Haji Filipina



Berilmu sebelum berkata dan berbuat, al-‘ilm qablal qaul wal ‘amal, begitu perkataan Imam Bukhari pada salah satu bab dalam kitab fenomenalnya yang kita kenal dengan ‘Shahih Bukhari’. Demikian pula perkataan Ahli Hikmah berikut, Setiap perbuatan tanpa didasari dengan ilmu, maka ia akan tertolak, kullu’amal laisa bi’ilmin fahua mardud. Tapi, ilmu saja belum cukup, harus ditopang dengan adab, karena itulah sila kedua Pancasila berbunyi, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Lalu apa korelasi ketiga kutipan sarat makna di atas dengan ‘haji Filipina’?

Penulis mulai dengan sebuah cerita singkat, tentang tetangga di Enrekang yang tahun lalu menunaikan haji khusus alias plus. Sepasang suami istri itu yang masing-masing kepala sekolah mendaftar pada sebuah trevel di Makassar dengan biaya berkisar 130 juta rupiah per orang. mereka berdua oleh pihak trevel tiba-tiba saja diterbangkan ke Filipina untuk mengurus kartu penduduk Filipina sekaligus passport, mereka ini, ketika mendaftar pada awalnya sama sekali tidak ada pemberitahuan bahwa jamaah haji di trevel ini akan menggunakan kuota negara Filipina, karena itu harus menjadi warga negara Filipina. Syukurlah keduanya naik haji dan kembali dengan selamat.

Ketika kembali ke Enrekang, ia pun menceritakan lika-liku perjalanannya, antara lain adalah, bahwa haji via Filipina ini memang sebuah jaringan yang cukup rapi, sebab ada kerjasama yang solid antara pihak trevel, petugas haji (Kemenag), dan pihak Filipina baik sebagai calo, pergawai imigrasi, dan seterusnya. Namun, di antara semua itu, ada testimoni yang menggelitik, ketika saya bertanya, Apakah ini tidak berbahaya, sebab setahu saya, menggunakan kuota negara lain bisa berakibat fatal? Oh, itu tidak mungkin sebab kita dibimbing oleh seorang guru besar? Jawabnya dengan semangat dan nada tinggi. Guru besar yang disebut ternyata adalah dosen istri saya ketika menempuh program magister di salah satu perguruan tinggi di Makassar.

***

Ibadah dalam Islam pada intinya sangat sederhana, sah atau tidaknya, hanya diteropong pada dua sisi, syarat dan rukun. Syarat naik haji memang agak berbeda dengan ibadah-ibadah inti lainnya seperti shalat, zakat, dan puasa. Sebab, selain menjadi muslim, balig, berakal (tidak gila), juga diharuskan mampu secara kesehatan, dan dana. Sedangkan rukunnya ada empat, ihram, thawaf, sa’i, dan wuquf di Arafah, (Al-Jazairi, Minhajul-Muslim, Jakarta: Darul-Haq, 2006). Artinya, jika semua syarat dan rukun tersebut telah terpenuhi maka, seorang muslim sudah gugur kewajibannya, dan tidak perlu mengulangi ibadah hajinya. 

Pengetahuan tentang syarat dan rukun itulah yang disebut dengan ilmu, dalam keduanya, ada aturan-aturan yang mengikat jika tidak dilaksanakan dengan tuntas maka bisa saja ibadah akan tertolak. Sebab, dalam pandangan Islam ibadah termasuk haji adalah perkara tawqifi atau sudah digariskan dan ditetapkan, tidak boleh ditambah apalagi dikurangi. Termasuk perkataan orang-orang yang naik berhaji di kampung saya, bahwa tujuan utama berhaji, salah satunya adalah ingin menziarahi kuburan Nabi, tentu saja ini kesalahan fatal, sebab ziarah ke makam Nabi hanyalah sunnah, tidak masuk dalam rukun dan syarat sahnya ibadah haji.

Dengan itu, naik haji lewat mana pun, selama syarat dan rukunnya terpenuhi insya Allah sah dalam sisi agama. Jamaah bisa lewat Makassar, Kuala Lumpur, Hongkong, maupun Filipina, sebab itu semua hanya wasilah menuju Rumah Allah (Batullah). 

Ada pun jamaah haji yang tertipu dan tersesat ke Filipina, lalu ramai-ramai disebut “Haji Filipina”, hakikatnya mereka jatuh  pada pasal adab-adab berhaji. Sebab beribadah yang baik dan benar adalah menunaikan adab-adabnya, dan orang berhaji dengan sadar bahwa yang dilakukan itu adalah  salah, melanggar undang-undang, baik negara sendiri maupun negara lain akan mengurangi keutamaan haji termasuk mangikis gelar mabrurnya. Sulit dipahami ada haji mabrur tapi jalan menggapainya penuh dengan tipu muslihat.

Namun yang paling bertanggungjawab adalah penyelenggara trevel dan pembimbingnya. Sebab mereka ini tahu persis kalau apa yang dilakukan melanggar hukum kedua negara. Golongan inilah yang mengkhianati negara dan Pancasila. Tidak mampu berbuat adil pada jamaah dan dirinya sendiri, melainkan zalim dan biadab. Apalagi yang terlibat dalam sindikat ini ada aparatur negara dari Kemenag, ustad, dan guru besar yang rela menjadi pelacur intelektual.

Aparat keamanan harus bertindak adil dalam mengusut penipuan yang telah memakan banyak korban, agar tahun-tahun berikutnya tidak ada lagi kejadian yang serupa. Di lain pihak, para calon jamaah haji, agar selektif memilih trevel jika memang ingin berhaji lebih cepat. Naik haji, selain persoalan kemampuan keuangan dan kesehatan, tentu kehendak Allah juga berlaku. Dahuluilah dengan minta petunjuk, memohon kepada Allah agar dibukakan pintu kemudahan menjadi tamu-Nya, lakukan shalat istikharah, jangan terlalu sombong cukup dengan bersandar pada kekuatan dana yang ada dan usaha keras.

Dengan niat baik memenuhi panggilan Allah, walaupun tertipu oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab termasuk para pelacur intelektual. Usaha yang sudah maksimal, dan hanya sampai di Filipina lalu kembali ke kampung, semoga lain waktu Allah menjawab doa-doa kalian, bukankan doa golongan terzalimi itu sangat makbul? Selamat Datang Haji Filipina

Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Baznas-DDII, Kandidat Doktor UIKA Bogor.

Dimuat Harian Tirbun Timur, 9 September 2016.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an