Ketika Guru Jadi Korban Kebiadaban Murid



Oleh: Ilham Kadir, Peneliti MIUMI Pusat, Pimpinan BAZNAS Enrekang


Ahmad Budi Cahyono, guru kesenian SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, tewas usai dianiaya muridnya sendiri  pada Kamis (1/2/2018).

Tragedi di atas menambah panjang deretan buruk rupa sistem  pendidikan kita. Pembangunan jati diri atau pendidikan karakter yang menjadi slogan program pendidikan kita menguap tanpa bekas. Proses pendidikan yang kini sedang berlangsung terlihat tidak jelas arah dan tujuannya, kemana akan berlabuh. Laksana kapal tanpa arah dan nakhoda tanpa kompas.

Dalam ilmu pendidikan, kedudukan guru sangat sentral. Guru itulah yang menjadi juru kemudi, kemana ia akan bawa muridnya berlayar dan berlabuh. Jika saja guru tidak diberi kebebasan mengarahkan murid-muridnya, persis seperti penumpang kapal yang seenaknya mengatur nakhoda. Celakanya, di negeri ini, bukan saja tidak memberi kebebasan kepada nakhoda, tapi penumpang biadab dan membunuh nakhodanya.

Seperti itulah kejadian yang sedang hangat sekarang ini. Budi,  dibunuh oleh muridnya yang tak punya budi pekerti. Konyolnya, sang pembunuh ini masih saja ada yang bela, meminta aparat untuk tidak menahan yang bersangkutan. Bagi saya, hukuman pembunuh Budi harus lebih keras, jika merujuk pada syariat, yang bersangkutan pun harus dihukum mati agar melahirkan efek jera bagi orang lain.

Pembunuhan Pak Budi semestinya menjadi momentum kepada pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap sistem pendidikan yang ada saat ini. Saya yakin pasti ada yang keliru. Lebih khusus lagi, tercabutnya wewenang guru untuk bertindak lebih jauh dalam mengarahkan murid harus dievaluasi ulang.

Jika tidak ada langkah-langkah yang strategis dalam mengurai buruk rupa pendidikan kita, maka saya yakin generasi pelanjut hanya menunggu masa kehancuran. Runtuh dan bangkitnya sebuah negara bahkan peradaban dimulai dari pendidikan, dan pendidikan baik harus menyediakan pendidik yang berkualitas.

Dalam sejarahnya, guru adalah pemegang otoritas ijazah. Artinya, hanya guru yang berhak memberi ijazah kepada murid yang telah menyelesaikan studi dan dianggap lulus. Ijazah adakah bahasa Arab yang berarti sertifikat atau mandat. Sertifikat tersebut menunjukkan kepada orang lain bahwa pemegangnya sudah punya otoritas atas ilmu yang telah dipelajari oleh sang guru.

Seiring berjalannya waktu, guru sebagai pemegang otoritas ijazah bergeser pada lembaga pendidikan atau instansi. Akibatnya, negara atau yayasan yang menjadi penentu lulus tidaknya seorang siswa. Tugas guru adalah memindahkan ilmu dan informasi dari buku ke otak murid. Murid yang lulus dengan angka tertinggi adalah dianggap paling sukses dan berprestasi.

Siswa yang bandel, durhaka, tidak salat, pemabuk, namun bisa menjawab ujian dengan benar, tetap dinyatakan lulus. Demikian pula, di dalam kelas, anak didik yang susah diatur bahkan kurang ajar, tetap tidak berhak diberi hukuman oleh guru. Maka, mereka pun makin kurang ajar, hanya sekedar ditegur karena tidak mengikuti disiplin dalam kelas, bisa menjadikan guru masuk kuburan sebelum ajal aja tiba. Begitu yang terjadi kepada Pak Budi di Madura, dianiaya oleh muridnya yang tak tahu mengenang budi. Wallahu A'lam.

Enrekang, 9 Februari 2018




Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an