GNPF-MUI dan Genealogi Ulama Bugis

Tambangnya Orde Baru dan munculnya Orde Reformasi dimulai dengan unjuk rasa besar-besaran, bermula dari kampus yang demobilisasi oleh aktivis dari kalangan mahasiswa. Kekuatan ini diperbesar oleh berbagai elemen baik mahasiswa, masyarakat luas, politikus, dan segenap media yang sebulat suara menegaskan bahwa reformasi yang mereka tuntut adalah satu, 'Suharto harus turun dari kursi Presiden'.

Pak Harto pun dengan legowo memenuhi keinginan mayoritas rakyatnya, lalu muncullah berbagai partai politik yang diharapkan mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Namun, harapan tidak sesuai kenyataan, walaupun banyak perubahan, termasuk dalam ranah politik yang makin demokratis, tapi secara umum reformasi belum menemukan jati dirinya, cenderung stagnan. Penegakan hukum yang tebang pilih: runcing ke bawah namun tumpul ke atas, ekonomi tumbuh melambat, asset dan kekayaan negara, hanya dikuasai dan dikelola segelintir orang. Degradasi moral kian mengkhawatirkan, kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat tanpa kendali  bahkan biadab, hingga kasus narkoba dan pornografi terus meningkat. Di saat yang sama umat Islam terus dipojokkan sambil dijadikan komoditas buruh dan pangsa pasar.

Kini, sedang diperbincangkan luas adalah kasus Ahok, Gubernur non aktif--dan semoga tidak akan pernah aktif--DKI Jakarta yang telah divonis tersangka penistaan Al-Qur'an, tepatnya Surat Al-Maidah ayat 51. Dari sinilah akar masalah itu, yang membangkitkan ruh jihad para ulama yang memiliki jiwa pergerakan dan kepedulian terhadap agama, kitab suci, dan harga diri mereka.

Lalu muncul tuduhan serampangan bahwa para ulama yang mampu mendatangkan massa dengan jumlah besar, bahkan terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai anti NKRI, anti Pancasila, anti Bhinneka Tunggal Ika, bahkan dituduh ingin makar. Dan para peserta aksi pun dihalangan-halangi secara sistematis oleh aparat keamaman (polisi) di berbagai daerah, hingga tidak sedikit yang datang dengan berjalan kaki hingga ratusan kilometer atau terpaksa menyewa pesawat untuk ikut aksi 212 karena pemilik perusahaan jasa angkutan darat diintimidasi oleh polisi setempat.

Perlu dicermati, para ulama penggerak massa yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) tidak memiliki partai politik, tidak punya pasukan bersenjata, tidak memiliki penyandang dana, yang mereka miliki adalah keikhlasan membela agama Allah, dan semangat berkorban demi persatuan umat, keutuhan  bangsa dan NKRI. Memperjuangkan keadilan dengan menghukum penista agama, adalah bagian dari penegakan nilai-nilai Pancasila, UUD-46, dan tentu saja merupakan manifestasi dari Bahinneka Tunggal Ika dan syariat Islam.

Tidak banyak yang tahu jika motor penggerak, dinamit peledak semangat jihad, pemantik ruh perjuangan sekaligus inisiator dan Ketua GNPF-MUI, dua di antaranya berdarah Bugis asli, Ustad Bachtiar Nasir (UBN) dan Ustad Zaitun Rasmin (UZR). Mereka berdua adalah ulama Bugis haraki, atau ulama pergerakan.

UBN pernah mondok di Majelisul Qurra' Wal-Huffazh (MQWH) yang kini bernama Pondok Pesantren Darul Huffazh, berlokasi di Tuju-Tuju, Kajuara, Bone di bawah asuhan seorang panrita loppo (ulama besar) Anregurutta Haji Lanre Said (1923-2005), di sana, UBN dicelup untuk menjadi ulama yang ikhlas, rendah hati, pemurah, namun harus tegas dan berani, (lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Bachtiar_Nasir?veaction=edit).

Ketika berada di Tuju-tuju, UBN masih berumur 21 tahun dan baru menyelesaikan sekolahnya di Pondok Modern Gontor, Ponorogo pada tahun 1988, setelah mengabdi setahun di almamaternya, ia kembali melanjutkan pengembaraan ilmunya ke tanah Bugis, kampung asal para leluhurnya. Keluarga besarnya memang banyak berasal dari Kajuara, Saomekko, dan Tonra (Bone Selatan).


Saat itu, pondok kami, MQWH berada dalam situasi sulit, aparat keamanan tidak memberikan izin untuk melangsungkan program dan proses pendidikan. Maklum, saat itu aparat Orde Baru sangat tidak bersahabat dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang tidak sejalan dengan asas tunggal Pancasila. Selain itu, pimpinan kami adalah veteran DI/TII di bawah komando Qahhar Mudzakkar, bahkan pernah menduduki jabatan sebagai Panglima Tentara dan Pengadilan Tinggi DI/TII.

Berkali-kali aparat keamanan setempat datang menegur dan bahkan mengancam tapi semua dapat diatasi dengan baik. Caranya, Gurutta Lanre Said memberi wewenang penuh kepada pria Bugis kelahiran Jakarta 26 Juni 1967 ini, untuk menangani masalah gangguan dari pihak pemerintah setempat, UBN pun masuk keluar kantor Camat, Polsek, hingga kantor Kodim dan Polres Bone untuk melakukan negosiasi. Beberapa kali dibentak, tapi dengan nyali yang tak gentar membela yang haq, ia balik membentak dengan nada lebih tinggi.

Saat itu, satu hal yang UBN kerap utarakan, bahwa tidak seorang pun dari aparat yang berani bertatap muka langsung dengan Gurutta Lanre Said, sebab begitu nama sang guru disebut, nyali dan semangat mereka ciut dan loyo. Itu karena apa yang  dilakukan di pondok di bawah asuhan sang Anreguru adalah kebenaran, mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Sebelum itu, berkali-kali, Lanre Said ingin dijebloskan ke dalam penjara dengan berbagai tuduhan yang dibuat-buat, namun saat jaksa penuntut umum ingin menuntutnya, maka para jaksa selalu mengalami keanehan, sakit perut, muntah darah, lalu sidang dibatalkan. Ulama sufi akhlaqi tempat berguru UBN itu, tidak saja sarat ilmu dan pengalaman, tapi memiliki akhlak yang hanya mampu diamalkan para wali.

Bahkan keturunannya pun tak ada yang sanggup mengikuti, salah satunya adalah, harus menghindari 3 D: dosa besar, dengki, dan dusta walaupun hanya bercanda. Dengan amalan dan ibadah yang ikhlas lillahi ta'ala hingga, Lanre Said mampu mendirikan lembaga pendidikan yang para santrinya dibebaskan dari segenap pembiayaan. Dengan kharismanya hingga pada masanya para alumni Pondok Modern Gontor, berduyun-duyun ke MQWH Tuju-tuju untuk menghafal Al-Qur'an, berguru pada Gurutta Lanre Said, sambil mengamalkan ilmunya di Kulliuatul Muslimin Al-Islamiyah (KMI) atau program pendidikan MQWH yang berafiliasi pada KMI Pondok Modern Gontor, saya pribadi adalah santri dan alumni perdana program KMI Daru Huffazh, (Bachtiar Natsir, Tadabbur Ayat-Ayat Kehidupan, Jakarta, AQL Pustaka, 2016: back cover).

Setelah khatam hafalan Al-Qur'an, sambil berguru pada alumni Madrasah Arabiyah Islamiyah di bawah asuhan Anregurutta Haji Muhammad As'ad Al-Bugisi ini, UBN direkomendasikan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabiyah.

Demikian pula UZR, lelaki Bugis kelahiran Gorontalo 2 Desember 1966 ini (https://id.wikipedia.org/wiki/Zaitun_Rasmin), di tangannya kelompok pengajian Wihdatul Ummah bermetamorfosis menjadi organisasi massa Islam yang yang kita kenal dengan nama Wahdah Islamiyah (WI) berkembang pesat, cabang-cabangnya sudah berdiri hampir di seluruh provinsi, dan Muktamar Ketiga beberapa waktu lalu diadakan di Jakarta pada 17-20-2016 lalu. Tidak mudah, sebuah organisasi lokal Makassar dapat menembus nasional dengan pengurus dan anggota yang berasal dari kalangan terpelajar.

Pola-pola rekrutmen yang dilakukan WI pun layak menjadi contoh, sebab mereka mulai dari halaqah-halaqah tarbiyah di kampus-kampus, lalu para lulusan yang kemudian kembali ke daerah masing-masing juga melakukan pola-pola serupa dengan Jamaah dari berbagai kalangan. Mereka ditempa di kampus sebagai kader yang terdidik dan gigih memperjuangkan syariat lalu kembali menerapkan pola serupa di tengah masyarakat setelah selesai kuliah.  

Dari segi pendidikan, baik UBN maupun UZR sama-sama lulusan Universitas Islam Madinah. Hanya saja garapan dakwah UBN merasuk ke kalangan-kalangan menengah ke atas, melalui beragam media dan metode yang menarik (upto date).

Antara konten dakwahnya yang digandrungi masyarakat Indonesia dan Ibu Kota secara khusus adalah metode tadabbur, bahkan beliau sendiri adalah Ketua Tadabbur Al-Qur'an Indonesia. Dari metode tadabbur itu, lahirlah berbagai karya di tangan UBN, antara lain, Masuk Surga Sekeluarga, Jakarta, AQL Pistaka, 2016; Tadabbur Ayat-ayat Kehidupan, Jakarta, AQL Pustaka, 2016; Anda Bertanya Kami Menjawab, Jakarta, Gema Insani, 2012; Tadabur Al-Qur'an, Juz 1-2, dan Juz 29-30, sisanya dalam masa penulisan. UBN juga sangat familiar di berbagai stasiun televisi dengan menjadi narasumber berbagai isu-isu kekenian lalu ditropong dengan kacamata Al-Qur'an As-Sunnah.

Kedua ulama pembakar sumbu jihad di atas, tidak ada yang ia harapkan kecuali pahala dan kemuliaan dari Allah, sama sekali tidak memiliki  kepentingan politik sebab mereka hanyalah ustad dan guru mengaji. Jika kitab yang dikaji, dibaca, dan dihafal tiap saat itu sudah dinista lalu penistanya dibiarkan, bebas tanpa beban, maka umat ini sudah kehilangan harga dirinya, sebab hanya dengan Al-Qur'an Allah memuliakan manusia, dan dengan Al-Qur'an pula Allah akan merendahkan sebuah bangsa dan kaum.

Aksi Bela Islam Jilid 1-3 dengan mendorong pemerintah untuk menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar sesungguhnya adalah aksi bela NKRI sebab tidak akan ada Indonesia jika setiap orang, atau golongan bebas merendahkan dan menghina orang lain, atau menista dan melecehkan agama lain, sebab negara ini adalah milik bersama tidak dikapling oleh golongan arogan yang menyatakan bahwa kita baru benar-benar pancasilais jika minoritas yang memimpin. Padahal, jika kita mau demokratis, maka yang memimpin dan berkuasa adalah golongan mayoritas.


Saya tutup dengan mengutip pernyataan Ketua GNPF-MUI, Ustad Bachtiar Nasir bahwa aksi Bela Islam bukan tanpa target. Selain menguatkan rasa dan barisan Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam) dan Ukhuwah Wathaniyah (Persaudaraan Nasionalisme), aksi ini bertujuan untuk mengokohkan Persatuan Ummat Islam yang membawa pada Persatuan Indonesia, mengokohkan Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan nilai-nilai UUD 1945 yang asli.

Selain itu, menurut UBN, yang tak kalah pentingnya juga, aksi ini menuntut Keadilan Sosial dan Keadilan Hukum bagi seluruh rakyat Indonesia serta melawan kekuatan Oligarki yang telah membuat Indonesia terjajah secara politik, ekonomi, sosial, dan hukum. Penjarakan Penista Agama secepatnya! Konsep acara Aksi Bela Islam 3 adalah unjuk rasa Islami dan Syar’i, walau ada pihak yang berusaha menggembosi bahwa ini bukan unjuk rasa tapi Majelis Zikir dan Doa, namun tuntutan Penjarakan Penista agama adalah tujuan utama.


Walau ada upaya pengaburan--lanjut Sekjend MIUMI ini--yang bertujuan  pada pengaburan tujuan utama aksi Super Damai 212, konsep acara 212 adalah konsep Super Damai yang sangat agung dan suci dimana ummat Islam mengadukan nasibnya kepada Allah SWT dalam bentuk zikir, doa, tausiah, dan shalat Jumat secara bersama-sama sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan sosial dan tumpulnya keadilan hukum bagi Pribumi dan terkesan menganakemaskan kaum pemodal Aseng dan Asing yang telah menyuap kaum oligarki elite politik Indonesia.

Senada dengan Ustad Zaitun Rasmin, bahwa target utama kita bersatu dan berkumpul pada aksi super damai bela Islam 212 adalah sebulat suara untuk mendorong pihak penegak hukum agar segera menangkap  dan memenjarakan Ahok, Si Penista Al-Qur’an. Allahu Akbar!


Bungin-Enrekang, 212/2016.
Oleh: Ilham Kadir, Alumni Perdana Pondok Pesantren al-Qur'an Darul Huffazh Tuju-tuju Bone 1996.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena