Fikih Lalulintas



Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA. Peneliti MIUMI; Pimpinan BAZNAS Enrekang

Musim hujan tiba, air tumpah dari langit tidak terelakkan. Dengan drainase yang buruk, tumpukan sampah menyumbat air mengalir, maka terjadilah banjir. Para pengendara berebut tempat di jalan dengan air got yang meluber.

Di sisi lain, sesama pengguna jalan saling berkompetisi untuk mencapai tujuan, tidak ada yang sudi mengala, terjadilah macet. Kemacetan akan melumpuhkan aktivitas, sebab kerja-kerja kantor atau di lembaga pendidikan sudah terprogram sesuai jadwal tertunda bahkan tidak terlaksana sama sekali.

Maka, masalah lalu lintas harus diselesaikan secara bersama-sama, terutama bagi segenap pengguna jalan. Jangan hanya melimpahkan tanggung jawab kepada pihak Polisi Lalulintas, tetapi segenap pemegang kebijakan harus turun tangan mengurai dan mengurangi masalah lalulintas yang kian hari kian rumit.

Di antara yang harus berkontribusi adalah para tokoh masyarakat, ormas Islam, ulama, dan para da'i. Mereka harus duduk bersama mencari solusi dan mengeluarkan resolusi tentang fikih lalulintas.

Yang dimaksud dengan fikih lalulintas dalam tulisan ini adalah memotret lalu memahami masalah lalulintas dalam perspektif islamic worldview atau cara pandang islami. Jadi lalulintas jangan hanya diteropong dengan dimensi dunia saja, tetapi ada keterkaitan dengan akhirat. Masalah muamalat dalam agama kita menjadi bagian tidak terpisahkan dengan akidah. Muslim yang bersih akidahnya secara normal akan memiliki prilaku baik pula terhadap sesama dan alam jagad beserta isinya.

Berebut tempat kendaraan di jalan adalah hal wajar, namun memaksakan kehendak dengan sampai melanggar aturan lalulintas adalah tidak wajar. Perlu dipahami bahwa setiap orang punya urusan penting. Masing-masing ingin cepat sampai tujuan, namun selaku muslim yang baik adalah memberikan jalan kepada saudaranya jika memang itu diperlukan. Memudahkan saudara sesama pengguna jalan adalah bagian dari perbuatan terpuji.

Banyak dalil menunjukkan bahwa salah satu sunnah adalah memudahkan urusan orang lain, atau mengeluarkan orang lain dari perkara sulit, salah satunya adalah hadis dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW, bersabda, Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).

Budaya antri di jalan, mendahulukan mereka yang lebih dulu mengambil jalan merupakan perbuatan terpuji. Sedekah jangan hanya dipahami dalam sebatas memberi materi pada orang lain, tetapi tertib dan memberikan laluan pada sesama pengendara di jalan adalah bagian dari sedekah berbuah pahala.

Mengurangi Kecelakaan

Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXX berlangsung selama dua hari (24-25 Januari 2018 ) di Balai Sidang Muktamar Kampus Unismuh Makassar. Munas Tarjih ditutup setelah membahas beberapa persoalan kekinian.  Setidaknya ada tiga tema sentral dalam Munas tersebut yaitu: fikih lalu lintas, problematika pengelolaan informasi, dan  perlindungan anak.

Dengan adanya perhatian terhadap problematika lalulintas, itu menunjukkan bahwa sudah ada usaha awal dalam mengurangi kecelakaan di jalan raya yang menewaskan sedikitnya 80 jiwa setiap hari di Indonesia.

Inti dari fikih lalulintas adalah mewujudkan kemaslahatan bagi masyarakat sebagai pengguna jalan raya. Karena pemerintah sudah mengeluarkan aturan-aturan lengkap di jalan, maka kewajiban kita adalah mematuhi aturan tersebut. Selain itu, negara juga menyediakan alat untuk menjalankan aturan lalu lintas, mereka adalah para polisi lalulintas.

Sebuah ironi sebab pengguna jalan acap kali mengabaikan aturan lalu membahayakan diri sendiri. Mereka lebih takut kepada polisi daripada menyelamatkan diri dari kecelakaan. Buktinya, setiap saat kita saksikan pengendara ugal-ugalan, semrawut, pengendara motor tanpa helm, menerobos lampu merah, menjadikan trotoar sebagai jalanan motor, daftar pelanggaran terus bertambah.

Padahal aturan jika ditegakkan akan dapat meminimalisir atau bahkan mereduksi kecelakaan lalulintas yang menjadi pembunuh nomor wahid di negeri ini.

Selain Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari Pusat hingga Daerah juga harus berkontribusi dalam menyelesaikan masalah yang sangat krusial ini. Memberikan fatwa kepada umat agar patuh dan taat aturan lalulintas. Di lain pihak, para aparat negara dari kepolisian juga harus massif melakukan sosialisasi aturan lalulintas di lembaga-lembaga pendidikan, tujuannya, agar generasi muda taat aturan lalulintas. MUI jangan hanya menjadi pembaca doa pada seremonial penguasa atau hujatan para politisi.

Harus diakui bahwa balapan liar, pelanggar rambu-rambu lalulintas umumnya dari kalangan remaja, besar kemungkinan karena tidak mendapat ilmu fikih lalulintas sejak dini atau tidak paham peraturan di jalan raya.

Fikih Lalulintas adalah jawaban yang tepat dalam menyelesaikan masalah-masalah yang kian kompleks di tengah jalan raya. Dengan memahami lalulintas dalam perspektif syariat, maka umat Islam sebagai pengguna utama jalan raya akan tertib dan teratur dalam perjalanan. Pahamilah bahwa taat kepada pemerintah yang membuat aturan sesuai syariat merupakan perintah agama. Wallahu A'lam!


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an