Kebangkitan Kaum Santri

Dimuat Tribun Timur, 23/10/2017

~Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA., Alumni Perdana Pondok Pesantren Darul-Huffadh, Tuju-Tuju, Bone~

Masyarakat Bugis menyebut santri sebagai 'ana' mangngaji', dan kiai sebagai 'Anregurutta' dan atau 'Gurutta'. Duduk belajar dan mengkaji kitab di hadapan Gurutta disebut 'mangngaji tudang'.

Ditilik dari sisi morfologi, kata 'santri' berakar dari bahasa India 'shantri', berarti 'orang-orang yang mengetahui kitab suci agama Hindu', bisa pula berasal dari bahasa Jawa 'cantrik', 'seseorang yang mengikuti kemana pun gurunya pergi. Makna santri dalam tulisan ini dikhususkan bagi mereka yang berasal dan atau berguru pada lembaga pendidikan pondok pesantren, tidak selain itu.

Secara sederhana, dapat dipetakan bahwa santri adalah salah satu komponen dari sebuah sistem pendidikan Islam khas Indonesia yang dikenal dengan Pondok Pesantren. Maka, ketika berbicara santri secara pasti lembaga tempat mereka dididik adalah bagian yang tidak terpisahkan. 

Sebuah pesantren dapat diakui keberadaannya baik secara defacto dan dejure kalau memenuhi unsur berikut: kiai, santri, pondok, masjid, dan kitab kuning. 

Pertama. Kiai. Inilah ruh dari sebuah pondok pesantren. Mati dan hidup, maju dan mundurnya sebuah pesantren sangat tergantung kiai. Sebab kiai memegang otortas penuh pada lembaga pendidikan tertua di Indonesia ini.

Sebuah pondok pesantren akan berkembang pesat jika figur kiai kuat, dalam artian mampu menyedot perhatian umat sehingga tertarik berguru padanya, atau mengirim anak dan sanak famili belajar. Selain itu, kiai juga dapat menjadi ciri khas sebuah pesantren. Jika kiainya ahli dalam kajian ilmu waris misalnya, biasanya akan menurunkan pengaruh kuat bagi para santri. Demikian pula ilmu-ilmu lainnya. Ada pesantren spesialis ilmu bahasa, atau ilmu fikih, atau ilmu tafsir, atau dakwah, hafalan Qur'an, dan seterusnya, semua dimulai dari kecenderungan dan keahlian sang kiai sebagai pendidik dan pengasuh utama.

Kedua. Santri. Salah satu variabel untuk mengukur maju dan berkembangnya pondok pesantren dapat dinilai dari jumlah santri yang datang untuk berguru. Semakin tinggi animo masyarakat untuk datang belajar maka pesantren tersebut dinilai memiliki keunggulan atau kualitas yang baik. Sebaliknya, jika tidak ada calon santri yang datang untuk belajar, maka pondok tersebut hanya menunggu mati. Santri berkualitas hanya akan terlahir dari pendidik yang berkualitas. 

Ketiga. Pondok atau atau sarana belajar. Zaman dahulu, khususnya sebelum kemerdekaan, pondok adalah gubuk-gubuk sederhana yang dibangun oleh para santri untuk tinggal di sekitar rumah kiai. Biasanya terbuat dari kayu seadanya, atau dari bambu, baik tiang dan dindingnya, atapnya pula menggunakan daun nipa atau alang-alang. 

Karena pesantren adalah basis perjuangan kaum pribumi untuk mengusir para penjajah, maka pondok sengaja dibuat ala kadarnya, benar-benar sebagai sekadar tempat menginap. Setiap terjadi pemberontakan dari kaum pribumi, semangat dan roh perjuangan dimulai dari pondok, maka dengan itu pondok selalu dibakar oleh penjajah. Santri adalah ikon pribumi dan musuh utama Kompeni, mereka tidak bisa ditaklukkan dengan jalan apa pun.

Keempat. Masjid berfungsi sebagai sentra aktivitas. Kiai, santri, dan warga pesantren bersua di sini, minimal setiap waktu salat dan pengajian. Kiai umumnya memberikan kajian kitab-kitab rujukan setiap selesai salat Subuh dan Magrib. Santri duduk di hadapan kiai untuk menyimak. Biasa pula santri lebih suka menginap di masjid daripada di Asrama, sebab memudahkan mereka bangun malam salat tahajjud dan mengkaji pelajaran.

Kelima. Kitab Kuning sebagai bahan ajar. Hakikatnya, kitab kuning dimaksud adalah kitab-kitab berbahasa Arab yang dicetak dan diterbitkan lalu diedarkan dengan tidak menggunakan tanda baca. Biasa juga disebut kirab gundul. Kitab ini tidak sembarangan bisa baca kecuali setelah menguasai tata bahasa arab (nahwu), morfologi (sharaf) dengan baik dan benar. Umumnya kitab tersebut berbahan kertas warna kuning.
Seorang yang disebut kiai harus menguasai ilmu baca bahasa Arab, tahu maknanya, dan mampu membuat para santri mengerti.

***

Presiden RI Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional dengan Kepres Nomor 22 Tahun 2015. 

Artinya pemerintah Indonesia makin sadar akan peran penting santri dalam membangun bangsa, baik sebelum maupun setelah kemerdekaan. Dengan begitu, maka para santri harus siap terlibat lebih optimal dalam memajukan bangsa, khususnya di era digital ini.

Di antara medan yang harus jadi garapan kaum santri, khususnya para alumni Pondok Pesantren adalah politik praktis. Jangan selalu berada dalam tempurung yang memang dibuat khusus oleh para kaum oportunis. Salah satu slogan mereka adalah 'biarlah kami yang urus politik, kalian kaum santri urus saja itu ummat'.

Padahal, tidak ada kebijakan yang tidak lepas dari pengaruh politik, dari harga garam hingga harga diri. Kemarin, golongan yang lantang berteriak di luar pagar agar ummat jadi anti demokrasi, menjauh dari politik. Kini mereka kena batunya, dibubarkan dan yang melawan dikejar hingga ke lubang biawak. 

Fakta lain, ketika politik hanya diisi oleh golongan politikus bebas nilai, maka hasilnya dapat kita saksikan. Transaksi kekuasaan sama dengan jual beli daging mentah. Ongkos politik kian melambung yang pada akhirnya merugikan negara dan ummat. 

Kaum santri sudah harus sadar bahwa politik adalah dakwah kebijakan atau sunnah Rasul yang terabaikan. Jangan hanya fokus mencetak santri di pesantren yang orientasi sekadar sunnah Rasul di Malam Jumat, atau menambah istri jadi dua sampai empat, sementara negara dalam keadaan darurat, digarong uangnya, digasak emasnya, disuburkan hutanngnya, bahkan sekadar menyebut kata 'pribumi' saja bisa dipolisikan. Wahai Kaum Santri, Bangkitlah. Selamat Hari Santri Nasional!

Enrekang, 22 Oktober 2017

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi