Etape Terakhir Ramadhan




Oleh: Ilham Kadir, Peneliti MIUMI Pusat

Andai Ramadhan ini adalah kompetisi balapan, maka akan terbagi menjadi tiga etape. Pertama dan kedua telah terlewati, dan saat ini berada pada etape ketiga. Tentu peserta dalam etape pertama jumlahnya jauh lebih banyak, seiring berjalannya argo waktu, satu persatu peserta tereleminasi. Ada yang memang sejak mulai balapan langsung terjungkal dan keluar arena, ada yang bertahan hingga etape kedua dan tinggal sedikit yang masuk pada putaran terakhir.

Dalam pertandingan, detik-detik terakhir adalah yang menentukan, karena merupakan rangkaian dari dua putaran sebelumnya. Ramadhan pun begitu, sepuluh hari pertama dan kedua telah menghasilkan para pecundang yang tak mampu bersaing hingga akhir bulan, terlihatlah, masjid-masjid mulai kosong melompong yang sebelum ini penuh sesak. Dan berpindah ke pusat-pusat belanja yang disesaki setan jin dan manusia.

Maka, untuk menggapai kemenangan, hanya ada satu jalan, yaitu memanfaatkan waktu yang tersisa agar ramadhan tidak habis tanpa meninggalkan pemenang. Kita adalah calon pemenang (fa'izin) itu.            

Para ulama telah memberikan wejangan, agar hari-hari terakhir bulan penuh berkah itu menjadi ajang untuk meraih kemenangan yang melimpah. Apa kata mereka? Mari kita lihat.
                    
Berkata Ibnu Rajab, Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa waktunya kecuali sedikit, maka siapa saja yang sudah berbuat baik di dalamnya hendaklah ia sempurnakannya dan siapa saja yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia menyudahinya dengan yang  terbaik, [Ya, Ibadallah inna syahra ramadhan qad azama 'ala ar-rahil walam yabqa minhu illa qalil faman minkun ahsana fa'alaihi at-tamam, waman fartha falyukhtimhu bil-husna].

Al-Imam Ibnu Al-Jauziy rahimahullah menganalogikan, Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish ia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih  kemenangan, maka jangan sampai kuda lebih cerdas darimu. Karena sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya, jika  kamu termasuk dari yang tidak baik dalam penyambutan, maka semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan.            
                              
Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, Al-Ibrah bikamal an-nihayat la yanqushu al-bidayah. Yang akan menjadi ukuran adalah kesempurnaan akhir dari sebuah amal, dan bukan buruknya permulaan.            

Berkata Imam Hasan Al-Bashri, Perbaiki apa yang tersisa bagimu, maka Allah akan mengampuni atas apa yang telah lalu, maka manfaatkan sebaik-baiknya apa yang masih tersisa, karena kamu tidak tahu kapan rahmat Allah itu akan dapat diraih. Wallahu A'lam!

Enrekang 28 Juni 2016


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an