Harta, Tahta, dan Kemuliaan





Oleh: Ilham Kadir, Peneliti Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)  Pusat.

Ketika Nabi Isa diutus, masyarakat Bani Israel hidup dengan memuliakan harta dan jabatan. Karena itu, orang yang dianggap paling mulia dan terhormat hanya mereka yang berharta dan bertahta, atau kedua-duanya.

Selain itu, fenomena perdukunan juga merebak di mana-mana. Orang-orang yang mau memulai ini dan itu selalu merujuk pada dukun agar mendapatkan hari baik. Para calon pejabat wara-wiri ke dukun untuk mendapatkan dukungan dan wejangan agar terpilih sebagai manusia mulia dan terhormat versi dunia.

Dalam situasi seperti itu, Allah mengutus Nabi Isa 'alaihissalam. Sang Nabi menunjukkan bahwa untuk bahagia dan terhormat tidak selalu harus memiliki harta dan jabatan. Teori ini dibuktikan langsung oleh Nabi yang dianggap Tuhan oleh Ummat Kristiani ini.


Hidup dalam keadaan miskin, tanpa jabatan dan rumah mewah. Bahkan dikisahkan bahwa tempat tinggal saja dia tidak punya, hanya berpindah dari satu gua ke gua lainnya.

Pakaian hanya punya dua lapis, jika yang satu dicuci yang lainnya dipakai dan satu pakaian bertahan selama 20 tahun lamanya. Perabot makanan cuma ada satu gelas dan piring, itu pun perabot yang dia pungut bekas milik orang kaya. Dalam urusan kosmetik, Nabi Isa tidak menggunakan minyak rambut tetapi hanya sebuah sisir yang dipakai untuk seumur hidup juga bekas milik orang kaya yang telah dibuang.

Walaupun dalam keadaan sangat miskin, tapi ia adalah seorang guru romantis. Tiap pagi dan petang selalu mengajak murid-muridnya mengunjungi taman, berkisah tentang tauhid dan kebesaran Allah.
Suatu ketika, Isa dan muridnya melewati bangkai anjing, Baunya busuk, kata sang murid. "Tapi tulangnya putih bersih", jawab Isa.

Begitu gambaran seorang guru dan pemimpin, selalu mengalihkan pikiran negatif seorang murid dan rakyat agar selalu berpikir positif dan maju.

Nabi Isa walau dalam keadaan miskin papa tetapi hidup bahagia, walau dia bukan pejabat tapi tetap terhormat, walau tidak mendapat gaji dan sertifikasi guru tetap mengajar dan melahirkan para murid setia penolong agama dan beriman kepada Allah. Dan diabadikan dalam Al-Qur'an, Wahai orang-orang beriman, jadilah kalian pembela agama Allah sebagaimana dikatakan Isa putra Maryam kepada Hawari (murid-muridnya), Siapakah yang mau menolongku membela agama Allah? Para Hawari menjawab, kami adalah orang-orang yang menjadi pembela agama Allah. Sebagian dari Bani Israel beriman, tetapi sebagian yang lain kafir. Lalu kami kuatkan kaum Bani Israel yang beriman untuk menghadapi musuh mereka sehingga mereka menang. (Q.S. As-Shaff[62]: 14).

Menghadapi Pilkada tahun 2017-2018, pemburu kehormatan dan kemuliaan duniawi terus bergentayangan. Bahkan mereka tidak segan-segan melakukan kapitalisasi politik dengan dalih undang-undang membolehkan. Golongan ini telah menjadikan negeri seakan diatur seperti dinasti. Kakak gubernur, adik calon gubernur, anak bupati, ponakan legislator, daftarnya terus bertambah.

Mereka adalah sisa-sisa ummat Nabi Isa yang menjadikan harta dan tahta sebagai jalan tunggal kemuliaan dan kehormatan, padahal semua itu jika tidak diiringi dengan iman dan takwa hanya akan menjadi semu dan hampa makna serta melahirkan penyesalan di Akhirat kelak. Wallahu A'lam!

Enrekang, 31 Januari 2017.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena