Zakat Fitrah dan Problematikanya



Antara puasa Ramadhan dengan zakat fitrah adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena itu, setiap Ramadhan datang setiap itu pula umat Islam mengeluarkan zakatnya.

Maka, pengetahuan seputar zakat fitrah menjadi mutlak adanya, dan sampai saat ini, sebagaimana yang penulis alami di berbagai daerah, baik di ibu kota negara maupun di pegunungan Bone dan Enrekang, kerap terjadi perdebatan antar beragam faham dan madzhab seputar zakat fitrah. Tulisan ini bermaksud mengambil jalan tengah demi mengurai kekusutan antara satu pendapat dengan lainnya pada ranah yang diperdebatkan. Amma ba'du!

Terminologi zakat fitrah adalah makanan pokok dengan kadar tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim pada waktu tertentu bagi yang mampu menyediakan makanan melebihi kebutuhannya. Yang dimaksud dengan kadar tertentu adalah seukuran tiga setengah liter berdasarkan penafsiran ulama dari kata satu sha', merujuk pada hadits Nabi, (Bukhari, No. 1510). Sedangkan waktu dikeluarkannya adalah di bulan Ramadhan hingga satu syawal sebelum khatib Idul Fitri naik mimbar.

Asas penetapan wajibnya zakat fitrah dapat dilihat dalam hadits yang bersumber dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah mewajibkan untuk membayar zakat fitrah pada bulan Ramadhan, satu sha' kurma, atau gandum, yang diwajibkan terhadap hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, dewasa, bagi segenap kaum muslimin, (Bukhari, No. 1503/Muslim, 12/984).

Ranah Perdebatan

Perdebatan yang kerap terjadi didominasi dua kelompok, tekstual dan kontekstual. Golongan tekstual yang memang terpaku pada teks menilai bahwa zakat fitrah harus dibayar dengan menggunakan makanan pokok yang kita makan, tidak dapat ditukar dengan kadar mata uang. Pendapat ini juga didukung oleh ulama-ulama madzhab seperti Imam Malik, Syafi'I, dan Ahmad bin Hanbal. Kecuali Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa membayar zakat dengan menggunakan mata uang adalah sah.

Golongan kedua, yang kontekstual pun terlalu longgar menafsirkan hadits zakat di atas sehingga mereka bahkan tidak menerima zakat yang berasal dari bahan makanan pokok. Alasannya, pendistribusiannya lumayan rumit, harus mengantar beras dari satu tempat orang miskin ke yang lainnya dan kadang medannya tidak mudah. Jamak diketahui bahwa golongan marjinal ini, jika di kota, mereka terkumpul di kawasan-kawasan pinggiran dan kumuh, sementara yang di desa berada di pedalaman yang sulit dijangkau kendaraan umum.

Baik kubu pertama maupun kedua sama-sama memiliki kekurangan, maka jalan tengahnya adalah melihat situasi dan kondisi para kaum miskin lalu menyalurkan bantuan zakat fitrah sesuai prioritas dari kebutuhan pokok mereka. Jangan hanya disuplay beras, tapi dapat pula diganti dengan lauk pauk, atau pakaian, bahkan uang yang dapat mereka belanja sesuai skala prioritasnya.

Perdebatan selanjutnya adalah waktu pembayaran zakat fitrah. Kapan sebenarnya waktu yang paling tepat? Semua ulama sepakat bahwa zakat fitrah sebaiknya dibayar pada akhir Ramadhan, perdebatannya, kapan deadlinenya. Imam Ahmad dan Fatwa Baru (qaul jadid) Imam Syafi'I bahwa waktu yang paling tepat membayar zakat fitrah adalah ketika Ramadhan sudah habis, atau malam Idul Fitri ketika matahari baru tenggelam. Abu Hanifah dan fatwa lama (qaul qadim) Imam Syafi'I mengatakan bahwa paling tepat adalah membayar zakat sebelum orang-orang keluar dari rumahnya berangkat salat Idul fitri. Pendapat ini diperkuat hadits Nabi dari Ibn Umar bahwa Nabi memerintahkan membayar zakat fitrah sebelum shalat Idul Fitri dilangsungkan,  (Muslim, 22/986).

Lalu bagaimana jika membayar zakat lebih cepat? Segenap ulama sepakat bahwa mempercepat pembayaran zakat fitrah sehari atau dua hari sebelum shalat I'd dibelehkan, namun diperdebatkan adalah jika lebih cepat dari itu. Pendapat Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal melarang mempercepat lebih dari dua hari, namun Abu Hanifah dan Imam Syafi'I membolehkan bayar zakat fitrah sejak awal Ramadhan. Pendapat yang kedua ini menjadi pegangan umat Islam kontemporer yang tidak punya waktu lagi melakukan pendistribusian zakat jika dibayar pada akhir bulan menjelang lebaran. Yang terlarang adalah membayar zakat setelah Idul Fitri berdasarkan hadits Nabi, Barangsiapa membayar zakat fitrah sebelum shalat Idul Fitri maka zakatnya diterima namun siapa yang membayar setelah shalat maka, itu hanyalah bagian dari shadaqah, (H.R. Baihaqi).

Permasalahan selanjutnya, kemanakah zakat fitrah itu dibagikan? Jika merujuk pada Al-Qur'an, hadits, dan kesepakatan para ulama, maka tidak ada perdebatan antara mereka bahwa zakat fitrah sama kedudukannya dengan zakat mal dan disalurkan kepada golongan yang ditetapkan Allah lewat firman-Nya bahwa sesungguhnya zakat-zakat itu untuk golongan fakir, miskin, amil, muallaf, budak, terlilit hutang, pejuang di jalan Allah, dan musafir, (QS. At-Taubah: 60). Namun, dari delapan golongan di atas, fakir dan miskin adalah skala prioritasnya. Ini diperjalas oleh Nabi sebagaimana dinarasikan oleh Abu Daud, Ibnu Majah, Daraqutni yang bersumber dari Ibn Abbas, Zakatul fitri thuhratan li as-sha'im min al-laghwi wa al-raftsi, wa thu'matan li al-masakin. Zakat fitrah itu bertujuan untuk menghapus prilaku yang sia-sia dan ucapan-ucapan yang buruk [keji] serta bahan konsumsi fakir-miskin.

Walaupun seorang amil tetap berlaku adil kepada delapan asnaf tersebut yang saat ini, terutama di Indonesia yang tersisa tinggal tujuh karena budak sudah tidak ada. Dalil lainnya terkait pendayagunaan zakat dengan mengutamakan fakir miskin adalah ketika Mu'az bin Jabal diutus oleh Nabi ke negeri Yaman, pesan Nabi, antaranya, ambillah zakat dari golongan kaya itu untuk didistribusikan kepada golongan fakir-miskin, tu'khazu min aghnia'ihim waturaddu ila fuqara'ihim. (H.R. Al-Jama'ah).

Hadits terkait pendayagunaan zakat di atas juga menegaskan bahwa puasa dengan zakat fitrah adalah dua bagian yang menyatu, alias saling menyempurnakan. Ketika menjadi penghapus perbuatan yang sia-sia bagi yang berpuasa misalnya, tentu kita semua dipastikan sepanjang bulan Ramadhan ini ada saja kerja-kerja sia-sia yang dilakukan. Apalagi dalam susana kompetisi sepak bola, baik di benua Erap maupun Amerika, menonton bola adalah satu di antara kerja yang sia-sia, belum lagi para ibu-ibu yang doyan nonton sinetron, dangdut dan sejenisnya. Demikian pula, zakat sebagai pembersih dari kata-kata canda, bohong bahkan perkataan keji dan kotor, baik yang disengaja maupun tidak. Susah menemukan manusia yang tidak pernah mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat selama puasa, dan di sini zakat menjadi pembersihnya.

Zakat jangan hanya ditinjau dari segi materi semata, malainkan harus diteropong dari sudut dakwah. Maka, para amil yang menerima dan mendistribusikan zakat harus jeli melihat golongan yang layak mendapat bagian. Orang fakir miskin sekalipun kalau mereka tidak puasa tidak salat dan sama sekali tidak mau menjalankan perintah Allah bahkan membangkang, maka mereka tidak layak mendapatkan bagian zakat. Sebab fungsi zakat adalah agar golongan fakir miskin dari umat ini dapat memudahkan mereka menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Wallahu A'lam!

Ilham Kadir, Komisioner Baznas Enrekang; Panitia Musda -VII MUI Sulsel 2016.


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi