ULAMA PEMBELA IBU PERTIWI




Beberapa waktu lalu, dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Makassar, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kami bertemu dengan satu rombongan orang-orang bermata sipit. Terlihat jelas kalau mereka adalah bangsa Cina, rupanya mereka juga menuju Makassar dengan pesawat yang sama dengan kami.


Ketika menunggu pesawat tiba di ruang tunggu, bangsa Cina yang jumlahnya sekitar 12 orang itu terlihat bersitegang antar satu dengan lainnya, berdebat, bertengkar dengan nada yang tinggi. Hingga, orang-orang di sekitar ruang tunggu keberatan dan merasa terusik. Leraikan itu, kenapa di sini bertengkar, tidak tau malu, kata Pak Haji Suardi, rekan kami dari Baznas Enrekang.

Kami sebenarnya baru saja melakukan konsultasi dengan Baznas Pusat, sekaligus penjajakan kerja sama kaderisasi ulama di beberapa lembaga pendidikan Islam seperti Islamic Center Wadi Mubarak Pimpinan Dr. Didik Haryanto dan Arahan Qur'anic College Pimpinan Ustad Bachtiar Nasir.


Kembali ke bangsa Cina. Karena mereka ini tidak bisa berbahasa Inggris, Arab, apalagi bahasa Indonesia atau Bugis, jadi ketika saya menghampiri mereka, komunikasi tidak nyambung.

Apa yang penting kita ketahui dari cerita di atas adalah, bahwa isu selama ini berkembang kalau tenaga kerja asing, terutama dari Cina yang menyerbu Indonesia benar-benar ada dan bukan isapan jempol belaka. Dan, jika ada pihak, atau pemimpin negeri ini yang mengatakan bahwa, buruh Cina itu hanya sekadar isu, maka sudah pasti dia berbohong.


Tidak kalah pentingnya untuk kita ketahui, bahwa para buruh tersebut terlihat angkuh dan tidak memiliki adab atawa biadab, tidak terpelajar, dan tidak mengenal aturan sehingga mengganggu pihak lain.

Jika ini tidak diatasi segera, maka negeri ini akan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang tidak beradab atau antitesis dari Sila Kedua Pancasila, 'Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab'.

Selain itu, kita patut mempertanyakan kebijakan Presiden Jokowi, sebagai simbol dari wong cilik minus licik, kenapa begitu mudah memasukkan buruh dari Bangsa Cina, padahal kita sendiri kelebihan buruh dan tidak sedikit yang harus memantau ke Malaysia agar bisa jadi buruh. Atau, inikah maksud revolusi mental dan nawacita itu?


Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, insiden penurunan bendera RRC di Kepulauan Maluku semestinya membuka mata kita, bahwa negeri ini sedang bermasalah, namun para elite terus saja berkelit, dan berusaha mengalihkan isu, mereka yang berusaha untuk mengembalikan bangsa ke arah yang benar, malah dituduh anti NKRI, tidak nasionalis, anti Pancasila, tidak Bahineka Tunggal Ika, dan berbagai tuduhan lainnya.


Jika masa penjajahan fisik, para pahlawan yang terdiri dari ulama, berguguran, syahid di medan perang demi membela agama dan bangsa dari bangsa penjajah kafir, maka ulama saat ini perjuangannya jauh lebih besar, sebab selain harus melawan kepentingan asing, juga harus terlebih dahulu membereskan para pengkhianat dari bangsa sendiri yang celakanya, banyak dari ulama su' (jahat) yang berfatwa sesuai pesanan pihak asing, atau para pemimpin yang  terlanjur berkuasa.

Hanya ulama ranbani atau yang bertindak sesuai arahan ulama yang ikhlas dan rela mengorbankan jiwa dan rasanya demi agama dan Ibu Pertiwi, sebab mereka paham makna hidup sesungguhnya, isy kariiman aw mut syahiidan. Hidup mulia atau mati syahid.


Tidak ada artinya hidup penuh dengan kehinaan, tanah air dihina dengan masuknya buruh biadab, Kitab Suci Al-Qur'an sebagai sumber kemuliaan justru dituduh dipakai untuk membodohi, atau negara ini baru benar-benar mengamalkan Pancasila jika yang minoritas jadi penguasa. Inilah saatnya kita bangkit membela Islam dan Indonesia. Allahu Akbar!


Enrekang, 29 November 2016.


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena