Fikih Lingkungan Hidup


Oleh: Dr. Ilham Kadir,MA., Peneliti MIUMI/Pimpinan BAZNAS Enrekang 

Secara bahasa fikih dimaknai sebagai pemahaman dan pengertian yang utuh. Namun yang dimaksud dalam tulisan ini adalah memahami masalah lingkungan dengan menggunakan perspektif syariat. Dengan itu, masalah-masalah lingkungan yang terjadi di pelupuk mata kita tidak hanya diselesaikan melalui pendekatan budaya, politik, sains dan teknologi semata.

Sangat jelas bahwa alam raya telah diciptakan Allah dalam sebuah sistem yang sangat serasi lagi sesuai dengan kehidupan makhluk-Nya. Ada siklus yang menunjuk keterkaitan serta pengaruh mempengaruhi antara satu bagian alam dengan lainnya. Ilmu filsafat mengenal dengan istilah 'kausalitas'.

Karbon adalah bagian dari semua makhluk hidup lainnya yang bergerak di sekeliling kita. Tumbuhan menyerap karbon dioksida dari atmosfer, sedang hewan termasuk manusia mengambil karbon ketika makan. Karbon dilepaskan ketika tumbuhan dan hewan terurai, begitulah siklus karbon. Pada segi lain, selama proses photosyinthesis, semua tumbuhan melepaskan oksigen. Manusia mengeluarkan karbon dioksida lalu diserap oleh tumbuhan, di saat yang sama, manusia menyerap apa yang dikeluarkan oleh tumbuhan berupa oksigen. Demikian siklus oksigen. 
Siklus nitrogen lain lagi, nitrogen diperlukan oleh makhluk hidup untuk membuat protein namun harus digabungkan dengan unsur lain sebelum dapat digunakan. Beberapa nitrogen digabungkan oleh kilat, sebagian besar oleh bakteri yang terdapat dalam tanah. Itulah contoh kausalitas.

Tumbuhan dapat lebih subur jika manusia memelihara tanah dan tumbuhan itu sendiri. Banjir dan tanah longsor terjadi akibat menebang pohon dan mengeksplorasi alam melebihi kebutuhan atau melewati batas. Kedurhakaan manusia kepada alam akan berakibat fatal bagi alam dan dirinya sendiri. Ini yang disitir oleh Allah bahwa 'telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, sehingga akibatnya Allah mencicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali', (QS. Al-Rum[30]: 41).

Reboisasi
Penebangan pohon, baik itu hutan masyarakat maupun hutan lindung terus terjadi. Di Enrekang saban hari saya saksikan dengan mata kepala sendiri penebangan pohon jati terus terjadi, kayu tersebut diangkut menggunakan kontainer lalu diekspor ke Jepara. 

Di daerah Duri Kompleks, penebangan hutan rakyat juga terus berlangsung untuk dijadikan kebun sebagai mata pencaharian. Apalagi beberapa tahun terakhir ini, Enrekang telah menjadi produsen bawang terbesar ketiga setelah Bima dan Brebes, dan hampir semua bawang di Enrekang berasal dari Duri. Semua itu butuh lahan yang tidak sedikit. 

Penebangan pohon jati dan hutan pribadi tentu secara dejure dibolehkan sebab itu milik masyarakat. Tetapi ada faktor lain yang dapat mengancam kehidupan masyarakat secara keseluruhan jika ini dibiarkan terus berjalan tanpa ada kontrol dari pemerintah. 

Perlu dipahami, Enrekang adalah salah satu paru-paru Sulawesi Selatan, denyut nadi masyarakat Sidrap dan Pinrang. Air yang mengalir ke Sidrap dan Pinrang berasal dari Enrekang. Maka perlu ada aksi nyata dari pemerintah, LSM, pemerhati lingkungan, pihak keamanan, hingga para dai untuk mencari solusi yang tepat. Kalau memang tidak mungkin dihentikan, minimal dikurangi volume eksplorasi tersebut atau melakukan penanaman kembali yang kita kenal dengan istilah reboisasi. 

Perspektif Teologis

Menjaga kelestarian lingkungan dengan pendekatan teologis dapat menjadi senjata ampuh. Sisi ini akan memotret dua dimensi, dunia-akhirat.

Dalam satu Hadis yang dinarasikan oleh Imam Abu Dawud menyebutkan ancaman bagi orang yang menebang pohon. Sabda Nabi, "Barangsiapa yang menebang pepohonan, maka Allah akan mencelupkan kepalanya ke dalam api neraka," (HR. Abu Dawud, dalam Kitab "Al-Adab", No. 5239, dari Abdullah bin Habsyi, dan Disebutkan pula dalam Shahih Al-Jai' Ash-Shaghir No. 6467).

Abu Dawud lalu memberi penjelasan secara eksplisit dari hadis di atas. Bahwa maksud orang yang menebang pohon adalah yang menebang secara sia-sia di sepanjang jalan, tempat para musafir dan hewan untuk berteduh, maka Allah akan mencelup kepalanya dalam neraka. (Sunan Abu Dawud, 3/404).

Di lain pihak, dalil-dalil syar'i yang bernada perintah bahkan paksaan menanam pohon begitu banyak, antara lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bersumber dari Jabir, Nabi Bersabda, Apabila seorang muslim menanam, maka apa yang dimakan darinya merupakan sedekah, dan yang dicuri darinya juga sedekah, yang dimakan binatang buas juga sedekah, yang dimakan burung juga sedekah, ataupun jika diambil oleh seseorang juga sedekah. (Riwayat Muslim, Kitab Al-Masaqat).

Hadis tersebut mendapat penguatan dari Hadis lain riwayat Imam Ahmad, Nabi bersabda, Barangsiapa menanam pohon, menjaganya dengan sabar, serta merawatnya hingga berbuah, maka segala sesuatu yang menimpa terhadap buah-buahnya dikategorikan sedekah di jalan Allah.

Kisah dari sahabat Nabi, Abu Darda', ketika dia sedang menanam pohon asam, maka seseorang yang lewat bertanya. 'Kenapa kamu menanam pohon ini sedang kamu sudah lanjut usia, sementara pohon itu akan berbuah dalam rentang waktu yang sangat lama?' Abu Darda menjawab, 'Saya hanya mengharap pahalanya, dan biarlah orang lain yang menikmati buahnya'. (Al-Qaradhawi, Al-Halal wa Al-Haram).

Dikisahkan Ibnu Jarir dari Imarah, Umar bin Khattab bertanya pada ayahnya, Apa yang menghalangi kamu untuk menanam pohon di tanahmu? 'Saya ini sudah tua yang bisa jadi besok akan mati,' jawab sang ayah. 'Aku yakin engkau akan tertipu dengan umurmu,' kata Umar. Lalu, Umar dan ayahnya bersama-sama menanam pohon di tanahnya. Umar, sebagai Khalifah, merasa bertanggung jawab untuk memanfaatkan tanah kosong dengan menanam tanaman, sekaligus mengingatkan dan memberi pelajaran bagi para sahabat Nabi lainnya, (Al-Qaradhawi, Ri'ayatul Bi'ah fi Syariatil Islam, Kairo, 2001).

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad dan Al-Bukhari dalam Adab al Mufrad yang dishahihkan Al-Bani, dari Anas, Nabi bersabda, 'Apabila Hari Kiamat telah dibangkitkan, dan pada salah satu dari kalian memegang batang pohon korma, maka bergegaslah menanam'. 

Dalam pandangan Al-Qaradhawi, tidak ada dalil yang lebih kuat 'paksaannya' untuk menanam melebihi di atas. Alam dengan fitrahnya yang selalu menghasilkan sumber kekayaan tanpa pamrih, walau hari kiamat akan datang, ia akan tetap bermanfaat dan berbuah tanpa henti. 

Pohon kurma adalah simbol tumbuhan yang memberi banyak manfaat. Dalam konteks keindonesiaan, tumbuhan apa pun yang mampu memberi manfaat wajib ditanam pada lahan yang kosong. Sungguh disayangkan jika para pendahulu telah bersusah payah menanam, namun kita tebang tanpa ada regenerasi. Selain merusak lingkungan tentu saja memutus pahala mereka. Sebagai anak yang baik, menanamlah untuk kita dan generasi akan datang. Menjaga lingkungan hidup hakikatnya adalah menjaga kehidupan dan menjaga kehidupan (hifdzul-hayâh) merupakan salah satu tujuan syariat. Wallahu A'lam! 


Dimuat Harian Tribun Timur, 2 Maret 2018

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena