Paceklik Pemimpin Pelayanan Ummat


Jika melihat fenomena yang sedang dan masih akan berlaku, nampaknya ummat Islam dalam masa-masa sulit: paceklik kepemimpinan.
Jika dunia ekonomi melihat paceklik sebagai masa paling bahaya bagi penduduk sebuah daerah karena ketersediaan pangan habis sementara pasokan dari hasil bumi dan impor tidak tersedia. Paceklik akan menjadi pembunuh massal jika tidak diatasi sekilat halilintar.
Seumpama itu keadaan ummat Islam dalam ranah kepemimpinan. Memang jabatan publik seperti kepala negara dan kepala daerah banyak yang berebutan laksana kumbang berlomba menghisap saripati bunga, tapi anehnya pemimpin yang terpilih pun lebih banyak yang mengecewakan daripada memuaskan.

Sebagai bagian dari sejarah. Hidup ini memang bergerak ke depan namun itu hanya dipahami jika menoleh ke belakang.
Benar, bahwa orang tua hanya selalu bernostalgia dengan kehebatan masa lalunya, dan pemuda pendobrak sejarah adalah yang selalu berbicara visi dan misi, gagasan dan wawasan. Di sini letak jantung dan aliran darah sebuah peradaban, kolaborasi generasi tua dengan masa lalu bersama generasi muda dengan gagasan-gagasan yang brilian. Kita sesungguhnya butuh pemimpin pelayanan Ummat.
Kisah di bawah sebagaimana dikutif dari My Quran Org dapat menjadi inspirasi buat saya dan Anda.
***
Krisis itu masih melanda Madinah. Korban sudah banyak berjatuhan. Jumlah orang-orang miskin terus bertambah. Khalifah Umar Bin Khatab yang merasa paling bertanggung jawab terhadap musibah itu, memerintahkan menyembelih hewan ternak untuk dibagi-bagikan pada penduduk.
Ketika tiba waktu makan, para petugas memilihkan untuk Umar bagian yang menjadi kegemarannya: punuk dan hati unta. Ini merupakan kegemaran Umar sebelum masuk islam. “Dari mana ini?” Tanya Umar.
“Dari hewan yang baru disembelih hari ini,” jawab mereka.
“Tidak! Tidak!” kata Umar seraya menjauhkan hidangan lezat itu dari hadapannya. “Saya akan menjadi pemimpin paling buruk seandainya saya memakan daging lezat ini dan meninggalkan tulang-tulangnya untuk rakyat.”
Kemudian Umar menuruh salah seorang sahabatnya,” Angkatlah makanan ini, dan ambilkan saya roti dan minyak biasa!” Beberapa saat kemudian, Umar menyantap yang dimintanya.
Kisah yang dipaparkan Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya ar-Rijal Haular Rasul itu menggambarkan betapa besar perhatian Umar terhadap rakyatnya. Peristiwa seperti itu bukan hanya terjadi sekali saja. Kisah tentang pertemuan Umar dengan seorang ibu bersama anaknya yang sedang menangis kelaparan, begitu akrab di telinga kita. Ditengah nyenyaknya orang tidur. Ia berkeliling dan masuk sudut-sudut kota Madinah. Ketika bertemu seorang ibu dan anaknya yang sedang kelaparan, Umar sendiri yang pergi mengambil makanan. Ia sendiri juga yang memanggulnya, mengaduknya, memasaknya dan menghidangkannya untuk anak-anak itu.
Keltika kelaparan mencapai puncaknya Umar pernah disuguhi remukan roti yang dicampur samin. Umar memanggil seorang badui dan mengajaknya makan bersama. Umar tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum badui itu melakukannya terlebih dahulu. Orang badui sepertinya sangat menikmati makanan itu. “Agaknya Anda tidak pernah merasakan lemak?” Tanya Umar.
“Benar,” kata badui itu. “Saya tidak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun. Saya juga sudah lama tidak menyaksikan orang-orang memakannya sampai sekarang,” tambahnya.
Mendengar kata-kata sang badui, Umar bersumpah tidak akan makan lemak sampai semua orang hidup seperti biasa. Ucapannya benar-benar dibuktikan. Kata-katanya diabadikan sampai saat itu, “Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenayangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya.”
Padahal saat itu Umar bisa saja menggunakan fasilitas Negara. Kekayaan Irak dan Syam sudah berada ditangan kaum Muslimin. Tapi tidak. Umar lebih memilih makan bersama rakyatnya.
Pada kesempatan lain, Umar menerima hadiah makanan lezat dari Gubernur Azerbeijan, Utbah bin Farqad. Namun begitu mengetahui makanan itu biasanya disajikan untuk kalangan elit, Umar segera mengembalikannya. Kepada utusan yang mengantarkannya Umar berpesan, “Kenyangkanlah lebih dulu rakyat dengan makanan yang biasa Anda makan.”
Seorang Mukmin tentu takkan membiarkan tetanggana kelaparan. Rasulullah saw bersabda, “Tidak beriman seseorang yang dirinya kenyang, sementara tetangganya kelaparan.”
Disadur Oleh: Dr. Ilham Kadir. MA. Dosen STKIP Muhammadiyah Enrekang.
Enrekang, 18 Mei 2017


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena