Firaun Zaman Now



Oleh: Dr. Ilham Kadir. MA.*

Salah satu kajian yang mendapat perhatian khusus dalam Al-Qur'an adalah kisah-kisah masa lalu. Dan, di antara sekian banyak kisah, ada satu nama yang mengalami pengulangan cukup banyak. Firaun.

Tentu saja pengulangan nama Firaun itu bukan tanpa makna. Akan tetapi ada pesan yang jelas, "Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal.”
(QS. Yusuf: 111).

Allah memberikan bukti nyata pada  manusia tentang golongan yang berhak mendapat reward dan siapa yang memancing azab-Nya. Hingga semua bukti menjadi jelas dan tidak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk membuat alasan. "Yaitu agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata", (QS. Al-Anfal 42).

Allah menceritakan kisah umat terdahulu agar kita mengikuti mereka yang telah berbuat kebaikan dan menjauh dari mereka yang mendapat siksa Tuhan karena kedurhakaan. “Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. An-Nazi’at: 26).

Sebenarnya Firaun bukanlah nama seseorang akan tetapi sebutan bagi Raja Mesir di zaman itu. Jadi, kita akan menemukan banyak Firaun dengan orang-orang yang berbeda. Bahkan orang-orang Mesir merasa bangga jika disebut "min sulâlatil-farâ'in" atau "dari keturunan raja-raja Firaun'. Kemungkinan kebanggaan itu muncul karena kebesaran Firaun.

Kali ini, kita akan berbicara tentang Firaun yang sezaman dengan Nabi Musa. Firaun adalah Raja yang begitu kejam dan bengis. Hingga namanya digunakan sebagai lambang kebiadaban dan kesombongan. Dalam bahasa Arab pun, kata tafar’ana memiliki sinonim takabbara. Yaitu kata memfir’aunkan diri memiliki arti menyombongkan diri.

Nama Firaun begitu terkenal sebagai simbol antagonis, musuh kebenaran dan pemimpin kebatilan. Sehingga, musuh-musuh kebenaran di setiap zaman disebut Firaun di zaman itu. Seperti Abu Jahal yang disebut Firaunnya Umat Nabi Muhammad. 

Lalu, apa yang telah dilakukan Firaun? Apa sifat-sifatnya hingga ia menjadi tokoh antagonis terbesar sepanjang sejarah manusia? Dan apa saja yang telah ia perbuat hingga Allah mengabadikan kisahnya bahkan jasadnya sebagai pelajaran bagi bagi kita.

Dinasti  Firaun 

Berikut sifat-sifat Firaun yang mungkin saja melekat pada pemimpin zaman sekarang. Dalam konteks Indonesia, seorang Firaun boleh saja dari seorang kepala negara hingga kepala rumah tangga.

Pertama. Tidak mau menerima saran. Dalam artian, tidak ada yang boleh memberi pendapat berbeda dengan Firaun. Ketentuannya adalah ketentuan yang mutlak dan tidak bisa dibantah. Perintahnya harus dilaksanakan tanpa ada seorang pun yang boleh melawan. Masyarakat harus diam dan hanya berkata “iya”. 
Disebut juga sebagai pemimpin otoriter, untuk menegaskan dan menegakkan supremasi, Firaun menghabisi siapa saja yang berani berbeda pendapat dengannya. Hal ini diabadikan Allah dalam Al-Qur'an, Berkata Firaun, “Aku hanya mengemukakan kepadamu, apa yang aku pandang baik.” (QS. Ghofir: 29).

Kedua. Menjauhkan rakyat dari kebenaran. Ciri-ciri pemimpin hasil kaderisasi Firaun adalah  selalu menjauhkan rakyatnya dari orang yang ingin memerangi kebodohan dan mencerdaskan mereka. Dia selalu menghalang-halangi golongan  yang ingin mengajak rakyatnya menuju kebaikan. Karena rakyat yang cerdas akan menjadi bumerang bagi Firaun. Tidak boleh ada suara lain selain yang harus dipatuhi dan didengar. Semua suara harus bungkam di hadapannya. 

Firaun menuduh para penyeru kebenaran sebagai orang yang akan merusak bangsa. Sebagai pengacau yang akan melenyapkan adat dan kebudayaan mereka. Semua suara harus bungkam di hadapannya. "Mereka para pesihir berkata, Sesungguhnya dua orang ini [Musa dan Harun] adalah pesihir yang hendak mengusirmu [Firaun] dari negerimu dengan sihir mereka berdua, dan hendak melenyapkan adat kebiasaanmu yang utama.”
(QS. Thaha: 63).

Ketiga. Menjaga kekuasaan dengan segala cara. Selain nyawa, kekuasaan adalah yang paling penting bagi Firaun dan konco-konconya, dari zaman repot mencari nasi hingga ferofmasi.

Orang seperti Firaun akan menjaga kekuasaannya dengan segala cara. Bahkan, dia akan menggunakan kedok agama untuk mengokohkan dinastinya. Padahal, dia orang yang paling anti terhadap agama. Dinasti Firaunnisme sangat memahami bahwa dengan memperalat agama kekuasaan akan langgeng. Padahal agama buat mereka hanya aksesoris, bahkan pada tahap tertentu rela menjual agama demi kelangsungan kekuasaan. Pemimpin macam ini hakikatnya telah menjadikan agama sebagai barang dagangan dengan harga murah. 

"Dan Fir‘aun berkata kepada pembesar-pembesarnya, Biar aku yang membunuh Musa dan suruh dia memohon kepada Tuhan-nya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi.”
(QS. Ghofir: 26).

Keempat. Anti reformasi. Penguasa semacam Firaun tidak sudi meenyaksikan ada reformasi di tengah masyarakat. Dengan segala cara akan  dilakukan agar jangan sampai ada rakyatnya yang sadar. Dia begitu khawatir, jika rakyatnya yang bodoh tersebut  akan mengikuti kebenaran dan menggulingkan penguasa zalim.

Antek-antek Firaun akan melenyapkan kaum Reformis, sebab jika ada reformasi pasti mereka akan tersingkir. Mereka berkata, “Apakah engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa kepercayaan yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya menyembah berhala, dan agar kamu berdua mempunyai kekuasaan di bumi Mesir? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua.”
(QS. Yunus: 78).

Firaun sangat takut bagi generasi reformis seperti Harun dan Musa. Maka setiap ada suara-suara pembaharuan setip itu api perang dihembuskan dari generasi Firaun.

Kelima. Reformis harus disiksa. Seorang yang datang ingin membawa perubahan, mencerdaskan masyarakat dan mengajak mereka menuju kebaikan harus disiksa sebagai pelajaran bagi yang lain.

Fir‘aun berkata, “Mengapa kamu beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Nanti kamu pasti akan tahu akibat perbuatanmu. Pasti akan kupotong tangan dan kakimu bersilang dan sungguh, akan kusalib kamu semuanya.” (QS. Asy-Syuara: 49).

Di saat suhu politik kian panas dan dinamis, terutama menjelang Pilkada serentak 2018 mendatang. Tentu masyarakat harus cerdas memilih para calon pemimpin. Hindari pemimpin yang hanya mengutamakan tukang bisik, kroni, dan dinasti. Jangan biarkan Firaun tumbuh subur di negara kita. Mari bersama melawan Firaun zaman now. Wallahu A'lam!

*Peneliti MIUMI Pusat; Pimpinan BAZNAS Enrekang. 

Buntu Batu-Enrekang, 22 November 2017.


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an