Isra Mi'raj dan Pembebasan Masjid Al-Aqsha


Oleh: Dr. Ilham Kadir MA, Peneliti MIUMI; Pimpinan BAZNAS Enrekang.
 
Setiap tanggal 27 Rajab dalam hitungan kalender hijriyah umat Islam seluruh dunia selalu mengenang peristiwa besar yang pernah terjadi pada diri Nabi Muhammad berupa isra dan mi’raj. Secara sederhana, isra adalah perjalanan Rasulullah pada malam hari dari Masjidil Haram, Makkah ke Masjid Al-Aqsha, Yerussalem.
Kedua jenis perjalanan di atas, isra dan mi’raj sarat dengan nilai teologis sebab tidak dapat dicerna dengan akal manusia. Untuk memahaminya harus menggunakan intrumen keimanan tingkat tinggi lalu dipadukan dengan bukti-bukti empiris yang tersisa sebagai pelajaran bagi umat manusia.
Jika dipetakan, ada beberapa dimensi yang menarik untuk dikaji dalam peristiwa isra mi’raj. Namun yang paling kontekstual sepanjang masa adalah posisi Masjid Al-Aqsha dan kota Yerussalemm dimana masjid tersebut bertapak. Demikian pula perjalanan Rasulullah ke Sidratul Muntaha’ atau langit tertinggi selaku umat Islam sudah mengimani bahwa hasil perjalanan tersebut adalah lahirnya syariat salat lima waktu dalam sehari semalam.
Kenapa kota Yerussalem begitu menarik dibahas? Tentu saja karena kota tua itu adalah rebutan sedikitnya tiga agama tua: Yahudi, Nasrani (Kristen), dan Islam. Demikian pula posisi Masjid Al-Aqsha yang hingga kini terus menerus menjadi incaran kaum Yahudi. 



Pada  zaman Romawi, Yerussalem disebut Ilya atau Aelia Capitolina, kemudian dalam bahasa Arab dikenal juga sebagai: al-Quds atau Baitul Maqdis [al-Sharif], "The Holy Sanctuary" merupakan kota tua penuh dengan cerita sejarah kontroversi dari sejak zaman purba hingga kini yang melibatkan tiga agama besar di dunia yaitu: Islam, Yahudi dan Nasrani. Kontroversi ini berpusat pada satu titik di dalam kota Jerusalem yaitu: Kubah As Sakra atau Dome of Rock di dalam kawasan Masjid Al-Aqsa, yang mana di dalamnya terdapat batu besar.
Menurut agama Islam di Masjid Al-Aqsa inilah Rasulullah  melakukan mi’raj ke Sidratul Muntaha. Menurut agama Nasrani, Jacob (Nabi Yakub) pernah tidur di batu besar, yang kini berada dalam Dome of Rock, dan bermimpi melihat tangga menuju langit. Agama Nasrani pun meyakini bahwa di batu itulah tempat Abraham (Nabi Ibrahim) mengurbankan anaknya yaitu Ishak—yang umat Islam yakini bahwa anak yang diqurbankan adalah Ismail dan tempatnya di Makah. Sementara menurut orang-orang Yahudi yakin bahwa luh-luh (kepingan-kepingan) Nabi Musa dari kitab Taurat yang orisinil berada tepat di bawah Dome of Rock. Dan orang-orang Yahudi meyakini bahwa Jerusalem adalah tanah yang dijanjikan Tuhan untuk mereka yang dinyatakan melalui Nabi Musa, sehingga mereka yakin atas hak dan kepemilikan penuh atas tanah Jerusalem. Sementara bangsa Arab Palestina meyakini bahwa mereka adalah penduduk asli kota tersebut dari tanah ini sebelum Bani Israil (orang Yahudi) datang. Hal inilah yang menjadikan pergolakan antara bangsa Arab Palestina dan bangsa Yahudi Israel hingga sekarang.   

Masjid Al-Aqsha
Harus dipahami terlebih dahulu bahwa Ka’bah dan Masjid Al-Aqsha adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, baik dalam perspektif sejarah keberadaannya, maupun fungsi dan keutamannya. Dalam sejarah pembangunannya dapat dilihat dari sebuah hadis Nabi, disebutkan bahwa sahabat Nabi, Abu Dzar al-Ghifari bertanya kepadanya tentang masjid yang pertama kali didirikan? Rasul menjawabm “Masjid Al-Haram”, kemudian apa? “Masjid Al-Aqsha”. Berapa jarak antara keduanya? “Empat puluh tahun”. (HR. Bukhari-Muslim).
Durasi empat puluh tahun sebagaimana hadis di atas bukanlah merupakan waktu yang panjang. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang yang membangun Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Aqsha adalah orang yang sama. Inilah isyarat pertama tentang jawaban siapa yang pertama kali membangun kedua Masjid tersebut.
Dari sini, beberapa pendapat ulama bermunculan. Pendapat pertama, menyatakan bahwa yang membangun ka’bah adalah para Malaikat. Pendapat kedua, mengatakan bahwa nabi Adam adalah orang yang pertama kali membangun ka’bah. Kedua pendapat ini dikemukakan oleh al-Azruqi dalam kitabnya Akhbar Makkah. Pendapat ketiga, adalah Syits bin Adam yang membangun ka’bah. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalany, mengambil pendapatnya Wahb bin Munabbih. Pendapat ini ditolak oleh beliau sendiri karena tidak ada dalil pendukung, (Fathul-Bari, Jilid-VI). Pendapat keempat, nabi Ibrahim yang membangun ka’bah. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsir dan sejarahnya.
Melihat berbagai pendapat di atas, pendapat kedua adalah pendapat yang dikuatkan para ulama, diantaranya Imam Ibnu Hajar al-Asqalany bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama yang membangun Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Aqsha.
Hal ini diperkuat karena tidak adanya dalil naqli, baik ayat al-Qur’an maupun hadits Nabi, yang secara jelas menyatakan siapa yang pertama kali membangun Masjid Al-Aqsha. Yang ada hanyalah isyarat-isyarat dari dalil tersebut dengan berbagai pemahaman dari para ulama. Isyarat dari hadits di atas bahwa yang membangun kedua Masjid ini adalah orang yang sama, karena selisih waktu pembangunannya hanya empat puluh tahun.
Kecuali itu, Nabi Adam adalah manusia pertama di muka bumi. Masjid Al-Haram adalah Masjid pertama di muka bumi dan Masjid Al-Aqsha adalah Masjid kedua sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas. Dan tidak dapat diterima secara logika bahwa malaikat membangun Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Aqsha karena malaikat mempunyai kiblat tersendiri di langit yang disebut dengan Bait al-Ma’mur, sebagaimana disabdakan Rasulullah dalam hadisnya berkaitan dengan isra dan mi’raj. Maka secara logika, yang membangun Masjid Al-Haram dan Al-Aqsha di atas muka bumi ini adalah manusia bukan malaikat. Walaupun Imam Al-Qurthubi menyebutkan dalam kitab tafsirnya dan menambahkan bahwa para malaikat juga turut membantu pembangunan tersebut.
Jadi, tempat pertama yang disebut aasjid di atas muka bumi adalah Masjid Al-Haram (ka’bah) dan tempat kedua adalah Masjid Al-Aqsha. Maka pendirian bangunan pertama Masjid dengan telah ditentukan batas-batasnya adalah Masjid Al-Haram dan setelah empat puluh tahun didirikan Masjid Al-Aqsha. Pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Ibrahim orang yang membangun Masjid al-Haram berdasarkan pada ayat al-Qur’an surat al-Baqarah ayat ke-127 adalah hanya meninggikan dari bangunan yang sebelumnya sudah ada namun rusak karena terkena banjir masa Nabi Nuh. Demikian pula dengan pendapat bahwa Nabi Daud dan Sulaiman yang membangun Baitul-Maqdis juga tidak dapat diterima secara logika sejarah. Perbedaan waktu antara pembangunan ka’bah dan Masjid Al-Aqsha hanya beda empat puluh tahun, dan ka’bah dibangun pada masa Nabi Adam padahal jarak antara nabi Adam dan Nabi Daud serta Nabi Sulaiman lebih dari seribu tahun. Jadi posisi Nabi Daud dan Nabi Sulaiman sama persis dengan Nabi Ibrahim dan Ismail. Yang pertama membangun kembali Masjid Al-Aqsha dan yang kedua meninggikan kembali ka’bah yang dua-duanya menjadi tempat suci bagi umat Islam sekaligus bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa isra mi’raj. Wallahu A’lam!

Enrekang, 1 April 2019. Dimuat Tribun Timur 3 April 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an