Posts

Showing posts from May, 2017

Ramadan dalam Bingkai Kebhinekaan

Image
Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA. Pengurus DDII Sulsel; Pimpinan Baznas Enrekang

Detik-detik terakhir menjelang bulan Ramdmadan, bangsa Indonesia masih harus menguras energi untuk kembali menyamakan persepsi tentang agama dan kebangsaan. Dan jika berbicara masalah agama, umat Islam tidak bisa lepas dari bulan Ramadan yang padanya kaum muslimin diwajibkan berpuasa.
Demikian pula, jika berbicara masalah kebangsaan, maka masyarakat Indonesia sangat kenal dengan frase Bhineka. Apa relasi dari kedua kata kunci di atas?

Ditilik dari sisi linguistik,  kata bhinneka sama dengan "beraneka ragam" atau berbeda-beda. Kata neka dalam bahasa Sanskerta berarti "macam" dan menjadi pembentuk kata "aneka" dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal bermakna "satu". Karena itu,  Bhinneka Tunggal Ika jika diterjemahkan berarti "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk …

Konsep Pendidikan Kader Ulama Al-Bugisi

Image
Yang dimaksud dengan Al-Bugisi dalam tulisan ini adalah Anregurutta Muhammad As’ad Al-Bugisi yang lahir di Makkah (1907) dan wafat di Sengkang (1952). Merupakan perintis dan pendiri Madrasah Arabiyah Islamiyah Sengkang (MAI) yang sekarang lebih dikenal dengan Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang. Sebuah lembaga pendidikan yang hingga kini terus maju dan berkembang, tak henti-hentinya melahirkan generasi yang berilmu, beriman, dan bertakwa.

Ulama dan Pendidikan

Image
Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA. Peneliti MIUMI Pusat. Di hari pendidikan yang jatuh pada setiap tanggal 2 Mei tiap tahunnya, atau tepat dengan hari ini ketika saya sedang menulis artikel. Melalui tulisan singkat ini, saya tidak akan membahas masalah latar belakang sejarah kenapa hari pendidikan nasional ditetapkan hampir sama dengan hari buruh nasional.
Hanya sedikit ingin menegaskan bahwa ada golongan yang begitu besar jasanya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan baik forman, informal, maupun non-formal, tetapi peran mereka termarjinalkan sehingga sejarah tidak banyak membicarakan mereka. Kata 'mereka' yang saya maksud adalah golongan para ulama.
Salah satu pokok masalahnya karena kajian-kajian dan riset tentang peran ulama memang masih terbatas. Para peneliti lebih tertarik untuk mengangkat tokoh-tokoh Barat yang sekuler untuk dijadikan rujukan dalam mengembangkan teori-teori ilmu pendidikan.
Alhamdulillah, pada Hari Kamis 27 April 2017, saya telah mempertahankan se…