Filosofi Zakat, Infaq, Shadaqah



Bulan Ramadhan tidak dapat dipisahkan dengan zakat, infaq, dan shadaqah. Kaum muslimin, sebagaimana disyariatkan dan dicontohkan Nabi adalah wajib hukumnya  mengeluarkan zakat fitrah di bulan penuh berkah ini.

Selain zakat, dikenal pula dengan istilah infaq dan shadaqah yang sering disingkat ZIS, lazimnya, para pambayar zakat (muzakki), baik fitrah maupun harta (maal), juga tidak lupa menyelipkan beberapa lembaran rupiah kepada Unit Pengumpul Zakat ('amil) dengan maksud sebagai infaq dan shadaqah. Untuk itu, akan lebih baik jika kita menelusuri makna ZIS secara bahasa dan istilah.

Zakat, dalam bahasa Arab "al-Zakaat" berarti suci, tumbuh, berkah, dan terpuji. Dari sudut istilah, zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan seorang muslim sebagai hak Allah dengan syarat dan rukun-rukun tertentu.

Menurut Sayyid Sabiq dalam "Fiqhus Sunnah", kata zakat digandengkan dengan salat sebanyak 82 kali, dan penetapan kewajibannya berdasar pada Al-Qur'an, Sunnah, dan Ijma'. Misalnya, firman Allah, khuz min amwalihin shadaqatan tuthahhiruhum wa tuzakkihim biha, wa shalli 'alaihim inna shalataka sakanun lahum. Ambillah sebagian harta mereka sebagai zakat untuk membersihkan dan menyucikan mereka, lalu doakanlah sesungguhnya doa kamu itu menentramkan mereka, (QS. At-Taubah: 103).

Para mufassir, dalam memaknai kata "tuthahhiruhum"  adalah membersihkan mereka dari sifat kikir dan rakus, serta sifat-sifat tercela lainnya. Sedangkan "watuzakkihim", bermakna menyucikan jiwa, selain menambah harta, mengangkat harkat, mengundang berkah hingga merasakan ketentraman dan kebahagian dunia akhirat bagi siapa pun yang berzakat.

Ada pun doa untuk muzakki menurut Imam Syafi'i sebagai berikut, "Semoga Allah melimpahkan pahala kepada harta yang engkau keluarkan dan semoga diberkahi harta Anda yang masih tersisa, [ajrakallahu fima a'thaeta wa baraka fima abqaeta]. Tentu saja doa dari ajaran Nabi tersebut sarat makna, sebab menegaskan bahwa harta yang dikeluarkan sebagai zakat menjadi ladang pahala sekaligus berguna untuk menjaga harta yang tersisa.

Tidak disangkal, kemungkinan besar, harta seseorang hilang keberkahan seperti terbakar, ditipu, dibawa lari, hingga menguap tanpa makna begitu saja disebabkan karena tidak keluarnya hak Allah Ta'ala dalam bentuk zakat.

Jika merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an, maka zakat tidak pernah dibedakan, baik fitrah maupun harta (maal), karena itu jika harta seorang sudah memenuhi syarat untuk dizakatkan, maka wajib hukumnya ditunaikan. Secara historis zakat telah diwajibkan bagi umat-umat terdahulu (misalnya QS. Maryam: 54-55; Al-Bayyenah: 5), sedangkan penetapan wajibnya zakat seawal kedatangan Islam di Makkah lalu dipertegas secara rinci pada tahun kedua Hijriah di Madinah.

Ini berbeda dengan infaq yang asal katanya dari "nafaqa" berarti sesuatu yang telah berlalu atau habis, baik dengan sebab dijual, rusak, atau karena meninggal. Dari segi istilah, infaq adalah harta yang dikeluarkan seorang muslim, baik sunnah maupun wajib, rela maupun terpaksa.

Golongan yang rela lazimnya mengeluarkan hartanya di jalan Allah atau membantu orang lain dengan ikhlas tanpa pamrih, sedangkan yang tidak rela umumnya berinfak karena terpaksa, termasuk dalam kasus ini adalah pajak yang harus dibayar seseorang untuk kepentingan negara, jika ia ikhlas akan mendatangkan pahala jika ia tidak ikhlas dan menggerutu maka harta dan pahalanya melayang. Ada pun infaq wajib, biasanya disandingkan dengan kewajiban seorang muslim yang awalnya hanya sunnah, seperti nazar. Bisa pula berupa denda (kaffarah) karena melanggar sumpah dan syariat lalu didenda dengan harta. Dalam Al-Qur'an, infaq juga kadang dimaknai sebagai harta yang wajib dikeluarkan atau istilah lain dari zakat. Kesamaan asasi antara zakat dan infaq adalah dua-duanya harus berbentuk harta materi. Al-Qur'an hanya mencantumkan kata infaq sekali (QS. Al-Isra': 100), perintah berinfaq sebanyak 5 kali, dan kata yang seakar dengan infaq seperti, anfaqa, yunfiqu, nafaqatan, lebih dari 70 kali.

Jika filosofi dasar zakat adalah mengamankan harta agar suci dan tidak diganggu oleh setan jin dan manusia seperti kena tipu, kecurian, atau dirampok, maka konsep infak untuk melipatgandakan harta dengan rumus-rumus tertentu. Antara borocan rumusan keuntungan infaq, sesuai janji Allah adalah: Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai berisi seratus butir, (QS. Al-Baqarah: 262).

Walaupun hukum infaq itu sunnah, tapi menjadi penyempurna bagi zakat karena keduanya saling memerlukan, ibarat dua sisi mata uang. Yang satu melipatgandakan sampai 700 kelipatan dan yang satu menjaga agar harta tetap dalam aman penuh berkah.

Sedangkan, shadaqah jika ditilik dari segi bahasa berarti jujur dan ikhlas, dalam istilah, shadaqah lebih luas dari zakat dan infaq, sebab ia bisa bermakna zakat maupun infaq, perbedaan mendasarnya bahwa shadaqah tidak mesti berupa materi, tetapi dapat pula berasal dari non-materi.

Misalnya, hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal ini: Setiap diri dianjurkan bershadaqah pada tiap hari. Shadaqaah itu banyak bentuknya. Mendamaikan dua orang bermusuhan dengan cara adil adalah shadaqah, menolong seseorang untuk menaiki binatang tunggangannya [kendaraan] adalah shadaqah, mengangkat barang-barang ke atas kendaraan adalah shadaqah, menyingkirkan rintangan seseorang untuk menunaikan salat adalah shadaqah.

Filosofi dasar dari zakat, infaq, shadaqah adalah bahwa agama Islam tidak hanya mengurusi ritual kasalehan pribadi akan tetapi sangat mewajibkan pemeluknya untuk beribadah dengan mendatangkan manfaat bagi orang banyak alias kesalehan sosial. Zakat adalah bagian penting penyebab tercapainya ketentraman di bumi, selain salat dan amar ma'ruf nahi munkar, (QS. Al-Hajj: 41), atau menjadi syarat bagi turunnya rahmat Allah, selain bertakwa dan beriman kepada ayat-ayat-Nya, (QS. Al-A'raf: 156).

Besarnya jumlah kaum muslimin Indonesia dengan potensi zakat dan infaq yang tinggi dibarengi dengan angka kemiskinan yang juga berkembang pesat menjadikan bangsa ini sebagai lahan dakwah untuk menyadarkan golongan berharta akan pentingnya zakat maupun infaq, di lain pihak harus menyantuni golongan fakir miskin yang permanen sambil melakukan pembinaan dan pemberdayaan bagi mereka yang punya potensi untuk hidup lebih layak dan sejahtera melalui pendayagunaan zakat seperti modal dan pengembangan uasaha. Dan, untuk menfasilitasi para muzakki dari golongan kaya dan berpenghasilan tetap kepada golongan yang membutuhkan zakat (mustahik), maka disinilah tugas pokok dan kewajiban lembaga negara bernama Baznas. Wallahu A'lam!
 
Tribun Timur, 17 Juni 2016.
Ilham Kadir,  Komisioner BAZNAS Enrekang;  Sekretaris Pemuda KPPSI Pusat.



Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi