Teologi Gempa



 Oleh: Dr. Ilham Kadir,MA. Peneliti MIUMI, Pimpinan BAZNAS Enrekang.

Ditilik dari ilmu sains, gempa adalah getaran yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Gempa Bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak Bumi.
Frekuensi suatu wilayah, mengacu pada jenis dan ukuran gempa bumi yang dialami selama periode waktu. Permukaan bumi dimaksud adalah episentrum atau titik dimana gempa berpusat lalu menyebar ke seluruh penjuru. Sedangkan asal gempa di dalam kerak bumi disebut hiposentrum.

Gempa dapat menghasilkan tsunami jika hiposentrum berada di bawa laut. Karena badan air yang disebakan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Akhirnya melahirkan gelombang besar dan kecepatan tinggi.



Indonesia memang langganan gempa, belum lagi kering air mata bangsa ini akibat gempa bumi di Lombok dan Bali (19/8/2018) dengan kekuatan 7,0 SR. Kini, gempa kembali terjadi, berkekuatan 7,4 SR mengguncang Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9/2018) pukul 17.02 WIB dengan kedalaman 10 KM. Sebanyak lebih dari 95 kali gempa terjadi. Disusul Tsunami dengan ketinggian mencapai dua meter. Gempa ini dirasakan sampai di Makassar dan sekitarnya.

Berdasarkan data sementara dari BNPB, di Palu dan Donggala tercatat lebih dari seribu orang meninggal dunia, masih banyak yang hilang, ratusan orang mengalami luka-luka, ribuan rumah rusak dan puluhan ribu orang mengungsi. Data ini masih akan terus bertambah, terutama setelah ditemukannya ada dua desa yang terkubur rumah dan penghuninya, wilayah dimaksud adalah Kelurahan Petobo, Kota Palu, dan Desa Jonooge, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi. Kampung tersebut terseret dua kilometer lalu tenggelam dalam lumpur, dalam dunia sains hal ini sulit diterangkan, sebab gempa umumnya melahirkan tsunami air laut bukan lumpur yang naik dari perut bumi.

Sampai saat ini, beberapa daerah di Sulteng, Sulbar, dan Sulsel terus mengalami gempa bumi, (1/10/2018) gempa 3,1 SR sempat mengguncang Sinjai, untung tidak menyebabkan kerusakan yang berarti, tetapi masyarakat pesisir ketakutan dan panik sehingga banyak yang berhamburan berlari ke dataran yang lebih tinggi dengan maksud ingin menyelamatkan diri.

Perspektif teologi

Ditinjau dari perspektif teologi, gempa bumi pasti berhubungan dengan takdir Allah, atau masuk pada bab rukun iman yang terakhir, qadha dan qadar. Orang beriman percaya bahwa tidak ada satupun kejadian yang terjadi di muka bumi ini, termasuk dedaunan yang jatuh dari pohon melainkan Allah pasti mengetahui, apalagi gempa dan tsunami yang menyisakan korban.

“Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak ada sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata,” (QS. Al-An’am: 59).

Selain takdir, Islam juga mengenal istilah musibah, yakni sebuah kondisi yang dialami oleh manusia dimana keadaan tersebut menyebabkan seseorang kehilangan harta benda, keluarga, bahkan jiwa dengan jalan terpaksa. Musibah harus ada, sebab ia akan menjadi ujiang bagi orang-orang beriman.

Allah tuturkan dalam al-Qur’an, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. 29 : 2 – 3). 

Manusia tidak hanya cukup mengatakan iman di mulut, kemudian menjadi orang yang terdekat dengan Allah sebelum mengalami ujian terlebih dahulu. Sebagai sunatullah, Allah menguji orang-orang terdahulu dengan beban-beban dan berbagai macam ujian untuk menguji kadar iman mereka. Itulah dimaksud dalam firman Allah, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu kembalikan”. (QS. 21 : 35). 

Sama seperti seorang pelajar, dia tidak akan naik kelas sebelum melewati beberapa rangkaian ujian, dan akan terlihat siapa yang benar-benar siap menghadapi ujian dan mana yang sekedar ikut-ikutan. Makin tinggi keimanan makin besar ujian, sebab hanya pohon tinggi akan merasakan kencangnya tiupan angin kencang.

Tapi perlu ditekankan bahwa ujian tidak selamanya dalam bentuk kesusahan atau musibah. Karunia Allah berupa nikmat adalah ujian yang kadang lebih dahsyat. Banyak orang lulus ketika diuji dengan musibah, tetapi gagal ketika diuji dengan rangkaian kenikmatan. Nikmat, utamanya yang kasat mata berupa harta, jabatan, dan pangkat kerap melenakan pemiliknya sehingga lalai dalam menjalankan kewajiban agama bahkan membangkang kepada Allah senagaimana Firaun dan Qarun. 

Dalam konteks ini, orang-orang beriman diuntungkan, sebab bagi mereka tidak ada bedanya, semua jadi ladang memanen pahala. Nabi bersabda, Orang-orang beriman itu memang sangat mengherankan semua perkaranya serba baik, dan tak ada seorang pun yang seperti orang yang mukmin. Apabila dianugerahi kesenangan ia bersyukur, dan apabila tertimpa musibah, ia berlaku sabar. Hal inilah yang menjadikan dia selalu dalam keadaan baik. (Hadits riwayat Muslim). 

Ujian atau azab?

Karena musibah gempa bumi dan tsunami adalah ujian, maka semestinya harus dimaknai dan ditinjau dari teropong teologis. Jika ini berlaku maka tidak akan ada lagi tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Terlihat jelas bahwa saudara kita baik yang terkena gempa secara langsung atau sekadar dampak biasa banyak mengalami ujian berlipat ganda. Ada yang tempat usahanya dibobol dan dijarah oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Walau ada semacam anjuran dari Mendagri untuk mengambil makanan ala kadarnya di toko-toko demi kelangsungan hidup korban gempa, tapi itu bukan alasan untuk mengambil barang orang lain melebihi kebutuhan. 

Konyol jika yang diizinkan untuk diambil adalah minuman dan makanan untuk bertahan hidup namun justru yang dijarah adalah onderdil mobil dan toko elektronik. Ini jelas perampokan yang tidak dibenarkan oleh hukum apa pun, termasuk ideologi komunisme sekalipun.

Di sinilah pentingnya revolusi mental. Coba bandingkan dengan Jepang, pada (11/3/2011) ketika terjadi gempa bumi 9,0 SR berakibat tsunami, namun masyarakatnya tetap seperti biasa, tidak panik, tidak pula ada penjarahan, bahkan budaya antre di berbagai tempat umum dan pertokoan normal, tetap seperti biasa. Nampaknya, revolusi mental yang dianggarkan dengan besar oleh pemerintah belum terlihat hasilnya seperti halnya dewan pembina ideologi pancasila.

Yang tidak kalah pentingnya adalah musibah yang terjadi bagi sesama umat manusia harus jadi pelajaran. Ini momentum untuk menyatu dalam kebaikan, bersinergi membangun bangsa, bersama meringankan beban korban dan membantu pemerintah dalam proses normalisasi pasca gempa. Bukan waktunya untuk saling menghujat dan menyalahkan, kita butuh tindakan ril untuk saling membantu meringankan beban sesama saudara.

Ini adalah ujian bagi bangsa Indonesia yang bertujuan mengasah dan membangum empati, melakukan donasi apa pun bentuknya, berbagi antarsesama dalam meringankan beban korban. Musibah semestinya jadi jalan terbaik menangguk pahala, jika tidak dapat bersedekah dengan harta, maka tenaga, fikiran, dan doa adalah bagian yang sangat diharapkan dari saudara kita di Palu dan sekitarnya.

Terakhir, musibah gempa dan tsunami di Sulteng harus jadi bahan muhasabah bagi bangsa Indonesia secara umum, dan lokasi terkena dampak gempa secara khusus. Mari kita menghitung-hitung, apakah peristiwa ini adalah ujian, teguran, atau azab. Jika ujian semoga dapat dilalui dengan baik supaya bangsa ini bisa naik kelas sebagai negara yang hebat dan berdaulat, jika teguran maka dosa-dosa dan maksiat yang kerap dipertontonkan agar segera dikurangi kalau tidak bisa dihapus utamanya budaya dan ritual-ritual syirik. Peran pemerintah dalam melestarikan atau menghapus pelbagai bentuk maksiat dan kemungkaran berada di pundaknya. 

Namun jika ini adalah azab, kiranya agar mereka yang masih hidup menjadikan pelajaran berharga supaya lebih giat mempersiapkan bekal setelah fase kehidupan berakhir, bagi yang meninggal semoga dicatat sebagai mati syahid dan kelak langsung masuk surga tanpa proses pemeriksaan yang melelahkan. Bagi pemerintah, ini saatnya mengoreksi segala bentuk kebijakan yang menyesatkan atau menyusahkan rakyatnya, lalu segera melakukan taubat nasional. Wallau A’lam!

Enrekang, 2 Okt 2018. (Dimuat Tribun Timur 5 Okt 2018).

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena