Paham Relativisme: Supaha' Nyinyier


Pasti Anda sering mendengar ungkapan seperti ini: "Percuma salat kalau masih korupsi", "Lebih baik pemimpin kafir tapi jujur daripada muslim tapi koruptor", "Tidak ada jaminan bahwa kita akan masuk surga, atau, semua orang akan masuk surga, agama apa pun, sebab setiap agama mengajarkan kebenaran".

Jargon-jargon indah namun konyol itu terus  disebarkan terlihat seperti  logis dan menarik, seperti ungkapan “bedakan antara agama dan keberagamaan”, “jangan mensucikan pemikiran keagamaan”, “agama adalah mutlak, sedangkan pemikiran keagamaan adalah relatif”, “manusia adalah relatif, karena itu semua pemikiran produk akal manusia adalah relatif juga”, “tafsir adalah produk akal manusia, sehingga tidak bisa mutlak semutlak seperti wahyu itu sendiri”, “selama manusia masih berstatus manusia maka hasil pemikirannya tetap parsial, kontekstual, dan bisa saja keliru”, dan sebagainya.

Ungkapan-ungkapan tersebut di atas hakikatnya adalah ekspresi dari sebuah paham yang dikenal dengan relativisme, artinya tidak ada satu pun ajaran dan pemahaman mutlak kebenarannya.

Penganut relativisme inilah yang selalu menjadi nyinyier bagi ummat Islam yang berusaha menjalankan agamanya secara konsisten dan kaffah.

Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa, misalnya tentang haramnya mengadakan natal bersama, atau tidak boleh mengenakan atribut natal bagi ummat Islam, mereka  pun kebakaran jenggot, padahal mereka juga  tidak pernah mau datang berdialog dengan para ulama. Kerjanya, hanya nyinyir jika ada fatwa, padahal fatwa itu bukan untuk mereka, hanya untuk ummat Islam yang taat akan syariat.

Nyinyier adalah golongan sufaha, atau kerak terakhir dan terburuk dalam hierarki kebodohan, demikian Alqur'an memperkenalkan, dalam perbendaharaan hadis dikenal dengan istilah 'la yadri annahu la yadri', tidak tau kalau dirinya itu bodoh.

Tipologi nyinyier juga beda-beda, ada yang masih dapat diajak berpikir ada yang sebaiknya dihindari, kalau pun terpaksa dialog waktunya dibatasi. Inilah yang diajarkan oleh para hukama, atau orang bijak, katanya, Idha nathaqa as-safih falak tuthiqhu, khaerun min ijabatihi as-sukut, kalau nyinyier bicara jangan dilayani, sebab diam lebih mulia dari pada berbicara.

Bayangkan, golongan relativisme sufaha ini, orang salat saja dinyinyir, katanya 'menunaikan salat hanya sebagai kedok untuk menutupi kejahatan'. Saking gobloknya, dia tidak paham atau gagal paham sebab hati, telinga, dan matanya telah tertutup dengan kebencian terhadap kebenaran. "Shummum, bukmun, 'umyun fahum la yarji'un. Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali dalam kebenaran, (QS. Al-Baqarah: 18).

Padahal salat adalah tiang agama, sebaik apa pun Anda, kalau tidak salat itu tidak ada artinya. Lebih berbahaya lagi jika sudah tidak salat lalu menjadi nyinyier orang yang salat. Dosanya kuadrat, sama dengan jahilnya.

Lalu bagaimana menyikapi orang yang berbuat dosa namun tetap salat. Katakanlah, ada pejabat korup tapi tetap salat, haji, puasa, berbuat baik, dan seterusnya. Apakah ibadahnya sia-sia sebagaimana tuduhan nyinyier?

Dalam ajaran Islam paling dasar, dikenal dengan pahala dan dosa. Pahala datang jika menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya disertai dengan merujuk pada contoh dari Nabi golongan penerusnya, plus niat yang ikhlas karena Allah. Sedangkan dosa adalah kebalikan dari pahala, yaitu  menunaikan larangan Allah dan mengabaikan perintah-Nya. 

Bahkan ada yang lebih sesat lagi, mengingkari Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir dengan mengangkat nabi-nabi boneka yang disebut imam al-ma'shum, atau para Imam Syiah yang maksum, para penganut Syiah ini umumnya bertindak di luar nalar, kotoran Imam pun dibuat seperti bedak yang disapukan ke muka.

Kembali pada persoalan salat para koruptor. Jelas, koruptor melanggar larangan agama, sebab merampas hak orang lain, tetapi itu tidak mengeluarkan dia sebagai seorang muslim, sebab rukun iman dan Islamnya tetap utuh. Lalu bagaimana hukum salatnya? Salat walaupun hakikatnya dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, (QS. Al-Ankabut:45) tetapi realitanya, kadang pula dua-duanya beriringan. Salat namun tetap berbuat mungkar. Tipe muslim yang terakhir ini ibarat orang yang minum racun sekaligus penawarnya.

Tetapi itu masih jauh lebih baik dari orang yang koruptor tapi tidak pula salat, dan ini pun masih lebih ringan daripada sudah tidak salat tapi mengolok-olok ulama, melecehkan orang salat, kerjanya hanya jadi nyinyier orang salat. Jika dinasihati, ia akan menjawab, "Lihat itu, dia sudah masuk surga!" Tipe manusia macam ini persis dengan Abu Jahal zaman Nabi.

Sebagai orang Islam dan beriman harus yakin seyakin-yakinnya bahwa kita pasti masuk surga sesuai janji Allah yang sudah pasti kebenarannya, antara lain berikut ini, "Dan sampaikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai", (QS. Al-Baqarah: 25).

Jangan pernah berhenti menegakkan salat lima waktu, bagaimana pun kondisi kita. Sekalipun Anda adalah sejahat-jahat manusia, sebab dengan salat, peluang kembali pada kebenaran sangat terbuka luas, dan yang telah istiqamah di jalan yang benar, teruslah berdakwah, sebarkan kebaikan dan kebenaran, sebab itu semua akan menjadi saham sosial dunia akhirat. Bagi para 'supaha' nyinyier' kembalilah di jalan yang benar, buka hati, telinga, dan mata kalian! Wallahu A'lam!


Oleh: Ilham Kadir, Imam Masjid Nuruttijarah Pasar Sentral Enrekang; Kandidat Doktor Filsafat Pendidikan Islam UIKA, Bogor.

Enrekang, 26 Desember 2016.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi