Perjalanan Kotak Kosong Dalam Pilkada Enrekang



Oleh: Dr. Ilham Kadir, Kepala Rumah Tangga, Menetap di Enrekang.
Politik dimaksud dalam artikel ini adalah 'bagaimana merebut kekuasaan lalu berusaha mempertahankan'. Kekuasaan dalam konteks Pilkada serentak 2018 yang diikuti 171daerah meliputi provinsi, kota, dan kabupaten adalah menjadi gubernur, walikota, dan bupati.

Setidaknya ada sebelas petahana yang berusaha mempertahankan kekuasaan dengan menjadi peserta tunggal. Kendati demikian, masyarakat tetap diberi pilihan untuk menentukan jagoan dalam bilik pencoblosan. Caranya: KPU menyediakan dua kotak, satu untuk peserta tunggal, satunya lagi berupa kotak kosong. Jadi hakikatnya ruang kebebasan memilih tetap dibuka lebar kepada masyarakat umum.

Kabupaten Enrekang adalah salah satu daerah yang melahirkan kontestan tunggal dalam pemilihan kepala daerah tahun 2018 ini. Pasangan 'Muslimin Banda-Asman' menuju gelanggang pertarungan berhadapan kotak kosong, karena merupakan satu-satunya peserta dari Sulawesi Selatan tanpa penantang sehingga beragam opini muncul dan menjadi perbincangan hangat, dari skala lokal hingga nasional.

Beberapa hari yang lalu, ada dua ibu-ibu datang bertamu di kediaman kami. Saya cukup kaget, sebab kedua tamu yang merupakan kerabat istri saya profesinya hanya ibu rumah tangga, namun selama dua jam di rumah kami, obrolan hanya seputar kotak kosong. Analisis-analisisnya tidak kalah dengan pengamat politik yang berbicara di layar kaca atau di media online dan sosial media. Walaupun, kemungkinan kekeliruan mereka lebih banyak dari yang benar, sebab seperti ibu-ibu umumnya, suka berbicara melebihi apa yang mereka ketahui.

Tidak lama setelah itu, saya bergeser keluar kota, lima kilo meter arah Tator. Sebuah dusun bernama Kulinjang. Kembali dikagetkan, sebab para bapak-bapak, sambil menyeruput kopi, mereka serius membahas 'kotak kosong'. Mereka itu bukan politisi, sebab setiap hari kerjanya berkebun dan beternak, tapi opini politiknya secepat kerata malam Jakarta-Malang.

Saya tidak habis pikir. Dari mana emak-emak dan bapak-bapak itu tahu kalau petahana dalam usahanya mempertahankan kursinya harus merogoh kocek hingga puluhan miliar. Lebih mengagetkan sebab angka-angka rupiah itu mereka sebut secara rinci dari setiap partai.

Kecuali itu, ada satu hal yang saya rasa perlu diluruskan, sebab mereka seakan menghukum petahana tanpa pengadilan. Seakan-akan munculnya calon tunggal itu sebagai ambisi semata petahana tanpa ada sangkut paut dari para calon penantang.

Karena diskursus kotak kosong di Enrekang merebak hingga bayang-bayang tugu Monas di Jakarta sehingga salah seorang teman yang merupakan wartawan senior media nasional meminta penjelasan sebab-musabab terjadinya kotak kosong.

Karena itu, saya merasa perlu menuangkan coretan tentang Pilkada Enrekang 2018 yang menjadikan MB-Asman sebagai calon tunggal berhadapan dengan kotak kosong. Sebuah kaidah mengatakan, Ta'khîr al-bayân an syail-hâjah lâyajuz. Menunda informasi yang dibutuhkan orang banyak adalah tidak dibolehkan.

***

Sejak dua tahun lalu, sosialisasi dari berbagai bakal calon Bupati bertebaran di segenap penjuru dan pelosok Kabupaten Enrekang. Terlihat begitu dinamis dan meriah, sebab para calon penantang petahana melakukan berbagai macam cara untuk memperkenalkan diri.

Ada yang menyebar da'i di bulan Ramadhan atau beliau sendiri yang terjun memberikan pesan-pesan agama. Metode ini dilakukan oleh Masrur Makmur Latanro. Ada juga melakukan sosialisasi dengan pendekatan kepada para pemuda, metode ini dilakukan oleh Andi Nurhatman yang akrab dengan tagline "Atong Pulang Kampung". Ada juga Saleh Rahim yang lima tahun lalu sudah pernah ikut berkompetisi dalam Pilkada namun kalah. Muncul juga calon perempuan, namanya Hj. Erni Damayanti. Dan terakhir adalah Amiruddin, Wakil Bupati Enrekang yang akan segera habis masa baktinya bersama Muslimin Bando.

Nama yang terakhir disebut adalah yang dianggap paling berpeluang tampil menantang mantan paketnya lima tahun lalu, sebab ditinjau dari sisi mana pun kemungkinan itu sangat besar. Seluruh calon yang tersebut: Masrur Makmur Latanro, Andi Nurhatman, Amiruddin, Erni Damayanti hingga Muslimin Bando, hanya ada satu nama yang menjadi ketua partai yang punya kursi cukup untuk mengajukan calon bupati, yaitu petahana. Walaupun Amiruddin menjadi ketua NasDem, tapi hanya punya tiga kursi, sementara syarat mengajukan paket minimal enam calon. Petahana selaku Ketua DPD Golkar Enrekang mengantongi tujuh kursi.

Setiap bakal calon Bupati Enrekang di atas merasa mampu mendapat kendaraan lewat partai. Yang sudah dapat tiga kursi, tinggal mencari tambahan tiga lainnya. Amiruddin misalnya, dapat tambahan satu kursi dari PBB sehingga hanya butuh dua kursi untuk lolos menantang MB. Begitu pula Masrur yang mendapat rekomendasi dari PKS dengan tiga kursi, berusaha menambal kekurangannya agar dapat naik ring Pilkada 2018 ini. Atong pun demikian, berjuang meyakinkan partai-partai di Pusat. Damayanti, tidak terlihat pergerakannya, kecuali baliho dan isu kedekatannya dengan salah satu pengurus partai di Enrekang.

Karena setiap kandidat merasa mampu menggaet partai sehingga tidak satu pun berpikir untuk melewati calon perorangan. Padahal mereka tidak punya partai atau yang punya partai tapi tidak cukup kursi. Di sinilah kesalahan fatal itu bermula.

Pada hari Jumat (9/9/2017) saya berkomentar seperti ini, “Belum ada penantang di Enrekang, baru wacana, sebab belum ada satu pun yang dapat rekomendasi partai.Waktu semakin suntuk, kotak kosong semakin terlihat," (http://beritakota.co.id/Berita/2017/09/09).

Saat itu, banyak yang menyerang saya, bahkan menuding sebagai pengamat gadungan, sok tahu, dan berbagai tuduhan lainnya. Intinya saya ngawur dan kotak kosong tidak akan terjadi dalam Pilkada Enrekang 2018 ini.

Seiring berjalannya waktu, pada bulan Desember 2017, petahana sudah mengeluarkan nama paketnya, yaitu Asman. Jika dulu Muslim Bando-Amiruddin, disingkat MBA. Kini menjadi Muslimin Bando-Asman, tetap MBA. Asman adalah legislator NasDem Dapil II. Sementara NasDem Enrekang diketuai oleh Amiruddin yang juga berusaha menjadi penantang. Ketika nama itu keluar, firasat saya mengatakan bahwa sembilan puluh sembilan persen kotak kosong. Tapi para kandidat penantang belum bisa membaca fenomena di luar nalar itu.

Ketika pendaftaran dibuka mulai 10-12 Januari hingga diperpanjang 14-16 Januari 2018 hanya pasangan Bupati petahana Muslimin Bando dan legislator NasDem, Asman (MB-Asman) yang mendaftar di KPU Enrekang. Maka kotak kosong pun jadi lawan.

Yang patut disesalkan, kenapa para calon penantang petahana tidak punya strategi lebih untuk menatap Pilkada Enrekang? Bukankah mereka tidak punya partai, atau punya partai tapi tidak cukup kursi di DPR. Perorangan adalah jalan terbaik, biaya bisa saja lebih murah, dan peluang menang pun sama dengan usungan partai. Tenaga mereka habiskan untuk mengejar yang tidak pasti, sementara hal yang pasti berceceran. Jika merasa punya dukungan dan layak jadi calon Bupati, dukungan duapuluh lima persen dari jumlah pemilih adalah hal yang mudah. Dan itulah yang terjadi di berbagai daerah lainnya yang hampir saja melawan kotak kosong. Bone adalah salah satunya.

Karena itu, munculnya calon tunggal dalam Pilkada Serentak 2018 di Enrekang, bukan hanya karena usaha dan strategi petahana secara maksimal dalam mempertahankan kedudukannya, akan tetapi lebih pada ketiadaan strategi bagi para calon penantang. Semoga peristiwa ini dapat menjadi pelajaran bagi calon pemimpin masa depan. Partai saat ini tidak lagi berpijak pada ideologi yang mereka usung. Di lain pihak kaderisasi seakan tersendat, justru kapitaalisasi terlihat lebih dominan. Dana yang digelontorkan pemerintah terhadap partai yang bertujuan mendidik masyarakat berpolitik laksana embun pagi disapu sinar matahari, menguap hampa makna. Saya percaya bahwa demokrasi yang sehat akan melahirkan pemimpin yang berkualitas. Wallahu A'lam!


Enrekang, 22 Januari 2018.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena