Mengurai Benang Kusut RSU Massenrempulu-Enrekang: Dari Manajemen hingga Ketersediaan Dokter Ahli

Oleh: Ilham Kadir, Imam Masjid Nurut-Tijarah, Pasar Sentral Enrekang.

Sakit dan penyakit serta penyebabnya adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam siklus kehidupan setiap anak cucu Adam. Tidak pernah ada manusia, termasuk nabi dan rasul sebagai insan paling mulia yang lepas dari cobaan rasa sakit bahkan ada nabi yang terserang penyakit mematikan dan menjijikkan, sebut saja Nabi Ayub alaihissalam.

Allah tidak akan menurunkan penyakit kecuali ada penyembuhnya, begitu makna hadis Nabi. Jika dijabarkan lebih luas maka, salah satu penyebab sembuhnya orang dari penyakit adalah tersedianya dokter yang menjadi wakil Allah di bumi untuk berusaha dengan izin-Nya menghilangkan rasa sakit dan penyakit yang ada pada manusia.

Maka profesi dokter sangat mulia, sebanding dengan guru berdasarkan petikan syair, Guru dan dokter adalah dua profesi agung. Jika keduanya engkau abaikan maka, rasakan perihnya saat sakit datang karena engkau acuhkan dokter, dan puaslah dengan kebodohan disebabkan kebencianmu pada guru.



***

Sudah lama saya ingin menulis tentang pelayanan Rumah Sakit Massenrempulu Enrekang yang masalah utamanya sangat terkait dengan manajemen, pelayanan,  dan ketersediaan tenaga medis dari para dokter ahli.

Sejak saya menikah 23 November 2011, berkali-kali istri saya masuk rumah sakit, namun bagi saya pelayanannya tidak pernah maksimal. Dalam tulisan ini, saya akan sorot tentangnya keberadaan doktor ahli anak dan kandungan sebagaimana yang keluarga kami alami. Dalam ilmu penelitian, ini bukan lagi asumsi, opini, atau hipotesis, tetapi sudah menjadi fakta yang teruji, dikenal dengan istilah 'teori'.

Hari Ahad (12/2/2017) jam 02:15 PM  istri saya yang berada di rumah kontrakan tiba-tiba terserang sakit perut lalu pingsan. Kami segera minta tolong dengan tetangga--sebagai kerabat dan keluarga terdekat menurut hadis Nabi--dan adik ipar untuk menggotong istri saya ke mobil untuk langsung di bawah ke UGD RS. Massenrempulu, sementara saya ikuti dengan menggunakan motor metik dari belakang.

Sesampainya di UGD, kami ditanya oleh dokter umum, apa penyebabnya sehingga istri sakit. Saya terangkan bahwa kemungkinan besar dia hamil. Dokter di UGD lalu menyuruh perawat memindahkan segera ke tempat bersalin yang harus melewati gedung utama rumah sakit, cukup jauh bagi orang sakit.

Ketika berada di ruang bersalin, petugas yang terdiri dari para perawat dan bidan menanyakan tentang riwayat sakit  sang istri. Saya terangkan melebihi informasi yang mereka butuhkan. Termasuk ketika ditanya, kenapa tidak pernah ke dokter kandungan. Saya jawab bahwa sudah tiga kali ke dr. Tanko, dua kali di USG tapi hasilnya negatif hamil, sementara sudah tiga kali tespek hasilnya positif. Bahkan tempat konsultasi kami, Bidan Agus yang merupakan bidan senior di Enrekang yang sudah pensiun sangat yakin bahwa istri saya hamil dengan umur janin sudah menginjak enam minggu. Ini berdasarkan perhitungan bahwa haid terakhir tanggal 17-20 Desember 2016.

Selain itu, kami sebelumnya punya pengalaman yang kurang baik, pada tahun 2013 istri saya merasa nyeri di perutnya, lalu konsultasi ke dr. Tanko, menurutnya terlambat bulan karena haid tidak lancar, dikasih obat pelancar haid, dan istri walau tidak begitu sehat terap pergi mengajar di SMP 6 Ranga, medannya sangat ekstrim sehingga keesokan harinya, bukan haid yang keluar melainkan janin.

Hamil kedua pun demikian, tidak terbaca oleh USG dr. Tanko, tetapi sudah berusaha hati-hati, namun tetap keguguran. Yang ketiga lebih hati-hati lagi, setelah positif hamil sesuai ilmu tespek, kami tetap ke dr. Tanko, tapi tidak ada tanda-tanda menurutnya. Kami ke Bidan Agus, katanya positif hamil, datang tiga minggu kemudian maka jantungnya sudah ada. Benar, tiga minggu kemudian kami diperdengarkan dengan suara detak jantung dari janin itu. Tetap kami ke dr. Tanko, ingin memastikan, tapi tetap tidak terbaca oleh USG. Kami tetap yakin kalau istri hamil dan mulai konsumsi susu untuk ibu hamil. Setelah lima bulan barulah tetangga, keluarga, dan teman-teman tahu kalau istri hamil, dan sudah mulai terbaca oleh USG. Awalnya dinyatakan bayinya lelaki, lalu perempuan, lalu lelaki, dan yang lahir perempuan, ketika lahir melalui operasi cecar oleh dr. Tanko pada 29 Januari 2015, kami beri nama Alkhansa Hadziqah, Alkhansa adalah nama sahabat Nabi yang pejuang dan pujangga, Hadziqah maknanya 'cerdas dan cakap'.

***

Terlihat jarum jam menunjukkan pukul 02:30 PM. Awak medis dari bidan dan suster-suster cantik datang mendekat, bertanya terkait riwayat hidup saya dan istri. Melengkapi dokumen yang dibutuhkan, fotokopi kartu BPJS, KK, dan KTP. Kata Bidan Mar yang menangani istri saya, Kemungkinan akan dirujuk ke Parepare sebab di sini tidak ada dokter ahli kandungan, kemungkinan hamil di luar rahim, sementara dr. Tanko ke luar negeri pergi kontrol kesehatan, katanya dengan nada meyakinkan. Saya kembali bertanya, kenapa harus ke Parepare, bukan ke Pinrang saja yang lebih dekat? "Mereka tidak bisa menerima pasien seperti ini berdasarkan pengalaman kami," katanya.

Situasi cukup menyiksa sebab sampai jam 9:00 PM belum ada dokter yang menyambangi walaupun umum, katanya sibuk mengurus pasien lainnya. Sementara keadaan istri terus memburuk, berkali-kali hilang kesadaran akibat rasa sakit di perutnya yang akut. Tak mampu lagi menahan rasa nyeri. Di lain pihak tidak ada tindakan yang berarti. Menjelang pukul 10.00 PM, barulah dokter umum datang memeriksa, tetapi keadaan pasien tetap memburuk dan tidak ada tindakan yang berarti karena memang tidak ada ahlinya.

Puncaknya ketika tekanan darah kian lemah di bawah 70, keadaan mulai genting, awak medis segera menambah caran infus jadi dua, kiri dan kanan, selain bantuan pernapasan yang dipakai sejak awal. Istri saya lalu di bawah ke ICU untuk penanganan lebih maksimal, dari monitor, detak jantung terlihat normal, tekanan darah membaik, naik menjadi 80/60. Sekali-sekali pingsan, tapi sudah bisa membuka mata dan memahami situasi di sekeliling, kadang menjerit, saya minta dia istigfar atau takbir. Yang pertama menghapus dosa yang kedua sebagai simbol hembusan ruh jihad dari seorang istri, berjuang melawan sakit akibat perbuatan suami dan demi anak.

Terdengar kabar kalau akan dirujuk ke RS Pinrang, awalnya saya tolak, meminta supaya ditangani besok aja. Tapi, dokter dan bidan memberi pertimbangan, kalau tidak ditangani dengan cepat bisa fatal dan kami lepas tanggung jawab. Setelah dilihat cukup normal kembali keadaannya, pukul 3.30 AM kami tinggalkan RS Massenrempulu menuju RS Lasinrang Pinrang, kami sampai tujuan tepat jam 4:30 AM, perjalanan membutuhkan waktu satu jam dengan kondisi jalan sebagian sangat tidak bersahabat. Berlubang dan bergelombang.

Kecuali  itu, mobil ambulan yang kami gunakan pun nampaknya masih peninggalan Orde Baru, tidak ber-AC dan sangat konvensional. Mobil semacam ini sudah tidak layak membawa pasien yang sedang berjuang hidup, sebab bisa saja menjadi bagian dari alat pembunuh. Bekali-kali istri saya berteriak akibat rasa sakit yang timbul dari goncangan ambulan peninggalan zaman silang itu.

***

Begitu tiba di RSU Lasinrang yang beralamat di Jl. Macan No. 33 Pinrang itu, Bidan Mar bersama satu perawat lainnya yang setia mengantar kami, langsung diajak ke tempat registrasi, sementara istri masuk di ruang UGD untuk diobservasi, hanya berkisar lima menit kemudian, dokter ahli kandungan datang, melakukan USG dengan cermat, melihat kondisi apa yang terjadi di dalam perut. Hasilnya sangat jelas kalau istri saya hamil, hanya saja janinnya terdapat masalah, ada kemungkinan berada di luar rahim, persis analisa Bidan Mar. Karena itu, akan dilakukan tindakan, mengangkat janin yang berada bukan pada tempat semestinya.

Hanya butuh 30 menit, dokter ahli kandungan bernama Natami Dewi R yang berparas cantik nan ayu, muda lagi cakap itu menyelesaikan diagnosis istri tercinta saya. Membuat catatan, persetujuan tindakan dari saya, lalu melakukan transfusi darah. Katanya darah pasien terlalu sedikit, hanya 6,5 liter semestinya 12 liter atau minimal 9 liter. Bank darah terletak di samping belakang UGD Rumah Sakit, hanya dengan menyodorkan catatan berisi kebutuhan darah, pegawai unit transfusi darah menyediakan darah golongan A yang dibutuhkan pasien.

Tepat jam 9.00 AM istri masuk ruang bedah, dan selesai satu jam kemudian, setelah siuman dan dipandang sudah normal, pasien di arahkan ke kamar yang fasilitasnya sesuai golongan kepegawaiannya. Di dalam kamar, istri kembali drop, tekanan darahnya turun drastis sehingga harus dilarikan ke ICU.
Dalam kondisi seperti itu, awak medis bertindak cakap, menangani dengan profesional sesuai arahan dokter ahli, dan ketika tulisan ini dibuat, kondisi istri saya makin membaik, dirawat, diperhatikan, dijaga dengan baik.

***

Masalah ketersediaan dokter ahli anak pun demikian, tahun lalu, ketika anak saya berumur satu tahun, dia terkena batuk-batuk selama berminggu-minggu. Berkali-kali ke dokter umum tapi kondisinya tidak juga membaik hingga masuk rawat inap di RS Massenrempulu. Bahkan obat-obatan pun harus beli di luar dan tidak ditanggung BPJS, itu pun tidak manjur alias hasilnya nol. Anak makin parah penyakitnya.

Kami lalu sepakat dengan istri mengambil rujukan ke Rumah Sakit Grestelina Makassar. Sampai di sana, didiagnosis dirotgen lalu diberi obat batuk, dengan seluruh obat dan fasilitas ditanggung BPJS, satu sen pun saya tidak bayar apa-apa. Dan keesokan harinya anak saya alhamdulillah sembuh dari batuk.

Masalah pelayanan dari segi ketersediaan dokumen-dokumen pasien di RS Massenrempulu juga harus dibenahi. Bayangkan, sudah lebih 10 kali kami mengantar istri dan anak ke rumah sakit setiap kali ke sana harus membawa fotokopi KTP, KK, dan BPJS. Bahkan untuk menemukan file pasien pun kadang berjam-jam bahkan pernah hilang hingga harus buat yang baru. Sebuah potret manajemen yang amburadul. Kemarin saja, sejak awal diminta foto kopi ketiga dokumen sakti di atas, berkali-kali. Sebelum masuk RS, sebelum berangkat ke Pinrang, di setelah di RS Lasinrang masih saja butuh KTP, KK, dan BPJS. Saya sewaktu di Enrekang saja tiga kali bolak-balik ke rumah mengurus masalah ini.

Lalu kenapa tidak buat sekalian data base pasien yang cukup dikonfirmasi jika mereka datang. Sekaligus menyelesaikan segenap persyaratan dokumen jika ingin dirujuk, bukan semuanya dibebankan ke pasien yang sudah membayar layanan dan fasilitas dengan harga cukup mahal.

Dalam benak saya, tidak ada salahnya jika RS Massenrempulu segera berbenah sekilat halilintar jangan terlalu lamban bergerak seperti kura-kura kurap. Sudah terlalu banyak korban, dan sangat tidak manusiawi jika terus dibiarkan.
Setidaknya ada dua masalah besar yang harus dibereskan, ketersediaan dokter ahli dan restorasi manajemen. Jangan lagi menggunakan pola-pola zaman perunggu, sekarang sudah zamannya Teknologi Informasi, jadi pelayanan pun harus berbasis teknologi, termasuk dalam menyimpan data base para pasien.

Karena masalah di RS Massenrempulu sudah ada sejak pemerintahan sebelumnya, maka tidak adil jika hanya melempar kesalahan pada pemerintah sekarang, selain itu penataan rumah sakit bolanya ada di tangan Kepala Dinas Kesehatan, maka dari sini benang kusut itu harus mulai diuarai.
Dan, pahamilah bahwa semangat utama tulisan ini adalah dakwah 'watawasau bil-haq watawashau bis-shabr', saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, sebab dakwah lewat pengobatan sangat efektif. Karena itulah Persyarikatan Muhammadiyah menjadikan rumah sakit dan pelayanan medis sebagai media dakwah yang cukup ampuh.

Banyak jalan menuju surga, mereka yang diberi nikmat lalu bersyukur dengan nikmatnya, maka itu baik baginya. Ada orang ditimpakan musibah, dengan musibah ia bersabar, dan itu baik baginya.

Demikian halnya, ada golongan  yang diberi anugerah untuk dapat menolong orang lain lewat cara mempermudah masyarakat mendapatkan pengobatan berkualitas. Menyediakan layanan kesehatan, sarana dan prasarana, jika itu dilakukan dengan niat ikhlas dan ibadah maka akan menjadi pahala yang terus mengalir walau pelakunya telah wafat, dikenal dengan istilah 'amal jariah'. Golongan terakhir ini adalah para pemangku kebijakan dari pemerintah. Wallahu A'lam!

Ruang ICU RSU. Lasinrang, Pinrang, 13/2/2017.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena