Genealogi Ulama Bugis



Masyarakat Bugis menyebut ulama dengan panggilan anregurutta dan, atau gurutta, pada saat seorang ulama sudah matang atau mencapai tingkat keahlian dalam bidang keagamaan dipandang tinggi serta berada pada posisi layak menjadi panutan disebabkan oleh prilakunya yang shaleh, maka ia akan disebut sebagai seorang panrita, (Abd. Kadir Ahmad, Ulama Bugis, Makassar, 2008: 415).

   Ditilik dari segi bahasa panrita berasal dari kata ita yang berarti orang yang melihat, umum pula ditulis topanrita tambahan to adalah bahasa Bugis yang bermakna orang. Dalam perkembangannya, kata panrita bisa berarti keahlian teknis, seperti tercermin dari ungkapan panrita lopi (ahli pembuat perahu), panrita bola (ahli dalam membuat rumah). Namun dalam pengertian lebih spesifik setelah terjadi islamisasi secara massif dan massal, termasuk merambah pada istilah bahasa, dan merubah makna inti beberapa kata kunci termasuk panrita yang sebelumnya secara istilah adalah orang yang memiliki kemampuan khusus secara fisik dan metafisik.


  Setelah era islamisasi, panrita berubah arti menjadi ulama, sehingga dalam masyarakat Bugis panrita loppo berarti ulama besar,  atau pendeta dalam istilah agama Kristen. (M. Ide Said DM., Kamus Bahasa Bugis-Indonesia, Jakarta, 1977:148), Dalam kamus Bugis-Belanda karya B.F. Matthes, Boegineesch-Hollandsch Woordenboak, Amsterdam: ‘S Gravenhage, 1874:118, panrita memiliki dua arti terpelajar, sarjana atau ilmuan (geleerd) dan arsitek (bouwmeester). Dari sinilah seorang pakar Bugis, Cristian Pelras yakin bahwa kata panrita diambil dari bahasa Sanskerta pandita yang berarti ‘pendeta atau pertapa.’ Dalam pengertian Pelras, panrita adalah ‘orang yang menguasai seluk beluk agama, bijaksana, shaleh dan jujur, (Christian Pelras, The Bugis, Jakarta, 2006: 259).

   Menurut Mochtar Pabottingi, panrita adalah orang yang bersaksi, melihat dan menyimak atas suatu keadaan dan menyatakan keadaan sebenarnya. Di sini, panrita bukan saja berperan sebagai pengamat yang objektif atas keadaan di sekitarnya, tapi juga memberi penilaian, kritik dan pertimbangan atas suatu keadaan. Dengan makna ini, tidak berlebihan jika topanrita diidentikkan dengan konsep cendekiawan (intellectual) dalam terminologi modern.

 Lepas dari beragam pengertian di atas, topanrita juga merupakan salah satu dari empat kualitas ideal manusia Bugis, di luar kebangsawanan (arung), yang disebut dalam Lontara sebagai “sulapa’ eppa’” (segi empat). Keempat kualitas atau sifat tersebut merupakan modal yang harus dimiliki setiap pemimpin yang baik. Selain panrita (shaleh), tiga sifat yang dimaksud adalah warani (berani), macca (cerdas) dan sugi (kaya), sebelum Islam datang, setelah hirarki golongan kaya, ada dua lagi lapisan masyarakat yang tersisa, maradeka dengan ata atau golongan merdeka dan hamba.

   Ada pun panggilan anregurutta hanya akan disematkan kepada seorang ahli agama namun tidak untuk yang ahli dalam ilmu pengetahuan lainnya, ilmu agama dimaksud adalah terminologi ilmu-ilmu fardhu ‘ain dalam pandangan Al-Gazali dan ilmu naql menurut Ibn Khaldun. Karena itu, orang Bugis memahami ulama dengan pengertian khusus. Secara hirarkis, ulama Bugis juga betingkat-tingkat, yang tertinggi adalah panrita, lalu menyusul anregurutta, kemudian gurutta, dan para ustadz, hanya saja, seorang panrita disebut juga anregurutta dan gurutta kedua gelar terakhir ini kerap berganti-ganti.

   Namun demikian, istilah kiai sebagaimana dipergunakan oleh masyarakat Jawa juga dipakai untuk menyebut golongan ulama, atau pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab klasik (tur√Ęts) kepada para santrinya. Hanya saja, penggunaan istilah kiai dalam masyarakat Bugis bersifat umum untuk semua ahli agama, sementara istilah anregurutta selain menunjukkan kompetensi yang dimiliki juga merujuk pada prilaku kesehariannya (ampe-ampe madeceng) yang melambangkan dan menunjukkan kharisma dan kewibawaannya di tengah masyarakat, karena itulah, menurut Kadir Ahmad, anregurutta atau gurutta memang lebih spesifik untuk ulama Bugis. Dilihat dari sudut kompetensi, memang ulama Bugis, setidaknya merujuk pada tiga kompetensi dasar, meliputi, penguasaan ilmu agama, pengamalan agama, dan akhlak kepribadian.
  
 Tempat reproduksi ulama dalam masyarakat Bugis tidak berbeda dengan di Jawa, yaitu berasal dan berawal dari pesantren lalu diaplikasikan ilmunya, dan dimatangkan di tengah masyarakat. Pengetahuan yang selama ini bersifat teroritis di pesantren akan diuji di tengah masyarakat. Proses pematangan yang melibatkan ketiga komponen di atas akan menjadi penentu eksistensi seorang ulama Bugis. Posisi pesantren yang terbuka secara umum memungkinkan reproduksi ulama tetap terjaga, padahal awal-awal kedatangan Islam, umumnya ulama yang kelak akan menjadi panrita lebih didominasi kaum anakarung (bangsawan). Seiring berlalunya waktu, pondok pesantren dan madrasah membuka diri untuk semua kalangan yang ingin menjadi ulama, menjadikan kaderisasi ulama berjalan secara berkesinambungan, dapat diakses oleh masyarakat luas.
  
 Jika di Jawa pola-pola kaderisasi ulama umumnya melibatkan jaringan antar-genealogi kekerabatan. Unsur keturunan dalam kalangan pesantren tradisional di Jawa memegang peranan penting dalam kaderisasi kiai. Seorang kiai tradisional mungkin anak dari kiai, atau kalau ayahnya bukan kiai, maka salah seorang familinya adalah kiai, atau memang kakeknya seorang kiai, begitulah seterusnya. Ini pula yang membedakan dengan ulama Bugis yang lebih cenderung bergerak di luar pola hubungan geneologi kekerabatan sehingga sulit menemukan adanya anak ulama melakukan hubungan pernikahan dengan ulama lainnya. Pola koneksi atas dasar geneologi keilmuan lebih diutamakan daripada kekerabatan. Ulama Bugis mereproduksi santri menjadi ulama lebih dari sekadar mereproduksi anak keturunan menjadi ulama.
  
 Pola regenerasi ulama khas Bugis juga akan dijumpai dalam konsep kaderisasi ulama yang pernah diterapkan oleh Al-Bugisi (1907-1952) yang merintis dan memimpin Madrasah Arabiah Islamiyah (MAI) Sengkang-Wajo,  lembaga pendidikan yang bertahan hingga hari ini, dan telah terbukti menjadi alat reproduksi ulama Bugis. Para generasi pelanjut adalah terdiri dari para santri pilihan yang dianggap cakap menata dan mengatur lembaga serta memiliki keilmuan yang memadai lalu disempurnakan dengan pengamalan yang konsisten serta ketinggian adab yang dikenal dengan ampe-ampe madeceng  atau akhlak mulia. Wallahu A’lam!

Ilham Kadir, Penulis Disertasi “Konsep Pendidikan Kader Ulama Anregurutta Muhammad As’ad Al-Bugisi 1907-1952” di Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an