Konsep Pendidikan Kader Ulama Al-Bugisi


Yang dimaksud dengan Al-Bugisi dalam tulisan ini adalah Anregurutta Muhammad As’ad Al-Bugisi yang lahir di Makkah (1907) dan wafat di Sengkang (1952). Merupakan perintis dan pendiri Madrasah Arabiyah Islamiyah Sengkang (MAI) yang sekarang lebih dikenal dengan Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang. Sebuah lembaga pendidikan yang hingga kini terus maju dan berkembang, tak henti-hentinya melahirkan generasi yang berilmu, beriman, dan bertakwa.


Sedangkan kata “pendidikan” pada judul di atas adalah merujuk pada “Konsep Pendidikan Kader Ulama” yang telah dirancang dan diaplikasikan dengan sistematis oleh Al-Bugisi mulai dari ketibaan beliau dari Haramayn hingga wafatnya di Sengkang.

Pada hari Kamis (27/4/2017) saya secara resmi telah memaparkan dan mempertanggungjawabkan sebuah disertasi sebagai hasil penelitian saya selama kurang lebih dua tahun dengan judul “Konsep Pendidikan Kader Ulama Anregurutta Muhammad As’ad Al-Bugisi (1907-1952)” di Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor. Karya ilmiah ini dibimbing langsung dengan dua ahli, pertama adalah Prof. Dr.Abuddin Nata, MA., sebagai ahli sejarah pendidikan Islam Indonesia serta pakar nomor wahid dalam metodologi penelitian studi Islam. Yang kedua adalah Prof (madya) Dr. Syamsuddin Arif, MA. Ahli islamologi, khususnya dalam kajian orientalis. Menguasai banyak bahasa asing seperti Latin, Aramik, Yahudi, Jerman, Belanda, Arab, Inggris, dll. Dalam konteks Asia Tenggara, hanya satu atau dua intelektual yang memiliki kapasitas keilmuan seperti itu. Ada pun barisan dari tim penguji terdiri dari Prof. Dr. Didin Hafidhuddin,MS., Dr. Adian Husaini, MSc.,dan Dr. Abbas Mansur Tamam, MA.   

Dengan barisan promotor dan penguji yang pakar dan ahli pada bidang mereka masing-masing, lebih khusus dalam studi dan kajian Islam, terutama dalam dunia pendidikan Islam, maka diharapkan penelitian ini mampu memberikan kontribusi yang bermakna pada khazanah keilmuan di Indonesia, khususnya dalam studi sejarah pendidikan Islam di Sulawesi Selatan yang aktor utamanya para ulama Bugis, dan tokoh kuncinya adalah Al-Bugisi.
  
Regenerasi Ulama Bugis

Informasi yang akurat terkait  tokoh-tokoh lokal di Sulawesi Selatan khususnya para ulama yang menjadi juru dakwah, pendidik, dan agen islamisasi masih sangat minim. Di lain pihak para ulama yang memiliki kedalaman ilmu dan ketinggian akhlak serta menjadi panutan ummat satu persatu telah dipanggil oleh Allah sehingga ulama Bugis kian langka. Terbatasnya lembaga pendidikan Islam yang memiliki konsentrasi dalam melakukan regenerasi ulama Bugis. Sementara itu, lembaga pendidikan Islam, khususnya pondok pesantren di Sulawesi Selatan masih perlu pembenahan, khususnya dalam merumuskan tujuan, dan komponen-komponen pendidikan lainnya sehingga benar-benar mampu melahirkan ulama Bugis. Keadaan guru yang tidak memiliki kualifikasi dalam mencetak ulama juga menjadi bagian permasalahan. Kurikulum pendidikan yang khusus mencetak ulama saat ini sudah kabur, dan permasalahan pelajar yang semakin susah dikendalikan karena rendahnya adab. Karena pembahasan dan penelitian ini sangat luas, maka saya melakukan pembatasan masalah dengan mengangkat dua tema sentral yaitu: Pendidikan kader ulama Bugis dan Relevansinya terhadap kaderisasi ulama masa kini.

Tujuan utama penelitian ini adalah:  untuk menganalisa tujuan pendidikan yang digagas dan dipraktikkan oleh Al-Bugisi;  untuk menganalisa komponen-komponen pendidikan Al-Bugisi di Madrasah Arabiyah Islamiyah Sengkang yang meliputi kurikulum dan bahan ajar, metode pembelajaran, sarana dan prasarana, pendidik dan murid, pembiayaan, pengelolaan, dan evaluasi. Kecuali itu, dibahas pula relevansi konsep pendidikan kader ulama masa kini.

Penelitian ini digolongkan sebagai penelitian sejarah sosial intelektual, berupa pemahaman dan penafsiran fakta sejarah dengan perspektif biografi tokoh intelektual tertentu yang hidup pada masa tertentu dengan setting sosial dan pendidikan seorang tokoh baik sebelum, selama, maupaun setelah sang tokoh hidup, dalam hal ini adalah  Al-Bugisi  sebagai figur sentral objek penelitian. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang mendeskripsikan perilaku orang, peristiwa atau tempat tertentu secara rinci dan mendalam, peneliti akan mendeskripsikan tentang konsep pendidikan kader ulama  Al-Bugisi.

Ada pun temuan-temuan dalam penelitian ini antara lain:  tujuan pendidikan kader ulama Al-Bugisi adalah untuk memelihara dan mengembangkan ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunnah Wal Jamaah, guna melahirkan manusia yang bertakwa, berilmu, dan berakhlak mulia, serta bertanggung jawab atas pembangunan agama, bangsa, dan negara Republik Indonesia, sekaligus untuk menuntaskan proses islamisasi yang sudah ada sebelumnya;  program pendidikan Al-Bugisi adalah mendirikan Madrasah Arabiyah Islamiyah Sengkang, membuka Majelisul Qurra’ Wal-Huffazh, mengajarkan ilmu duabelas yang meliputi, Nahwu, Sharf, Bayān, Ma’ānī, Badī’, Fiqh, Ushūl Fiqh, Tafsīr, Hadīts, Musthalah Hadīts, Tauhīd, danMantiq, tujuan utama dari kurikulum tersebut adalah untuk mencetak ulama mujtahid. Selain itu, Al-Bugisi mendidik para santrinya untuk membangun jaringan ulama agar kerja-kerja keummatan dapat dilakukan bersama; metode  digunakan Al-Bugisi dalam proses pendidikan kader ulama adalah ceramah, tanya jawab, resitasi, asistensi, membangun kemandirian belajar, hafalan, wirid, suri teladan, pembiasaan, hingga metode tahapan; Al-Bugisi menggunakan metode-metode yang dikenal dalam dunia pendidikan salaf dan modern seperti, penilaian formatif, penilaian sumatif, penilaian penempatan, penilaian diagnostik, serta evaluasi autentik. Dan yang terpenting dalam penilaian bagi Al-Bugisi adalah terletak pada adab, penghargaan terhadap waktu,  dan praktik lapangan.

Dari konsep pendidikan Al-Bugisi, maka lahirlah ulama handal yang menjadi kunci utama islamisasi di Sulawesi Selatan pada abad ke-20 hingga 21. Tujuh di antara mereka sangat berpengaruh adalah Anregurutta Ambo Dalle (Barru-Parepare-Pinrang), Daud Ismail (Soppeng), Muin Yusuf (Sidrap), Yunus Martan (Sengkang), Marzuki Hasan (Makassar-Maros-Sinjai), Lanre Said (Bone), dan Hamzah Manguluang (Wajo, Bulukumba). Tiga dari tujuh ulama besar di atas adalah penulis tafsir dan terjemah Al-Qur’an berbahasa Bugis lengkap 30 juz. Mereka adalah, Daud Ismail, Muin Yusuf, dan Hamzah Manguluang. Ini menandakan bahwa konsep pendidikan kader ulama yang telah diterapkan Al-Bugisi benar-benar sukses menghasilkan kader ulama yang mampu menjadi pewaris para nabi.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah konsep pendidikan kader ulama Al-Bugisi sintesis antara teori dari Madrasah Arabiah Islamiyah dengan praktik lapangan, dan evaluasi berbasis adab. Secara umum masih sangat relevan untuk dijadikan model lalu diterapkan pada lembaga-lembaga pendidikan yang bertujuan melahirkan ulama dengan berbagai macam penyesuaian yang dipandang penting khususnya dalam regenerasi ulama Bugis yang semakin langka.Dalam suasana memperingati Hari Pendidikan Nasional (2/5/2017) akan lebih sempurna jika kita memberikan apresiasi setinggi mungkin kepada ulama yang telah berjasa mencerdaskan kehidupan bangsa, dan  mencetak generasi beriman dan bertakwa sebagai mana tujuan pendidikan yang kita harapkan. Wallahu A’lam!

 Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA. Alumni Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor.


Dimuat Tribun Timur, Jumat 5 Mei 2017

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi