Merdeka Tapi Terjajah





Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA*

Menjelang peringatan hari proklamasi 17 Agustus tiap tahunnya, masyarakat Indonesia begitu antusias menyambut hari kemerdekaan, berbagai kegiatan dirancang dan dilaksanakan. Salah satu kegiatan andalan adalah baris berbaris, dari level Taman Kanak-Kanak hingga lansia. Di malam hari, acara hiburan susul menyusul, semua itu dimaksud untuk mengingatkan rakyat Indonesia bahwa bangsa ini merdeka penuh dengan perjuangan yang telah mengorbankan jiwa dan raga. Namun apakah kegiatan semarak itu mampu membangkitkan ruh perjuangan generasi sekarang?

Pada tanggal 17 Agustus tahun 1951, hanya 6 tahun setelah kemerdekaan RI diproklamerkan oleh Sukarno-Hatta, Mantan Perdana Menteri Indonesia, Pencetus NKRI, Mohammad Natsir, menulis sebuah artikel berjudul, "Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut". Melalui artikel tersebut, Natsir mengingatkan, bahwa perjuangan tiada mengenal kata akhir. Pahlawan Nasional itu mengingatkan munculnya gejala orang-orang yang cepat merasa puas dalam perjuangan dan suka menuntut imbalan atas jerih-payahnya.

Natsir lalu menggambarkan betapa jauhnya kondisi manusia Indonesia pasca kemerdekaan dengan pra-kemerdekaan sebagai berikut,

Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran. Kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau... Sekarang emua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai. Sengaja ditonjol-tonjolkan kemuka apa yang telah dikorbankannya itu, dan menuntut supaya dihargai oleh masyarakat. Dahulu, mereka berikan pengorbanan untuk masyarakat dan sekarang dari masyarakat itu pula mereka mengharapkan pembalasannya yang setimpal... sekarang timbul penyakit bakhil. bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi. Orang sudah keberatan memberikan keringatnya sekali pun untuk tugasnya sendiri. Segala kekurangan dan yang dipandang tidak sempurna, dibiarkan begitu saja. Tidak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita di luar dirinya. Lampu cita-citanya sudah padam kehabisan minyak, programnya sudah tamat, tak tahu lagi apa yang akan dibuat. (M. Natsir, Capita Selecta 2, Jakarta: 2008).

Sudah 66 tahun berlalu pesan Mantan Perdana Menteri tersebut ditulis. Namun, masih sangat relevan untuk dicermati para abdi negara, khususnya eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Di tangan mereka nyawa negara digenggam. Harus diakui bahwa banyak orang Indonesia, khususnya para pejabat sudah kehilangan orientasi, bersifat egois, serba pamrih, dan bingung apa yang harus diperbuat, kecuali untuk kepentingan diri dan golongannya, walau harus melanggar aturan negara dan agama. Mereka berpikir bahwa perjuangan sudah selesai dan seolah-olah tujuan bangsa sudah tercapai. Sudah merdeka. Maka cukup, tiap menjelang 17 Agustus dengan pesta-pesta, dangdut, musik pop, jaz, lalu berjoget ria. Kalau perlu tampilkan hiburan seronok, seperti caddoleng-doleng. Kini tiada lagi perjuangan tapi saatnya berpesta ria nikmati kemerdekaan. Karena itu, Mohammad Natsir kembali mengingatkan, katanya,

"Saudara baru berada di tengah arus, tetapi sudah berasa sampai di tepi pantai. Dan lantaran itu tangan saudara berhenti berkejauh, arus yang deras akan membawa saudara hanyut kembali, walaupun saudara menggerutu dan mencari kesalahan di luar saudara. Arus akan membawa saudara hanyut, kepada suatu tempat yang tidak saudara ingini... untuk ini perlu saudara berdayung. Untuk ini saudara harus berani mencurahkan keringat, harus berani menghadapi lapangan perjuangan yang terbentang di hadapan saudara yang masih terbengkalai..."

Terlena dan hura-hura mengisi kemerdekaan akan melahirkan penyesalan. Kita pun saksikan bahwa negara ini dari sumber daya alam sangat melimpah ruah. Apa yang ada di luar sana semua ada di negeri ini, namun apa yang ada di negeri ini belum tentu ada di luar negeri.

Faktanya, sampai saat ini, rakyat Indonesia masih menjadi pendatang di negeri sendiri. Sumber daya alamnya hanya dinikmati segelintir orang, bahkan mayoritas penikmatnya adalah pihak asing.
Yang terakhir dan semoga segera berakhir, kita terpaksa mengimpor garam dari Australia dengan jumlah fantastis, lebih dari tujuh puluh ribu ton. Padahal kita dikelilingi laut bergaram, coba lihat petani garam di Jeneponto mereka masih tetap miskin. Ini hanya secuil contoh bahwa hakikatnya negeri ini walau sudah 72 tahun merdeka dari penjajahan fisik, tapi belum bisa dikategorikan merdeka dalam ranah ekonomi. Dan, penjajahan dengan berbagai bentuknya tidak akan pernah habis, dan itu hanya dapat dipahami jika kita sadar betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Belum lagi kita bicara soal hutang negara yang terus menggunung. Anehnya, dana-dana pinjaman dengan bunga berlipat-lipat itu tidak terlihat ke mana rimbanya, dan belum dirasakan secara merata oleh rakyat Indonesia. Kecuali segelintir elite politik dan pengusaha kapitalisme. Lalu pembangunan untuk siapa? Mari berteriak keras, Merdeka!

*Alumni Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Baznas-DDII; Pimpinan Baznas Enrekang.
Enrekang, 17 Agustus 2017.


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena