Hakikat Puasa




Tentu saja tujuan inti puasa adalah menjadikan pelakunya masuk dalam barisan orang-orang bertakwa (la'allakum tattakun), begitu pesan al-Qur'an (QS[2]: 183). Tetapi, tidak hanya sebatas itu, ada banyak manfaat dan hakikat lain yang menjadi jalan menuju ketakwaan itu sendiri.

Jika merujuk pada hadis Nabi, maka hakikat puasa adalah pengendalian diri (imtina') atau al-Imsak wal-kaffu, menahan dan membatasi gerak nafsu dari segala macam urusan syahwat, serta berusaha menjinakkan pengaruh negatif dari hawa nafsu itu, khususnya nafsu perut (syahwatul bathn) dan di bawah perut (syahwatul farj) dari terbit matahari hingga terbenam dengan niat ikhlas lillahi ta'ala.

Fungsi pengendalian diri lewat puasa telah ditegaskan oleh Nabi, Puasa itu pelindung, ash-shiyam junnah, demikian yang dinarasikan oleh Imam Nasa'I, jilid 4, nomor 166. Riwayat lain, Puasa itu adalah prisai yang dengannya hamba dilindungi dari azab neraka, dirawikan oleh At-Thabrani dalam "Al-Kabir" nomor 8387.

Berdasar pada dua hadis di atas, maka terang benderanglah tujuan dan hakikat puasa, menjadi benteng dan syetan beserta konco-konconya berusaha merobohkan benteng itu, di lain pihak jumlah setan dari jenis jin dan manusia jauh lebih banyak ketimbang manusia yang menjadi musuh syetan.

Nah, penjaga benteng itu adalah puasa, jika puasa mampu mementalkan serangan syetan yang bertubi-tubi, dari segala lini, serta berbagai senjata mutakhir, maka puasanya telah sampai pada titik hakikat. Jika sebaliknya, justru puasa yang menjadi jalan untuk bermasiat pada Allah, bertindak mubazir, menghambur-hamburkan harta tanpa tujuan, mengganngu ketenangan umum, merampas hak orang lain, maka sesungguhnya puasanya tidak memiliki nilai tambah dan hampa hakikat.

Suatu ketika Imam Hasan Al-Bashri ditanya, apakah syetan itu tidur? Andai syetan itu tidur maka pasti kami bisa beristirahat, jawabnya. Pernah pula seorang sahabat bertanya pada Rasulullah, apakah penduduk surga itu tidur? Nabi menjawab, tidur itu saudaranya mati sementara penduduk surga tidak ada yang mati. (Diriwayatkan Imam Thabrani dalam Al-Ausath, disahihkan oleh Al-Albani, 1087).

Begitu seriusnya syetan menjerumuskan kita sehingga mereka tidak ada istirahat, sementara kita tidak sadar bahwa syetan dan hulubalangnya bergentayangan dimana-mana dengan berbagai modus operandinya. Dan untuk menangkal para syetan, lawanlah dengan puasa. Wallahu A'lam!

Enrekang 8 Ramadhan 1437 H.


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena