinggal di satu kampus. Para dosen, selain mengajar di dalam kelas mereka, juga menjadi murabbi atau pengasuh para mahasiswa yang jumlahnya 16 hingga 20 mahasiswa.

Setiap malam bakda Isya dan pagi bakda Magrib, mereka menyetor hapalan, bertanya tentang pelajaran, hingga masalah-masalah yang dihadapi mahasiswa. Ikatan emosi antara guru dan murid benar-benar berjalan dengan baik.
Dari sisi keilmuan pun demikian, anak-anak yang baru masuk diwajibkan untuk ikut kelas Bahasa Arab selama setahun penuh. Pada tahap ini, mereka akan dibekali ilmu bahasa Arab hingga benar-benar mapan.

Pada tahun kedua hingga ketiga, selain memperkuat bahasa, mereka sudah masuk pada materi inti, seperti tafsir, hadis, fikih, dan semisalnya. Untuk selesai S-1 dibutuhkan lima tahun belajar, setahun untuk penguatan bahasa dan empat tahun untuk materi inti perkuliahan.

Pada akhir kuliah, atau semester delapan, mereka diwajibkan menulis skripsi dengan bahasa Arab, selain harus hafal minimal 20 juz.
Selain iklim pendidikan yang sangat kondusif, ada sisi lain yang layak jadi contoh bagi sistem pendidikan berbasis asrama di Indonesia, khususnya pondok pesantren.

Ketika kami diajak keliling kampus yang luasnya 15 hektare itu oleh Mudir Ar-Raayah, KH Sirojul Huda. Dalam benak saya mengatakan, bahwa inilah contoh lembaga pendidikan yang benar mandiri.

Kampus mengelola lahan kosong jadi produktif, berbagai tanaman dapat disaksikan, beragam jenis sayur mayur, hingga peternakan rusa, kambing, kelinci, ayam dan ikan lele.

Jumlah ayam petelur saja berjumlah tiga ribu ekor dengan menghasilkan telur duaribu butir per hari. Demikian pula dengan ikan lele yang jumlahnya puluhan ribu dan dapat dipanen secara bergilir terus menerus. Jangan tanya tentang sayur mayur, terus menerus dapat dipanen tanpa jeda.

Penjualan dari hasil ternak dan kebun itulah dijual ke pasar dan hasilnya dijadikan gaji untuk para pekerja dari masyarakat sekitar. “Kami berdayakan masyarakat sekitar, hasil-hasil ternak dan kebun itu yang kami gajikan mereka,”’kata Mudir Ar-Raayah, KH Syirojul Huda.

Lingkungan, asrama, masjid, ruang kuliah, jalan-jalan, taman-taman, terlihat begitu bersih dan teratur. Selama saya keliling kampus, tidak menemukan sampah berserakan, tidak ada puntung rokok, bahkan pakain-pakaian anak-anak pun tidak terlihat di sekitar asrama, rupanya, kampus juga menyediakan fasilitas laundry dengan gratis.

Dalam kampus, disediakan perumahan para dosen, dengan hunian standar rumah kelas menengah. Teratur dan disediakan fasilitas yang mumpuni. Bahkan untuk anak-anak dosen disediakan pendidikan anak usia dini, Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah.

“Ini untuk menjadikan keluarga para dosen benar-benar fokus mengajar, maka kita sediakan fasilitas pendidikan untuk anak-anak mereka,” lanjur Mudir Ar-Raayah.

Saat ini STIBA Ar-Raayah memiliki dua jurusan, Pendidikan Bahasa Arab dan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Dan, masih dalam proses penambahan jurusan untuk naik tingkat manjadi institut.

Walau pendaftar tiap tahun membludak, namun pihak kampus tetap membatasi penerimaan demi menjaga kualitas. Saat ini, jumlah mahasiswa dan mahasiswi berjumlah seribu tigaratus lebih.

Di zaman yang penuh fitnah ini, para orang tua harus selektif mencari tempat belajar bagi para putra putri. Bagi saya, STIBA Ar-Raayah adalah salah satu perguruan tinggi yang saya rekomendasikan. Wallahu A’lam!

*Dr. Ilham Kadir, MA.; Alumni Doktor Pendidikan Islam Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor; Pimpinan Baznas Enrekang.

Enrekang, 19 April 2019.
 

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an