Mengenang Anregurutta Abd. Latif Amien (1932-2019)



Dalam pengembaraan saya mencari narasumber otoritatif terkait Anregurutta Muhammad As’ad Al-Bugisi (1907-1952), saya berkelana ke berbagai penjuru daerah Bugis. Salah seorang ulama hasil kaderisasi Al-Bugisi di Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Sengkang adalah Gurutta Abd Latif Amien. Saya berbincang panjang lebar terkait tujuan, program, proses, dan evaluasi konsep pendidikan yang pernah ditetapkan oleh Al-Bugisi. 

Hasilnya, sudah saya tuangkan dalam bentuk tulisan pada disertasi saya yang berjudul, “Konsep Pendidikan Kader Ulama Anregurutta Muhammad As’ad Al-Bugisi (1907-1952)” dan telah saya pertahankan dalam ujian terbuka di Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor pada 27 April 2017. Insya Allah karya ini dapat menjadi salah satu rujukan dalam sejarah islamisasi Sulsel melalui lembaga kaderisasi ulama, perjuangan DI/TII, kiprah tujuh ulama jebolan MAI Sengkang yang paling berpengaruh di Sulsel yakni, Gurutta Ambo Dalle, Daud Ismail, Yunus Martan, Marzuki Hasan, Muin Yusuf, Lanre Said, dan Hamzah Manguluang, dan regenerasi ulama Bugis.

***

Anregurutta Abdul Latif Amien lahir di Kota Watampone Kabupaten Bone pada tanggal 1 Desember 1932. Ayahnya adalah seorang wakil Qadhi di Bone. Ketika berusia 7 tahun, ia diantar oleh orang tuanya untuk belajar mengaji di daerah Bone Selatan selama 2 tahun, setelah itu kembali ke Watampone memperdalam ilmu bahasa Arab seperti sharaf dan nahwu. Pada tahun

1944, atau dalam umur 14 tahun, ia selesai SR Negeri, dilanjutkan pada level Tahdiriyah dan selesai tahun 1947, dan tiga tahun atau 1950 kemudian selesai pada jenjang Ibtida’iyah, kedua jenjang terakhir ia selesaikan di Madrasah Amiriah Bone di bawah bimbingan Syekh Mahmud Abdul Jawad, mantan mufti Madinah yang pernah membantu Al-Bugisi di MAI Sengkang. Pada tahun 1950-1954, Abdul Latif Amien melanjutkan pendidikan di MAI Sengkang di bawah asuhan Al-Bugisi, selain mengikuti program khusus hafalan Al-Qur’an di lembaga Majelisul Qurra’ wal-Huffazh yang juga dikelolah oleh ulama lulusan Haramayn dan Al-Azhar, Al-Mishrī (w. 1951) dan Al-Bugisi sendiri. 

Setelah Al-Bugisi wafat pada 29 Desember 1952, Latif Amien tetap di MAI Sengkang dan berguru kepada generasi kedua, seperti Daud Ismail dan Yunus Martan. Pernah pula mengikuti ujian sebagai guru Agama 1960, SGB Negeri Persamaan di tahun yang sama. SMP Negeri 1960, PGAN 4 tahun 1962, PGAN 6 tahun 1963, dan IAIN Alauddin cabang Watampone tahun 1967 sebagai sarjana muda (bachelor of arts).

Anregurutta Abd Latif Amien pernah memegang beberapa jebatan, antara lain, Purna Bakti Kepala Seksi Urusan Haji Kabupaten Bone, Penilik Pendidikan Agama, Kepala Kantor Urusan Agama Bone Selatan (Kajuara, Salomekko, Kahu, Libureng, dan Bontocani), Kepala Madrasah Aliah Negeri Kajuara, Bone; Kepala Madrasah Aliah Ma’had Hadits, Biru. Kini ia masih aktif dan menjabat sebagai, Ketua Dewan Mustasyar NU, Ketua MUI Kabupaten Bone, Ketua IPHI, Penasehat SATKAR Ulama Bone, dan Ketua Yayasan Pendidikan Ma’had Hadits Biru, Watampone.

Ulama sepuh yang hobi baca kitab “Tafisr al-Maraghī” ini, memiliki segudang kesibukan, dalam usia yang sudah senja, atau 84 tahun, beliau masih terlihat sangat fresh. Ketika saya tanya, Apa rahasianya sehingga masih terus bugar. Ada dua, pertama biasakanlah berpagi-pagi beraktifitas, karena itu akan mendatangkan keberkahan, dan kesehatan hanyalah bagian kecil dari keberkahan itu, sebagaimana doa Nabi kepada ummatnya, agar diberi keberkahan bagi mereka yang berpagi-pagi dalam beraktifitas (allahumma barik liummati finbukurihim). Kedua, jangan pernah menolak atau melawan perintah dan permintaan atasan selama itu baik menurut agama dan adat, sebab taat pada atasan adalah sebuah kewajiban selama itu sesuai tuntunan agama, ujarnya.

Ketika saya tanya terkait fenomena ulama saat ini, beliau memberikan saya nasihat, bahwa saat ini begitu banyak yang merasa diri sebagai ulama, ilmunya tinggi dan dapat dilihat dari gelar yang bertengger pada dirinya. Hanya saja, tidak semua yang merasa diri sebagai ulama atau yang kita anggap sebagai ulama benar-benar memenuhi syarat sebagai ulama, sebab sejatinya seorang ulama adalah harus yang terdepan dalam memberikan contoh kepada umat. Faktanya, justru tidak sedikit yang kita anggap ulama justru tidak mampu menjadi panutan bagi umat bahkan ada yang justru menyesatkan.

Ada satu lagi pesannya yang susah saya lupakan, menurutnya, ulama itu harus punya istri lebih dari satu, kalau bisa sampai empat. Sebab ulama itu yang diperlukan adalah ilmu dan keturunannya, umumnya ulama akan melahirkan ulama atau minimal orang-orang baik. Nah, makin banyak anaknya akan melahirkan banyak pula orang-orang baik. Jadi poligami bagi ulama adalah hal biasa dan dianjurkan, karena niatnya memang baik, demi mewariskan ulama dan orang-orang baik. 

Namun, ketika saya desak dengan pertanyaan, Kenapa Anregurutta cuma punya satu istri. Katanya, Tidak apa-apa saya punya satu istri sebab anak saya sebelas orang, dan cucu saya puluhan, katanya sambil tersenyum yang membuat saya tertawa kecil.

Dalam wawancara yang berlangsung lebih dari dua jam itu, saya banyak menemukan data-data terkait metode kaderisasi ulama Al-Bugisi di MAI Sengkang. Salah satunya, bagaimana para kader ulama dalam memanfaatkan waktu mereka.

Berkata Anregurutta Abd Latif Amien, Saya merasakan betul bagaimana harus terus kejar mengejar dengan waktu yang berputar begitu cepat. Sampai kami tidak punya waktu untuk memasak sayur dan air minum masak, akhirnya kami hanya sesekali masak nasi campur sayur dan minum air masak. Umumnya, santri hanya makan apa adanya, masak nasi lalu meletakkan ikan kering di atas nasi dalam periuk yang sedang dinanak, kemudian kami bergegas masuk kelas untuk mengikuti pelajaran atau masuk masjid beribadah, kembali dari kelas sehabis belajar, nasi dan ikan pung sudah masak. Sedangkan air minum bersama santri-santri lainnya minum air sumur saja, dan tidak mengalami kendala sedikit pun, bahkan para santri sehat-sehat saja. Intinya, yang ada dalam benak, fikiran, dan tindakan para santri adalah hanya belajar, ibadah, dan adab.

Namun, pada hari Ahad pukul 12.10 Wita, 13 Januari 2019 setelah mendapat perawatan intensif di rumah sakit umum Tenriawaru Bone karena sakit. Ulama yang hidup sederhana, selalu ceria, dan penuh kharisma itu, Anregurutta Haji Abdul Latif Amien telah dinyatakan tutup usia di umur  87 tahun.

Satu lagi ulama Bugis yang wafat, dan ingat, ketika ulama mati dan terkubur, maka ia dikuburkan bersama ilmunya. Memang Allah tidak akan mencabut agama dalam diri dan dada kaum muslimin, tapi dengan cara mewafatkan para ulama, lalu tidak disertai dengan regenerasi. Semoga kita semua mampu mengamalkan petuah dari Anregurutta Abd. Latif Amien rahimahullah. Inna lillahi wa inna ilahi raji’un!

Oleh: Dr. Ilham Kadir, Penulis Disertasi “Konsep Pendidikan Kader Ulama Anregurutta Muhammad As’ad Al-Bugisi (1907-1952)”, Berasal dari Bontocani-Bone.


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi