Maulid dan Sunnah Rasul



Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA., Peneliti MIUMI Pusat; Pimpinan BAZNAS Enrekang

Merujuk pada ilmu morfologi, maulid atau maulud bermakna tempat atau waktu lahir. Kemudian berkembang dengan makna khusus yaitu peringatan akan kelahiran Nabi Muhammad. Makna yang terakhir ini menjadi pegangan bagi masyarakat muslim sedunia.

Secara historis maupun syariat, maulid tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya, jika ditelaah lebih dalam, budaya maulid muncul pada abad keempat setelah Nabi Hijrah ke Madinah (Hijriah).

Ibnu Katsir mencatat bahwa orang yang paling bertanggung jawab dalam peringatan maulid adalah Al-Mudzaffar Abu Sa’id Kaukabari (W. 360 H). Ia adalah seorang penguasa daerah Irbil yang masuk dalam wilayah Mosul, Iraq. Penguasa Irbil tersebut  setiap bulan Rabi’ul Awal memperingati maulid Nabi dengan perayaan yang sangat meriah.

Secara strategis peringatan maulid sangat bermanfaat sebab akan senantiasa mengingatkan umat Islam akan lahirnya sosok Nabi Akhir Zaman. Terlebih lagi dalam situasi zaman kian kacau, manusia merindukan sosok panutan abadi yang dapat dijadikan rujukan dalam hal apa pun. Mulai dari kehidupan paling sederhana seperti masuk WC hingga mengatur negara dan berperang mempertahankan kedaulatan negeri.

Di Indonesia, peringatan maulid menjadi acara resmi kenegaraan dan 12 Rabi'ul Awwal menjadi hari libur nasional. Masyarakat pun antusias ikut merayakan, mulai dari masjid negara Istiqlal hingga pelosok dusun terkecil di Bonto Cani Bone.

Sejak kecil saya menyaksikan acara maulid di kampung halaman dengan begitu meriah. Para tetua kampung dari parewa syara' (pengurus agama) membaca Kitab Barzanji, ibu-ibu sibuk menyediakan berbagai macam hidangan seperti  sokko (nasi pulut) dengan lauk ayam dan telur.

Di Malaysia, saya saksikan tidak kalah meriah. Pengurus masjid memotong sapi, memasak, lalu dihidangkan pada jamaah setelah mendengar ceramah agama tentang keistimewaan Nabi Muhammad.

Semua itu menjadi bukti nyata akan keagungan Rasulullah. Maka hal yang paling utama sebagai umat Muhammad adalah mengamalkan sunnah Rasul  atau ibadah-ibadah yang telah beliau contohkan.

***

Sunnah secara bahasa adalah mengikuti, dalam istilah berarti segala sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik ucapan, perbuatan maupun penetapannya.

Sunnah memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, karena Allah sendiri yang memuji semua perbuatan dan tingkah laku NabiNya,
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak/tingkah laku yang agung”, (QS. al-Qalam:4).

Aisyah r.a., ketika beliau ditanya tentang ahlak [tingkah laku] Rasulullah,  beliau menjawab, “Sungguh akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an".

Ini berarti bahwa Rasulullah adalah orang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan isi Al-Qur’an, menegakkan hukum-hukumnya dan menghiasi diri dengan adab-adabnya.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan balasan kebaikan pada hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. al-Ahzaab:21).

Imam Ibnu Katsir berkata, Ayat yang mulia ini merupakan landasan yang agung dalam meneladani Rasulullah dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaannya.

Maka mencontoh Nabi, baik prilaku harian apalagi dalam masalah ibadah adalah sebuah keniscayaan. Demikian pula syarat untuk selamat dunia akhirat adalah ikhlas beribadah dan segala bentuk ibadah harus merujuk pada Nabi Besar Muhammad atau ittiba'ur-rasul.

***

Satu lagi Sunnah Rasul yang kerap jadi perbincangan yaitu menggauli istri pada malam Jumat. Benarkah itu?

Ada perkataan yang dianggap sabda Nabi lalu dimanipulasi sebagai sunnah berupa, Siapa yang melakukan hubungan intim (suami istri) pada malam jumat sama seperti membunuh seratus Yahudi, dalam cerita lain bahkan sama dengan membunuh seribu hingga tujuh ribu Yahudi.

Padahal tidak ada satu kitab hadis pun yang mencantumkan perkataan yang dianggap hadis itu. Baik kitab-kitab hadis yang berisi kumpulan hadis shahih maupun hadis dhoif. Itu artinya hadis 'keutamaan senggama malam Jumat tersebut batil alias palsu'.

Dalil yang layak dijadikan pijakan tentang sunnah berhubungan suami istri pada hari Jumat kemungkinan besar pada hadis berikut, Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dan memandikan [istri?], lalu dia berangkat pagi-pagi dan mendapatkan awal khutbah, dia berjalan dan tidak berkendaraan, dia mendekat ke imam, diam, serta berkonsentrasi mendengarkan khutbah maka setiap langkah kakinya dinilai sebagaimana pahala amalnya setahun.” (H.R. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah; dinilai sahih oleh Imam An-Nawawi dan Syekh Al-Albani).

Disebutkan dalam Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, bahwa ada sebagian ulama yang mengartikan kata “memandikan” dengan ‘menggauli istri’, karena ketika seorang suami melakukan hubungan intim dengan istri, berarti, dia memandikan istrinya. Dengan melakukan hal ini sebelum berangkat shalat Jumat, seorang suami akan lebih bisa menekan syahwatnya dan menahan pandangannya ketika menuju masjid. (Lihat Aunul Ma’bud, 2:8)

Mazhab yang menganggap pendapat ini adalah pendapat yang kuat maka anjuran melakukan hubungan intim di hari Jumat seharusnya dilakukan sebelum berangkat shalat Jumat di siang hari, bukan di malam Jumat, karena batas awal waktu mandi untuk shalat Jumat adalah setelah terbit fajar hari Jumat.

Hakikatnya sunnah Rasul dalam hal menggauli istri dapat dilihat dalam dalil ini, wanita itu ketika dilihat seperti setan karena punya kekuatan menggoda, maka jika ada lelaki memandang wanita lalu terpikat, hendaknya dia segera mendatangi istrinya karena apa yang ada pada istrinya juga ada pada wanita itu, (HR. At-Turmudzi, no. 1158).

Teks terakhir mengisyaratkan bahwa sunnah menggauli istri adalah tanpa batas selama itu tidak melanggar syariat. Semestinya maulid kali ini menjadi momentum menghidupkan dan mengamalkan sunnah Rasul secara totalitas. Mengamalkan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi sudah sangat cukup untuk dijadikan jalan keselamatan dunia akhirat. Wallahu A'lam!



Enrekang, 30 Nopember 2018.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena