Mengurai Benang Kusut Kemiskinan

 
Bila seorang miskin berangkat ke sebuah negeri, maka kekafiran akan berkata padanya, ‘Bawalah saya bersamamu’, demikian Yusuf Al-Qaradhawi mengutif perkataan salaf dalam bukunya, Musykilah Al-Faqr wa kaifa ‘Alajaha al-Islam, Cairo: 1977. Begitu akrabnya persahabatan antara kemiskinan dan kekafiran sehingga nabi sampai bersabda, Hampir saja 
kemiskinan mengakibatkan kekufuran, Kaada faqr an-yakuna kufran, (HR. Abu Na’im). Bahkan dalam berdoa kita dianjurkan berlindung dari kekafiran kemiskinan, Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kemiskinan, (HR. Abu Dawud).

Selain berbahaya dalam agama, kemiskinan juga menimbulkan masalah sosial. Kita kenal ungkapan, Suara perut dapat mengalahkan suara nurani. Dalam konteks politik di Indonesia, suara caleg bahkan capres sangat tergantung berapa lembar uang rupiah (buying votes). Orang miskin harta dapat dibeli suranya dari golongan yang miskin iman namun kaya uang. 

Golongan penjual beli suara dalam kontestasi politik ini yang disitir oleh sabda Nabi, Terimalah suatu pemberian yang merupakan pemberian biasa. Namun, jangan kamu menerima semacam sogok terhadap agama. Dengan menolaknya, kamu tidak kehilangan harta atau jatuh miskin, (HR. Abu Na’im).

Kemiskinan, selain merusak akidah dan akhlak dan tatanan sosial, juga mengancam kestabilan dalam berpikir. Bagaimana mungkin seorang miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya beserta segenap keluarganya dapat berpikir jernih dan baik. Ditambah lagi orang-orang di sekelilingnya hidup mewah, lebih celaka lagi jika istri dan anaknya punya kebiasaan hidup ‘lebih besar pasak daripada tiang’.


Imam Asy-Syaibani, sahabat Abu Hanifah meriwayatkan bahwa suatu ketika pembantu rumah tangganya menemui dirinya di dalam suatu majelis untuk memberitahukan bahwa beras di rumah sudah habis. Imam Asy-Syaibani galau dan berkata kepada pembantunya, Calaka kamu! Engkau telah menghilangkan empat puluh masalah fikih dalam benakku. Pun demikian dengan Imam Besar Abu Hanifah, ia pernah berkata, Jangan bermusyawarah dengan orang yang tidak punya beras. Maksudnya, jangan bermusyawarah dengan orang yang fikirannya sedang kacau. Menurut ilmu jiwa bahwa tekanan atau stres berat berpengaruh terhadap kehalusan perasaan dan ketajaman fikiran. Dalam sebuah riwayat, Nabi berpesan,
Hakim yang sedang marah tidak boleh menjatuhkan hukuman.

Kemiskinan juga dapat menggoncang keluarga dan rumah tangga. Betapa banyak keluarga yang ambiradul didahului dengan masalah ekonomi. Terutama golongan yang pernah merasakan hidup nyaman, punya harta yang lebih, simpanan yang cukup, pekerjaan yang menghasilkan uang lebih dari kebutuhan, tetiba satu dan lain hal usaha macet, tabungan terkuras, simpanan ludes, perusahan bangkrut yang tersisa hanya utang. Di lain pihak keluarga yang terbiasa hidup berkecukupan tak kuasa menerima keadaan. Akhirnya, keluarga retak, anak-anak tidak jelas keberadaannya. 

Agama bahkan membenarkan jika seorang suami tak mampu menyediakan kebutuhan hidup buat istrinya, terutama makanan, pakaian, dan tempat tinggal untuk menggugat cerai suaminya. Apalagi jika seorang istri masih merasa memiliki masa depan yang lebih cerah tanpa suami papa.  Filosofi wanita zaman now adalah ‘ada uang abang disayang tak ada uang abang ditendang’. Prinsip ini tidak benar tapi tidak sepenuhnya salah sebab memang kewajiban seorang suami adalah menyediakan kebutuhan pokok: materi lahir dan batin.

Keluarga yang hidup dalam kemiskinan juga berpotensi melakukan dosa besar dengan melahirkan anak namun tidak diurus kesehatan dan pendidikannya. Bahkan pada tahap tertentu bisa saja membunuh anaknya. Inilah yang dimaksud dalam al-Qur’an, Dan janganlah engkau membunuh anakmu karena takut miskin, (QS. Al-Isra’: 31).

Ayat di atas diperkuat dengan hadis shahih berikut, Dari Abdullah bin Mas’ud berkata, Aku bertanya, Ya Rasulullah, dosa apakah yang paling besar? Rasulullah menjawab, Engkau menjadikan sekutu bagi Allah – padahal Allah yang telah menciptakanmu.Kemudian apa lagi? Jawabnya, Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan makananmu, (HR. Bukhari-Muslim).

Jika masyarakat miskin, secara otomatis negara dapat dipastikan sebagai negara miskin. Dan negara miskin tidak akan punya nilai dan posisi tawar dengan negara-negara maju. Negara yang kuat ekonominya akan didengar kata-katanya, dapat mengubah dan mengarahkan negara-negara lain untuk mengikuti kemauannya. Negara yang kuat ekonominya akan menjadi majikan bagi negara miskin. Dan ciri khas negara kuat adalah produsen dan sebaliknya negara miskin umumnya menjadi konsumen, seperti majikan dan babu. Lebih gila lagi jika negara kaya memberikan piutang pada negara miskin lalu dibungakan berlipat-lipat, pada tahap tertentu jika tak mampu membayar utangnya, maka negaranya akan disandra.

Kenapa Israil begitu kuat? Tentu karena ekonominya kuat, ditopang dengan negara-negara besar yang kebijakannya selalu patuh pada Yahudi yang menguasai ekonomi dunia. Lagi-lagi kita bicara harta dan kemiskinan. Pengusaha-pengusaha raksasa didominasi orang Yahudi membuat setiap negara bergantung pada mereka. Indonesia sampai saat ini masih menjadi bagian dari negeri konsumen dan masih berkutat pada pencarian solusi pengentasan kemiskinan. 


Hikmah Ramadhan


Apa relasi kemiskinan dan Ramadhan? Bulan yang di dalamnya turun al-Qur’an ini disebut juga sebagai bulan penuh kemurahan. Orang-orang kaya berlomba-lomba berbuat baik dengan perantara harta. Sementara orang-orang miskin berusaha mengubah nasibnya, minimal kaya imam kalau belum bisa kaya harta.

Bahkan zakat fitrah merupakan bagian dari kesempurnaan puasa. Artinya ibadah zakat yang merupakan ibadah harta berdimensi sosial itu bisa menjadi bagian penting dalam menangani ekonomi golongan fakir miskin. 

Terutama zakat harta, yang potensinya saat ini sudah mencapai 400 triliun, sebuah peluang dan kesempatan bagi penerimaan negara non pajak yang sesungguhnya sangat menguntungkan dan tidak bisa disia-siakan begitu saja, (Zakat Sebagai Flantropi Pemberdaya Umat, Litbang Kemenag, 2017).

Itu belum termasuk infak, sedekah, dan wakaf. Jika bisa dioptimalkan, maka boleh jadi inilah solusi jitu dalam menangani kemiskinan yang tak kunjung beres. Allah mewajibkan zakat kepada umat Islam yang memiliki harta yang cukup syaratnya tentu punya hikmah yang besar antara lain, pemerataan ekonomi, menghapus kesenjangan sosial, melahirkan rasa saling cinta dan sayang antara sesama. Dan sebagai sarana terwujudnya negara yang damai, aman, dan sentosa. Wallahu A’lam!


Oleh: Dr Ilham Kadir, MA. Peneliti MIUMI; Pimpinan Baznas Enrekang
 
Enrekang, 1 Ramadhan 1440/5 Mei 2019
















Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an