TUGAS POKOK DAN FUNGSI ULAMA



Tugas Pokok dan Fungsi ulama adalah menjadi penafsir dan penerang firman Allah serta sabda Nabi. Tidak benar jika ada yang mengatakan, ‘hanya Allah yang tahu apa yang Dia firmankan’. Sebab jika teori itu terjadi maka hancurlah sistem dan tatanan kehidupan. 

Contoh kecilnya, Allah berfirman, Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah 12 bulan, sesuai ketetapan Allah pada waktu dia menciptakan langit dan bumi, (QS. At-Taubah[9]: 36). Jika saja semua manusia berpendapat bahwa hanya Allah yang tahu kalau bulan itu berjumlah 12, maka setiap orang boleh dan bebas menafsirkan dan mengartikan ayat di atas, bahwa bulan itu jumlahnya tergantung pendapat dan penafsiran masing-masing. Maka, rusaklah tatanan kehidupan ummat manusia.

Karena itulah Allah mengutus para nabi dan rasul yang jumlahnya tidak terkira untuk memberikan keterangan terkait firman-firman Allah, litubayyena linnasi ma nuzzila ilaihim. Karena nabi telah tiada, maka para ulama adalah pengganti posisi mereka. Maka, melecehkan ulama hakikatnya melecehkan para nabi, dan telah mengobarkan api perang terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Untuk kasus yang sekarang ini ramai dibahas, terkait firman Allah dalam Surat Al-Ma’idah ayat ke-51. “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin (auliya’), mereka satu sama lain saling melindungi”.

Penulis telah membaca empat pandangan ulama yang muktabar dari Ahlussunnah, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad bin Hanbal, tidak satu pun yang membolehkan mengangkat pemimpin kafir bagi ummat Islam, kecuali kalau mereka minoritas. Namun, dalam artikel yang terbatas ini sangat tidak memadai untuk disebutkan pendapat para ulama secara detail.

Karena itu, tugas ulama adalah menegur siapa saja yang berbicara tentang al-Qur’an namun tidak tepat bahkan serampangan. Tidak boleh diam, sebab diam saat melihat manusia berada dalam kesesatan dan kebingungan namun tidak menjelaskan kebenaran dari ilmu yang Allah berikan kepadanya. Sesungguhnya para ulama akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Begitulah gambaran nyata tugas dan tanggungjawab ulama di tangah ummat dan di hadapan Allah.

Keutamaan seorang ulama atas seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama dibandingkan segenap bintang. Sebab, ahli ibadah (ābid) beribadah kepada Allah dengan puasa, shalat, dzikir, dan membaca al-Qur'an, tapi seorang ulama lebih utama darinya, karena ia mengajarkan kebaikan pada manusia dan mengajak mereka kepadanya. Alasan lain, karena amal yang dilakukan seorang ahli ibadah manfaatnya hanya terbatas bagi dirinya sendiri. Ia seumpama bintang yang cahayanya terbatas untuk dirinya pribadi. Ada pun ulama, ia laksana bulan yang cahayanya menyinari semua alam dan seisinya, terutama yang mengambil bagian dan manfaat darinya. Karena manfaat seorang ulama akan menular pada orang lain, sedangkan ahli ibadah hanya untuk diri pribadinya, maka itulah yang dimaksud, ulama laksana bulan dan ahli ibadah laksana bintang. Setan tidak akan mampu menguasai masyarakat selama ulama hadir di tengah mereka, ketiadaan dan kevakuman ulama akan menjadikan setan sebagai penguasa jagad raya dan para penguhuninya. 


Kisah Abu Raihān Al-Biruni (w. 1048 M) perlu manjadi pelajaran terkait bagaimana posisi ulama di tengah masyarakat yang tetap gigih mengamlkan ilmunya, bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, serta memberi pencerahan kepada ummat walau dalam keadaan sekarat. Ketika sakit parah menjelang ajalnya, seorang sahabat yang datang menanyakan sebuah masalah fikih, namun melihat situasi dan waktu yang tidak tepat sehingga mengurungkan niatnya, karena itu, sang sahabat bertanya kepada ulama pakar sains dan hukum itu, Apakah waktunya tepat membahas masalah fikih sedang ia dalam keadaan sakit akut? Al-Bīrūnī menjawab dengan tegas bahwa ia tidak ingin meninggalkan dunia yang fana dalam keadaan tidak mampu menyelesaikan sebuah masalah fikih, (Wan Daud, 2007: 48). 

***

Antara rahmat Allah yang diberikan kepada manusia adalah tidak mencabut ilmu dengan meninggalnya para nabi, karena para nabi mewariskan ilmu pada sekelompok manusia untuk menggantikan kedudukan mereka demi mengemban amanah Allah dalam menafsirkan dan merealisasikan firman-firman-Nya dalam kitab-kitab yang telah diturunkan, seperti zabur, taurat, injil,hingga al-Qur’an, (Yusuf Al-Qardhawi, 2003: 309). 

Begitu diutusnya nabi dan rasul pamungkas, maka tidak ada lagi rasul diutus setelah Nabi Muhammad wafat. Tapi, Allah mempercayakan amanah kepada segolongan manusia pengganti tugas-tugas kenabian, hanya saja kelompok tersebut tidak didukung oleh wahyu secara langsung dan tidak pula ma'shūm (terbebas dari dosa besar dan kecil).

Golongan yang mengemban tugas kenabian dan kerasulan tersebut adalah para ulama. Mereka adalah pewaris para nabi. Sebagaimana sabda Nabi, Barangsiapa melalui satu jalan yang di dalamnya terdapat ilmu, maka Allah akan memberinya jalan menuju surga. Dan sungguh para malaikat meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu sebagai bentuk keridhaan atas apa yang diperbuat, dan seluruh penduduk langit dan bumi meminta ampun bagi orang yang berilmu, bahkan ikan-ikan di air juga melakukan hal yang sama. Dan keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang, para ulama adalah orang yang mewarisi nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.
Pada akhir hadits Nabi di atas, sangat jelas bahwa para nabi tidak mewariskan harta benda atau kekuasaan, namun justru mewariskan ilmu. Dan siapa pun yang mengambil bagian dari ilmu para nabi maka sesungguhnya ia telah mendapat hikmah, dan golongan yang mendapat hikmah adalah mereka yang telah dikaruniai kebaikan yang banyak.

Begitulah gambaran kedudukan ulama di tengah ummat, mereka selain menjadi cahaya dalam kegelapan, penyebab turunnya rahmat Allah, datangnya berkah, serta terhindar dari petaka dan laknat Allah. Posisi sentral ulama ini tidak akan pernah berubah sejak dahulu hingga sekarang dan pada masa akan datang.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah menyatunya para ulama dan zuama, merupakan lembaga keulamaan yang paling berhak mengeluarkan fatwa, teguran, dan himbauan terkait berbagai problematika ummat Islam, termasuk dalam hal ini adalah kepemimpinan. Para ulama, sebagaimana dikatakan Sholahuddin Wahid, sudah tepat jika mengajak ummat memiliki pemimpin muslim di tengah masyarakat yang penduduknya mayoritas muslim.
Demikian pula, para ulama, dalam hal ini lembaga MUI berhak melaporkan siapa pun kepada pihak yang berwajib (Polisi) bagi mereka yang telah melecehkan ulama, menafsirkan al-Qur’an secara serampangan, atau sengaja mengutif ayat dengan maksud mengolok-olok ulama dan firman Allah. Mari memperkuat lemabaga ulama. Wallahu A’lam!

Ilham Kadir, Komisioner Baznas Enrekang; Kandidat Doktor Pascasarjana UIKA Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi