Maulid dan Teori Kepemimpinan




Oleh: Dr. Ilham Kadir*

Kelahiran Nabi Muhammad tidak dapat dipisahkan dengan kepemimpinan, sebab nabi dan rasul terakhir itu adalah pemimpin fenomenal dalam sejarah peradaban manusia. Hingga saat ini, tidak ada pemimpin yang dikaji terus menerus tanpa henti melebihi diri Rasulullah, demikian adanya sebab makin jauh kita berkelana mempelajari kehidupannya, makin banyak pula hikmah yang dapat dituai.

Sebagaimana yang sedang kita alami bersama, bangsa ini sedang menjaring pemimpin terbaik, dan contoh pemimpin terbaik sepanjang sejarah lahir bertepatan pada hari ini—setidaknya menurut mayoritas ulama—yaitu 12 Rabiul Awwal. Dan, tentu saja maksud dan tujuan peringatan maulid adalah untuk menjadikan contoh panutan Nabi Muhammad dalam segala sendi kehidupan, terutama dalam konteks kepemimpinan.

Para pemimpin selalu datang dan pergi dengan berbagai macam gaya. Dalam Kitab Al-Qur’an banyak menyebut Fir’aun sebagai tipe pemimpin yang buruk dan harus dijauhi. Karakter Fir’aun disebut sebagai pemimpin yang sombong dan congkak (la a’lin fil-ardhi) di muka bumi (QS. Yunus: 83); malampaui batas  thagha’ (QS. Thaha: 24); meremehkan rakyatnya (QS. Az-Zukhruf: 54); memecah belah rakyat (QS. Qashas: 4) dan tentu masih banyak jenis-jenis kezaliman yang telah dilakukan Fir’aun yang juga diikuti oleh banyak pemimpin masa kini dengan metode dan gaya yang berbeda, tapi substansinya tetap sama, zalim kepada rakyat.

Adanya maulid akan mengingatkan kita akan sosok pemimpin panutan yang jauh dari kelakuan biadab Fir’aun masa lalu dan masa kini. Memang, kepemimpinan muncul beriringan dengan peradaban manusia. Adapun seiring dengan perkembangan zaman, kepemimpinan kini dapat dilihat dari berbagai perspektif atau sudut pandang.

Bila disimpulkan kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi orang lain, baik kelompok atau bawahan, kemampuan untuk mengarahkan sikap dan tindakan kelompoknya, mempunyai keahlian dan kemampuan khusus pada bidang-bidang tertentu yang dibutuhkan oleh kelompok guna mencapai tujuan kelompok. Secara sederhana teori kepemimpinan umumnya berupaya memberi paparan atau penjelasan terkait pemimpin dan kepemimpinan dengan cara mengemukakan beberapa segi. Misalnya latar belakang sejarah sang pemimpin beserta dengan kepemimpinannya.

Efektvitas seorang pemimpin sebenarnya tidak akan pernah terlepas dari kemampuannya untuk membaca dan menelaah secara filosofis dengan cara mengamati situasi yang dihadapi dan menyelaraskannya dengan gaya kepemimpinan yang tepat sehingga dapat memenuhi tuntutan dari situasi tersebut. Penyesuaian gaya kepemimpinan tersebut tentunya membutuhkan kemampuan dan menentukan ciri khas serta perilaku tertentu.

Teori Kepemimpinan

Jika dipetakan, dalam ilmu politik, maka kepemimpinan memilik tiga teori utama, satu dengan lainnya memiliki ciri khas masing-masing namun tidak dapat dipisahkan.

Pertama, Teori Sifat. Teori sifat berpijak atas dasar pemikiran bahwa keberhasilan pemimpin bergantung dengan sifatnya, ciri khas yang dimiliki, dan perangainya. Maka untuk menjadi pemimpin yang sukses dibutuhkan kemampuan pribadi seorang pemimpin. Kemampuan pribadi yang dimaksud tidak lain berupa kualitas dengan berbagai sifat, ciri, dan tingkah lakunya. 

Jika seorang pemimpin sejak awal memiliki sifat kepribadian terpuji, sebagaimana Nabi Muhammad dengan gelar al-amin atau yang terpercaya telah disematkan kepada dirinya sejak masih muda, maka dapat menjadi modal akan kepemimpinannya kelak. Tidak hanya itu, sifat-sifat bawaan yang menghindari perilaku dusta di tengah masyarakat yang menjadikan dusta sebagai hal biasa, menepati janji di tengah maraknya manusia yang ingkar janji, menjadikan seorang calon pemimpin tanpil sesuai fitrahnya.

Kedua, Teori Perilaku. Teori perilaku berdasar atas kepemimpinan yang merupakan perilaku individu saat menjalankan kegiatan mengarahkan atau membimbing kelompok tertentu guna mencapai tujuan. Seorang pemimpin memiliki beberapa deskripsi perilaku. Mulai dari seorang pemimpin yang cenderung mengutamakan bawahan, bersikap ramah, mendukung, membela, mau mendengarkan, mau berkonsultasi, dan memikirkan kesejahteraan kelompoknya. Namun, ada pula  tipologi pemimpin yang berorientasi pada bawahan atau produksi. Pemimpin yang berorietasi pada bawahan ditandai dengan adanya penekanan atas hubungan atasan dan bawahan, sementara pimpinan yang berorientasi pada produksi cenderung ditandai dengan penekanan pada segi teknis pekerjaan.

Prilaku terpuji adalah modal besar seorang calon pemimpin. Rasulullah memiliki sikap sangat terpuji sejak sebelum diutus menjadi Nabi, gemar bersedekah, menolong kaum lemah, menghindari perbuatan tercela, hingga mengutamakan kejujuran dalam berdagang adalah contoh nyata dalam diri rasul terakhir itu.

Ketiga. Teori Situasional. Menurut teori situasional, sukses tidaknya seorang pemimpin ditentukan oleh ciri kepemimpinannya itu sendiri, dengan berperilaku yang sesuai tuntutan situasi organisasional dan situasi kepemimpinan yang dihadapi sambil mempertimbangkan setting ruang dan waktu dimana ia berpijak.Faktor-faktor situasional yang berpengaruh pada gaya kepemimpinan bisa berupa adanya ancaman dari luar kelompok, tingkat stres, kompleksitas tugas, norma yang dianut dalam kelompok, dan semisalnya.
Ketika Nabi beada di Makkah, ia menyadari akan kepayahannya dalam berdakwah, walaupun pengikut bertambah tapi sangat lamban dan resiko terlalu tinggi. Dakwah juga diawali dengan sembunyi-sembunyi kemudian terang-terangan. Tapi faktor penghalang dari luar terlalu besar sehingga perlu ada alternatif.

Untuk itulah Nabi Berhijrah ke Yatsrib  yang kelak berubah nama Jadi ‘Madinah’ atau ‘Kota Nabi’ (1 Rabi’ul Awwal Sebelum Hijriah/21 Juni 622) di kota ini ia menyatukan penduduk yang sedang bertikai, malukan konsolidasi, memperkuat persaudaraan baik antara penduduk Madinah atau kaum Muhajir dan Anshor. Mereka hidup damai dan bersatu disebabkan oleh ketokohan dan kecerdasan Nabi dalam menyelesaikan permasalahan. Dari sini episentrum peradaban Islam bermula dan mengitari penjuru dunia. 

Itulah ketiga teori kepemimpinan menurut para ahli yang layak diketahui. Kepemimpinan memang tidak cukup hanya dilihat dari satu sudut pandang saja, melainkan mencakup semua dimensi mulai dari penyiapan secara berencana hingga dapat melatih calon pimpinan yang baru untuk masa yang akan datang atau kaderisasi yang lebih baik. Untuk konteks kekinian, pendidikan politik adalah langkah awal yang harus diterapkan bagi generasi muda agar kelak akan lahir pemimpin dambaan umat dan harapan bangsa. Selamat Merayakan Maulid Nabi, 12 Rai’ul Awal 1440 Hijriah!

 Enrekang, 19 Nopember 2018/Tribun Timur 20 Nopember 2018.
*Pimpinan BAZNAS Enrekang.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an