Hijrahnya Pemimpin Bahlul


Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA., Sekretaris Pemuda KPPSI; Pimpinan BAZNAS Enrekang 
Dikisahkan bahwa seorang lelaki yang dianggap gila oleh kebanyakan orang bernama Bahlul (W. 812 M), ia hidup pada Dinasti Abbasiyah, ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid (766-809 M) berkuasa.

Suatu ketika Bahlul sedang duduk di salah satu kompleks pekuburan, lalu Khalifah Harun Ar-Rasyid lewat.

Sang Khalifah berteriak, Wahai Bahlul, Wahai Orang Gila, kapan engkau sadar? 
Bahlul yang terkejut dengan sigap memanjat ke atas pohon yang paling tinggi. Dengan balik berteriak kepada Khalifah dengan suara lantang, Wahai Harun, Wahai Orang Gila, kapan engkau sadar?

Maka Khalifah yang berada di atas pelana kudanya dibuat jengkel, lalu mendekat di bawah pohon tempat Bahul memanjat. Sambil bertanya, Apakah saya yang gila atau engkau yang tinggal di atas kuburan? Saya yang sadar dan berakal, jawab Bahlul. 

Bagaimana bisa begitu, protes Khalifah. Sebab saya paham jika itu--sambil menunjuk ke arah istana Khalifah--akan fana, sedangkan itu--menunjuk ke kuburan--adalah kekal. Dan kamu enggan meninggalkan kemewahan istana menuju pengapnya kuburan, padahal engkau tahu bahwa tidak akan ada pelarian menghindar dari kubur, maka pantaslah saya bertanya, siapa sesungguhnya yang gila, jawab Bahlul mantap.

Tak terasa hati Khalifah Harun Ar-Rasyid luluh, dan pipi serta janggutnya basah oleh derasnya air mata. Lalu ia bersumpah, Demi Allah, engkau memang benar! Sang Khalifah meminta tambahan nasihat. "Cukuplah engkau tunduk melaksanakan segala apa yang ada dalam kitab Suci", ujar Bahlul. 

Ar-Rasyid lalu memberi tawaran pada Bahlul. Apakah engkau punya permintaan agar saya kabulkan? Tentu, saya punya tiga permintaan, jika Tuan penuhi maka saya akan berterima kasih, jawab Bahlul. 

Kalau begitu mintalah, desak Ar-Rasyid. Tambahkan umurku, pinta Bahlul. Tidak bisa, jawab Ar-Rasyid. Kalau begitu, tolong selamatkan saya dari Malaikat Maut, Bahlul kembali meminta. Tidak bisa, jawab Khalifah. Kalau begitu, saya minta agar dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan dari jilatan api neraka, pinta Bahlul. Tidak bisa, jawab Khalifah. Kalau begitu, Sadarilah bahwa engkau hanya seorang hamba, bukan raja, saya tidak butuh Anda! (Diadaptasi dari kitab "Uqala' Al-Majanin" karya Abul Qàsim Al-Hasan bin Muhammad bin Habib An-Naisàburi).

***

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, makna kata 'Bahlul' adalah 'anti mainstream atau kehilangan akal sehat'. Ini pula yang diperpegangi oleh masyarakat Indonesia atau dunia secara umum yang muaranya sama berupa sikap dan prilaku negatif. 

Ternyata Khalifah Harun Ar-Rasyid pun awalnya demikian, berprasangka bahwa si Bahlul ini memang benar-benar majnun, akalnya abnormal, susah ditebak arah pikirannya. 

Jika masyarakat umum hidup tenang dan nyaman di rumah, bercengkerama dengan keluarga, menikmati jerih payah, siang jadi wadah menangguk rezeki, malam jadi waktu istirahat. Beribadah ke masjid, saling menyapa dan berbagi antar sesama, dan seterusnya. Itulah manusia mainstream, berakal dan berbadan sehat.

Beda halnya dengan Bahlul, hidupnya justru dihabiskan di area pekuburan, merenungi nasib, menghitung dosa, menakar pahala, terus menerus berusaha untuk hijrah secara totalitas dari gemerlap dan hirup-pikuk dunia menuju pengagungan kehidupan setelah kematian.

Kuburan bagi Bahlul adalah sebuah masa depan yang pasti. Manusia akan mendapatkan masa depan yang cerah jika ia sadar dan yakin bahwa dunia akan fana, jasadnya juga fana, yang kekal adalah jiwa dan amalannya. Namun kegelapan dan kemuraman masa depan akan menimpa mereka yang menjadikan dunia sebagai akhir dari segalanya. Tidak mengerti dan tidak mau mengerti tentang kehidupan setelah kematian. Surga bagi mereka adalah kemewahan dunia, dan neraka baginya ketika musibah dan kegagalan duniawi menimpa. Golongan ini yang disitir Bahlul sebagai orang gila, gila dunia, gila harta, gila pamor, gila jabatan, gila duit, dan hanya sadar ketika tanah telah menimpuk mulut dan matanya dalam liang kubur.

***

Nampak jelas pesan Bahlul pada kepala negaranya, Sang Khalifah Harun Ar-Rasyid, bahwa penting sesekali seorang pemimpin menyadari posisinya sebagai manusia biasa. Sekali-kali harus merenung makna hijrah secara maknawi, meninggalkan hiruk pikuk dunia agar sadar bahwa akan ada masa akhir jabatan lalu disusul dengan akhir hayat, kala itu jabatan tertanggal di kantor, harta tersimpan di rumah, keluarga mengantar hingga kuburan, dan hanya amal salah atau saleh yang akan kekal mendampingi dalam liang kubur.

Kita butuh pemimpin seperti Si Bahlul yang cerdas seperti kisah pembuka di atas, bukan sebaliknya 'lugu dan bahlul'. Ini yang dimaksud dalam sabda Nabi, "Orang cerdas adalah yang mau mengoreksi dirinya sendiri dan beramal untuk kepentingan akhirat nanti. Dan orang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya tetapi berharap-harap terhadap Allah." (HR. Tirmidzi).

Dalam riwayat lain yang semakna dengan hadis tersebut dapat kita telisik dialog Nabi dengan sahabatnya. Wahai Rasulullah, orang mukmin manakah yang paling utama? Beliau menjawab, Orang yang paling baik akhlaknya. Sahabat kembali bertanya, Mukmin manakah yang paling cerdas? Beliau menjawab, Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya menghadapi kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdas. (HR. Ibnu Majah).

Momen tahun baru Hijriah ini, para pemimpin negeri, dari hulu hingga hilir semestinya mengoreksi diri pribadi masing-masing. Sudah sejauh mana usaha mereka mengajak masyarakat dan rakyatnya mempersiapkan kehidupan pasca kematian. Dan kita selaku rakyat jelata, apa yang telah diupayakan untuk menyelamatkan diri dari jilatan api neraka. Mari kita renungkan. Selamat Tahun Baru Islam, 1439 Hijriah. 

Dimuat Tribun Timurr,21/9/2017.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an