Majlis Akhir Tahun INSISTS: Membangun Peradaban Umat 2017



Majlis Akhir Tahun yang merupakan kajian pamungkas INSISTS 2016, di helat pada hari  Sabtu pukul 10-12 tanggal 31 Desember 2016 bertempat di Aula INSISTS, Jl. Kalibata Utara II, No. 84 Jakarta. Tampil sebagai pembicara, Dr. Adian Husaini dengan tema “Agenda Peradaban Umat Islam 2017” dipandu oleh Dr. Syamsuddin Arif.

Dalam prolognya, Syamsuddin Arif memaparkan bahwa program utama INSISTS adalah bekerja pada ranah pendidikan, penelitian, konsultasi dan penerbitan.  “Kita akan ikut andil dalam membangun  bangsa Indonesia yang kita cintai ini”, paparnya.

banyaknya peserta yang datang memadati Aula tempat diskusi berlangsung sehingg tidak sedikit peserta yang tidak mendapat tempat duduk, mereka pun harus rela berdiri. Mewakili pihak penyelenggara, Syamsuddin Arif tetap berharap agar para peserta tidak bosan dan jenuh untuk selalu hadir mengikuti suguhan-suguhan ilmiah yang dihadirkan oleh INSISTS.

 “Ada pun minimnya fasilitas, saat ini kita dalam proses pembangunan agar kita semua bisa nyaman berada di tenpat ini.  Semoga para hadirin tidak bosan ke sini. Mari jadikan INSISTS sebagai rumah kita bersama”, kata Dosen Pascasarjana Unida Gontor dan UIKA Bogor ini.

Selanjutnya Dr. Adian Husaini dipersilahkan menyampaikan orasi ilmiahnya. Sebagai salah seorang pendiri INSISTS, ia menyampaikan bahwa selama 14 tahun berdirinya INSISTS hingga saat ini terus mengalami perkembangan yang semakin maju dan matang. Bahkan sedang dalam proses mendirikan perguruan tinggi yang akan dikelola langsung oleh INSISTS.

“Sedang kita upayakan agar INSISTS membuka perguruan tinggi dan menjalankan perkuliahan secepatnya, perizinan sedang dalam proses”. Ujar Pak Adian.

 Dalam menjabarkan agenda peradaban umat Islam tahun 2017 dia mengatakan bahwa seharusnya kita mengikuti dan menjaga semangat 212.  Dan salah satu semangat yang harus kita tingkatkan adalah semangat membangun peradaban dengan berdasarkan pada jati diri sendiri. Sebab tidak ada peradaban yang bisa bertahan jika sudah hilang identitas dirinya. Jika generasi kita ditanya, apa yang dimaksud dengan peradaban maju, maka jawaban mereka adalah yang maju dari segi fisik, maka Barat adalah negara maju. Padahal sejatinya kemajuan dan peradaban tidak hanya dinilai  dari segi fisik.

Pemikiran sekuler yang mengajarkan bahwa kesuksesan pembanguan dinilai dari segi fisik dapat disaksikan pada generasi mudah sekarang. “Coba kita tanyakan pada generasi sekarang tentang jenis-jenis kebutuhan bagi manusia, pasti mengacu pada konsep Barat seperti kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Primer pasti larinya pada kebutuhan fisik, makan, minum, dan sebagainya, demikian pula dua kebutuhan lainnya, semua terkait dengan benda. Namun tahukah kita bahwa jiwa itu tidak butuh makanan seperti nasi, rawon, pecel, dan sejenisnya. Yang diperlukan jiwa adalah ilmu dan ibadah, itulah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah”. Papar Inisiator MIUMI ini.

Dalam ranah pendidikan, Adian Husaini menyoroti kerusakan pendidikan yang terjadi pada sistem dan kurikulum kita sekarang. Kita dapat saksikan bahwa  banyak mahasiswa yang belajar agama tapi ujung-ujungnya meragukan agama, belajar tarbiyah tapi makin tidak terpelajar, belajar Ushuluddin namun justru makin jauh dari tauhid. Maka ia pun menawarkan konsep katanya,  “Metode pendidikan yang terbaik  dalam sejarah adalah merujuk pada Islam sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah yang terbukti melahirkan sahabat yang hebat, cerdas, pakar strategi perang, praktisi ekonomi, dan sebagainya”.

Strategi membangun peradaban selanjutnya menurut Adian Husaini adalah menegakkan amar ma’ruf nahy mungkar, sebab menurunya, Amar ma'ruf nahy mungkar ini akan menentukan mati dan hidupnya umat, dan apa bila itu telah ditinggalkan maka hilanglah keberkahan ummat, demikian pula, jika umat sudah saling caci dan mengejek antar sesama, maka tidak ada lagi persatuan hingga peradaban pun akan punah .

“Tidak hanya itu, menurutnya peradaban harus dibangun dengan komprehensif, sehingga sektor-sektor penting dalam berbagai bidang kehidupan tidak bisa dilewatkan melainkan harus ikut berkontribusi, bahkan harus berperan sentral,” tukas Adian Husaini.

Penulis buku “Wajah Peradaban Barat” ini menegaskan bahwa tradisi Islam dan sekuler di Indonesia adalah tradisi dialog, ada pun terkait dengan poliitk praktis, maka itu diserahkan pada politikus yang berkecimpung lewat partai. Nah, tradisi dialog ini yang dipelihara dan dikembangkan oleh INSISTS. (Jakarta, 31/12/2106).

Dilaporkan oleh Ilham Kadir, Peserta Kajian dari Sulawesi Selatan.


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena