ANREGURUTTA ABDUL LATIF AMIEN


Dalam pengembaraan saya mencari narasumber otoritatif terkait Syekh Muhammad As’ad Al-Bugisi (1907-1952), saya berkelana ke berbagai penjuru daerah Bugis. Salah seorang ulama hasil kkaderisasi Al-Bugisi di Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Sengkang adalah Gurutta Abd Latif Amien. Saya berbincang panjang lebar terkait tujuan, program, proses, dan evaluasi konsep pendidikan yang pernah ditetapkan oleh Al-Bugisi. Hasilnya, sudah saya tuangkan dalam bentuk tulisan pada disertasi saya yang berjudul, “Konsep Pendidikan Kaderisasi Ulama Anregurutta Muhammad As’ad Al-Bugisi”. Insya Allah karya ini akan menjadi salah satu rujukan dalam sejarah islamisasi Sulsel melalui lembaga kaderisasi ulama, perjuangan DI/TII, kiprah tujuh ulama jebolan MAI Sengkang yang paling berpengaruh di Sulsel (Gurutta Ambo Dalle, Daud Ismail, Yunus Martan, Marzuki Hasan, Muin Yusuf, Lanre Said, dan Hamzah Manguluang), dan regenerasi ulama Bugis. Walaupun jumlah halamannya cukup tebal, hampir 1000, tetapi isnya Allah tidak membosankan, saya tulis dengan penuh cinta dan rasa. 

Abdul Latif Amien lahir di Kota Watampone Kabupaten Bone pada tanggal 1 Desember 1932. Ayahnya adalah seorang wakil Qadhi Bone. Ketika berusia 7 tahun, ia diantar oleh orang tuanya untuk belajar mengaji di daerah Bone selatan selama 2 tahun, setelah itu kembali ke Watampone memperdalam ilmu bahasa Arab seperti sharaf dan nahwu. Pada tahun 1944, atau umur 14 tahun, ia selesai SR Negeri, dilanjutkan pada level Tahdiriyah dan selesai tahun 1947, dan tiga tahun atau 1950 kemudian selesai pada jenjang Ibtida’iyah, kedua jenjang terakhir ia selesaikan di Madrasah Amiriah Bone di bawah bimbingan Syekh Mahmud Abdul Jawad, mantan mufti Madinah yang pernah membantu Al-Bugisi di MAI Sengkang. Pada tahun 1950-1954, Abdul Latif Amien melanjutkan pendidikan di MAI Sengkang di bawah asuhan Al-Bugisi, selain mengikuti program khusus hafalan Al-Qur’an di lembaga Majelisul Qurra’ wal-Huffazh yang juga dikelolah oleh ulama lulusan Haramayn dan Al-Azhar, Al-Mishrī (w. 1951) dan Al-Bugisi sendiri. 

Setelah Al-Bugisi wafat pada 29 Desember 1952, Latif Amien tetap di MAI Sengkang dan berguru kepada generasi kedua, seperti Daud Ismail dan Yunus Martan. Pernah pula mengikuti ujian sebagai guru Agama 1960, SGB Negeri Persamaan di tahun yang sama. SMP Negeri 1960, PGAN 4 tahun 1962, PGAN 6 tahun 1963, dan IAIN Alauddin cabang Watampone tahun 1967 sebagai sarjana muda (bachelor of arts).

Abd Latif Amien pernah memegang beberapa jebatan, antara lain, Purna Bakti Kepala Seksi Urusan Haji Kabupaten Bone, Penilik Pendidikan Agama, Kepala Kantor Urusan Agama Bone Selatan (Kajuara, Salomekko, Kahu, Libureng, dan Bontocani), KepalaMadrasah Aliah Negeri Kajuara, Bone, Kepala Madrasah Aliah Ma’had Hadits, Biru. Kini ia masih aktif dan menjabat sebagai, Ketua Dewan Mustasyar NU, Ketua MUI Kabupaten Bone, Ketua IPHI, Penasehat SATKAR Ulama Bone, dan Ketua Yayasan Pendidikan Ma’had Hadits Biru.

Kini, ulama sepuh yang hobi baca kitab tafsir al-Maraghī ini, memiliki segudang kesibukan, diusianya yang sudah senja, atau 84 tahun, beliau masih terlihat sangat fresh. Ketika saya tanya, Apa rahasianya sehingga masih terus bugar. Ada dua, pertama biasakanlah berpagi-pagi beraktifitas, karena itu akan mendatangkan keberkahan, dan kesehatan hanyalah bagian kecil dari keberkahan itu, sebagaimana doa Nabi kepada ummatnya, agar diberi keberkahan bagi mereka yang berpagi-pagi dalam beraktifitas. Kedua, jangan pernah menolak atau melawan perintah dan permintaan atasan selama itu baik menurut agama dan adat, sebab taat pada atasan adalah sebuah kewajiban, ujarnya.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena