Revolusi Pasca 212


Secara denotatif, revolusi bermakna 'kembali lagi' atau 'berulang kembali', laksana musim yang terus berganti secara siklikal untuk kembali ke musim semula. Maka, dalam sains, istilah revolusi mengimplikasikan suatu ketetapan (konstanta) dalam perubahan; pengulangan secara terus menerus yang menjadikan akhir sebagai awal. Pengertian seperti inilah yang terkandung dalam frase "revolusi planet dalam orbit".

Tahun 1543, Nicolaus Copernicus memublikasikan "De Revolutionibus Orbium Coeletium" yang sering dinisbatkan sebagai penanda revolusi paradigmatik dalam sains yang mengubah keyakinan tentang pusat alam semesta dari geosentrisme (berpusat di bumi) menuju heliosentrisme (berpusat di matahari). Perubahan mendasar dalam keyakinan ilmiah ini lalu dikenal sebagai 'revolusi Copernican'.

Istilah revolusi di atas berbeda dengan pengertian yang didefinisikan Thomas Kuhn sebagai 'perubahan dalam susunan keyakinan saintifik atau dalam paradigma'. Dengan kata lain, pengertian revolusi tidak lagi menekankan aspek kesinambungan dalam daur ulang, melainkan justru sebagai keterputusan dalam kesinambungan (break in continuity). Sejak itu, revolusi berarti suatu perubahan struktur mental dan keyakinan karena interuduksi gagasan dan tatanan baru yang membedakan dirinya dari gagasan dan tatanan masa lalu, (Yudi Latif, 2014).

Adapun pengertian revolusi dalam bidang politik semakin populer menyusul revolusi Amerika (1776), lanjut dengan Revolusi Prancis 1789. Seperti halnya sains, pada awalnya makna revolusi dalam politik bermakna ramah, hingga revolusi Prancis berubah jadi ekstrim dalam bentuk teror yang menakutkan. Konotasi menakutkan dari makna revolusi diperkuat menyusul publikasi The Communist Manifesto pertengahan abad ke-19, revolusi 1848, dan gerakan komunis internasional dengan agenda revolusi berskala dunia yang mengandung ekspresi kekerasan terkait dengan perubahan cepat, (Ilham Kadir, 2015).

***

Yang sedang santer dibahas berbagai kalangan, khususnya di media sosial adalah aksi 212 dan setelahnya. Sebuah pertunjukan yang menegaskan posisi umat Islam sebagai golongan mayoritas dan contoh keberagamaan dan keadaban bangsa Indonesia.

Tidak Sampai di situ, peristiwa 212 adalah momentum persatuan umat dan mendudukkan kembali hakikat keindonesiaan kita. Bahwa bangsa Indonesia tanpa umat Islam adalah bukan Indonesia, kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Kendati tujuan utama aksi 212 adalah penegakan hukum bagi penista Al-Qur'an sebagaimana diperbuat oleh Ahok yang sekaligus sebagai gubernur non-aktif, dan calon Gubernur DKI Jakarta, namun hingga kini, aparat hukum belum mampu mengakomodir tuntutan umat Islam tersebut. Bahkan cenderung menjadikan kasus ini semacam sinetron berseri tanpa ending yang jelas.

Sebetulnya Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) posisinya hanya mengakodir dan menjalankan aspirasi umat, tidak lebih dari itu, kata Ketua GNPF-MUI, Bachtiar Nasir.

Itulah yang terjadi dalam aksi bela Islam 1-3. Memang umat mendesak dan menginginkan aksi-aksi akbar bermartabat itu, selain itu, perlu dipahami bahwa Al-Qur'an yang dilecehkan Ahok adalah kitab mulia yang keotentikannya terjaga, baik secara lafaz (teks) maupun makna sehingga umat bangkit bersatu demi membela agama dan kitab sucinya.

Lalu muncul pertanyaan, jika Ahok yang menyandang status tersangka dari Kepolisian RI itu tetap juga bebas berkeliaran tanpa beban, bahkan terus-menerus menyembulkan kata-kata dan bau tak sedap dari mulut kotornya itu, namun terbebas dari jeritan hukum, lalu apa yang umat akan perbuat? Akankah ada aksi bela Islam hiper damai?

Ketua Dewan Pembina GNPF-MUI, Habib Muhammad Rizieq menegaskan, tidak akan ada lagi aksi bela Islam lanjutan, yang ada hanya revolusi.

Pernyataan Sang Habib diamini oleh Bachtiar Nasir, bahwa kendati agenda utama GNPF-MUI pasca 212 adalah persatuan umat dan menyatukan bangsa. Namun, jika umat dan bangsa menginginkan revolusi, maka kita hanya memgakomodir aspirasi dan tuntutan mereka.

Jika ditilik dari sudut bahasa, revolusi dimaknai sebagai sebuah siklus, maka tidak mustahil akan ada revolusi pasca 212 kalau  pemerintah, penegak, dan pembuat hukum tidak mampu merealisasikan alias gagal paham terkait tuntutan umat yang sangat mendesak, yaitu
'Penjarakan Ahok'.

Dan ketahulah, jika mereka membuat tipu muslihat [makar], maka tipu muslihat Allah jauh lebih dahsyat (QS. Ali Imran: 54). Dan, Allah Maha keras tipu daya-Nya, (QS. Ar-Ra'd: 13).

Jika revolusi benar-benar terjadi maka, bisa saja menjadi bagian dari pembuktian isi Al-Qur'an, bahwa Allah akan pergilirkan di antara manusia agar mendapat pelajaran supaya Allah membedakan orang-orang beriman dengan orang-orang kafir-munafiq, dan sebagian kita gugur menjadi syuhada, sebab Allah membenci orang-orang zalim, (QS. Ali Imran: 140).

Kita tunggu aspirasi umat dan tuntutan bangsa, akankah hukum tegak lewat revolusi, atau kita akan menjadi manusia pilihan, syahid dalam menegakkan keadilan dan mereduksi kezaliman? Allahu Akbar!

Oleh: Ilham Kadir, Ketua Baznas Enrekang dan Sekretaris Pemuda KPPSI Pusat.
Enrekang, 10 Desember 2016.



Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an